The True Guilt
Belakangan ini saya masih terus bergumul dan belajar untuk mengampuni.. Saya juga belajar bagaimana benar-benar serius menghadapi dosa-dosa saya, sekecil apapun dosa itu..
Beberapa hari yang lalu, saya tertegur sekaligus terberkati dengan khotbah dari salah satu hamba Tuhan di gereja saya.. Tema khotbahnya sama dengan judul posting saya kali ini.. "True Guilt".. Terjemahan sangat bebasnya adalah rasa bersalah yang sejati..
Terkadang kita merasa, ketika kita berdosa.. ketika kita berbuat salah kepada orang lain.. ketika kita melakukan hal yang tidak berkenan di hati orang lain.. sebagian besar dari kita (bahkan mungkin setiap dari kita) pasti akan merasa dan menyadari bahwa "Ya, saya telah berbuat dosa", atau "Ya, saya telah bersalah kepada orang lain", atau mungkin yang lebih ekstrimnya "Ya, saya telah berdosa terhadap Tuhan dan sesama saya".. Namun, muncul pertanyaan berikutnya, yang saat ini rasanya ingin saya tanyakan kepada setiap kita: Apakah kita benar-benar sadar, peka, dan mengerti serta mengetahui bahwa kita sudah berdosa? Bahwa kita sudah mengecewakan Tuhan dan sesama kita? Bahwa kita sudah menyalahi kebenaran?
Saya sendiri masih belajar untuk memiliki rasa bersalah yang sejati ini.. Dari apa yang saya alami dan berdasarkan "observasi" saya selama berbulan-bulan, true guilt ini akan muncul ketika:
1. Relasi kita dengan Tuhan sudah dekat, sehingga ketika kita jatuh ke dalam dosa, kita dimampukan untuk bertobat dan benar-benar mengakui dosa kita
2. Kita bisa tulus berempati dengan sesama kita, terutama dengan orang yang kita kecewakan atau kita sakiti. Tanpa rasa empati, pastinya akan sulit untuk dapat mengerti dan memahami akan perasaan orang lain dan juga akan perbuatan / tindakan yang sudah kita lakukan terhadap mereka, beserta dengan akibatnya
3. Tidak cukup empati, kita juga perlu kerendahan hati. Ketika kita mengaku bahwa kita sudah berbuat dosa atau bersalah, namun jauh di lubuk hati kita yang terdalam kita masih merasa bahwa "Ah, saya tidak sepenuhnya bersalah.. Toh perbuatan saya masih dapat ditolerir oleh beberapa orang.. Tidak semua pihak mempersalahkan saya.. Lagian orang ini juga akan memaafkan saya..". Jangan pernah menghalalkan apa yang jelas-jelas salah! Ketika pikiran dan hati kita masih beku dengan hal-hal tersebut, maka segala pengakuan dan permintaan maaf kita tidak akan ada artinya.. Tidak ada kerendahan hati di dalamnya.. yang ada hanya kebebalan yang ditempa terus-menerus, sehingga bukan tidak mungkin akhirnya kita bisa kebal terhadap dosa, bahkan terhadap suara Tuhan!
Saya rasa masih banyak hal-hal yang mendasari true guilt di dalam kehidupan kita.. yang sangat ingin saya garis bawahi adalah (sekalian tambah bold dan italic aja ya): sinkronasikan antara ucapan dan perbuatan Anda!
Ya, kita sama-sama tahu bahwa kita manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan.. Namun, saya percaya dengan kalimat berikut ini: we can't be sinless, but we can sin less.. Ya, kita memang manusia berdosa, namun kita bisa semakin hari semakin serupa dengan Kristus.. Kurang cukupkah anugrah keselamatan yang Allah berikan melalui anakNya Yesus Kristus? Sebagai orang percaya yang beriman dan sudah diselamatkan, sudah selayaknya ucapan kita mencerminkan perbuatan / tingkah laku kita, begitu pun sebaliknya.. Kita tidak sama dengan dunia ini.. Kita sudah "ditarik keluar dan dikuduskan", oleh karena itu standar hidup kita pun tidak dapat disamakan dengan dunia.. Jika kita terus-menerus berusaha menyamakan diri kita dengan dunia, lalu apalah artinya pengorbanan Tuhan Yesus selama ini??? Ada baiknya jika ya, katakanlah ya.. Jika A maka jadikanlah itu A, jangan B, C, D, A-, dan lainnya.. (Wahyu 3:15-20)
Saya sangat berharap, anak-anak Tuhan pada zaman ini, terutama generasi muda, mempunyai integritas sebagai pengikut Kristus, bukan pengikut dunia.. Sering sekali diucapkan, mengikut Tuhan Yesus itu tidak mudah.. Ya, dan itu sangat amat benar! Pikul salib, sangkal diri, dan ikutilah Dia, Sang jalan dan kebenaran dan hidup..
Semoga semakin hari, kita semakin peka akan suara Tuhan, sehingga kita pun semakin anti dengan dosa-dosa kita.. Jikalau pun kita jatuh, kita akan sebenar-benarnya sadar dan mengakui segalanya dihadapan Tuhan, dan bertobat.. Pertobatan yang sejati..
With God we do our best!
PS: ijin ngutip khotbahnya yaaa ko Okky :D selamat belajar di Scotland, God bless you and your family! see you next year! :)
Beberapa hari yang lalu, saya tertegur sekaligus terberkati dengan khotbah dari salah satu hamba Tuhan di gereja saya.. Tema khotbahnya sama dengan judul posting saya kali ini.. "True Guilt".. Terjemahan sangat bebasnya adalah rasa bersalah yang sejati..
Terkadang kita merasa, ketika kita berdosa.. ketika kita berbuat salah kepada orang lain.. ketika kita melakukan hal yang tidak berkenan di hati orang lain.. sebagian besar dari kita (bahkan mungkin setiap dari kita) pasti akan merasa dan menyadari bahwa "Ya, saya telah berbuat dosa", atau "Ya, saya telah bersalah kepada orang lain", atau mungkin yang lebih ekstrimnya "Ya, saya telah berdosa terhadap Tuhan dan sesama saya".. Namun, muncul pertanyaan berikutnya, yang saat ini rasanya ingin saya tanyakan kepada setiap kita: Apakah kita benar-benar sadar, peka, dan mengerti serta mengetahui bahwa kita sudah berdosa? Bahwa kita sudah mengecewakan Tuhan dan sesama kita? Bahwa kita sudah menyalahi kebenaran?
Saya sendiri masih belajar untuk memiliki rasa bersalah yang sejati ini.. Dari apa yang saya alami dan berdasarkan "observasi" saya selama berbulan-bulan, true guilt ini akan muncul ketika:
1. Relasi kita dengan Tuhan sudah dekat, sehingga ketika kita jatuh ke dalam dosa, kita dimampukan untuk bertobat dan benar-benar mengakui dosa kita
2. Kita bisa tulus berempati dengan sesama kita, terutama dengan orang yang kita kecewakan atau kita sakiti. Tanpa rasa empati, pastinya akan sulit untuk dapat mengerti dan memahami akan perasaan orang lain dan juga akan perbuatan / tindakan yang sudah kita lakukan terhadap mereka, beserta dengan akibatnya
3. Tidak cukup empati, kita juga perlu kerendahan hati. Ketika kita mengaku bahwa kita sudah berbuat dosa atau bersalah, namun jauh di lubuk hati kita yang terdalam kita masih merasa bahwa "Ah, saya tidak sepenuhnya bersalah.. Toh perbuatan saya masih dapat ditolerir oleh beberapa orang.. Tidak semua pihak mempersalahkan saya.. Lagian orang ini juga akan memaafkan saya..". Jangan pernah menghalalkan apa yang jelas-jelas salah! Ketika pikiran dan hati kita masih beku dengan hal-hal tersebut, maka segala pengakuan dan permintaan maaf kita tidak akan ada artinya.. Tidak ada kerendahan hati di dalamnya.. yang ada hanya kebebalan yang ditempa terus-menerus, sehingga bukan tidak mungkin akhirnya kita bisa kebal terhadap dosa, bahkan terhadap suara Tuhan!
Saya rasa masih banyak hal-hal yang mendasari true guilt di dalam kehidupan kita.. yang sangat ingin saya garis bawahi adalah (sekalian tambah bold dan italic aja ya): sinkronasikan antara ucapan dan perbuatan Anda!
Ya, kita sama-sama tahu bahwa kita manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan.. Namun, saya percaya dengan kalimat berikut ini: we can't be sinless, but we can sin less.. Ya, kita memang manusia berdosa, namun kita bisa semakin hari semakin serupa dengan Kristus.. Kurang cukupkah anugrah keselamatan yang Allah berikan melalui anakNya Yesus Kristus? Sebagai orang percaya yang beriman dan sudah diselamatkan, sudah selayaknya ucapan kita mencerminkan perbuatan / tingkah laku kita, begitu pun sebaliknya.. Kita tidak sama dengan dunia ini.. Kita sudah "ditarik keluar dan dikuduskan", oleh karena itu standar hidup kita pun tidak dapat disamakan dengan dunia.. Jika kita terus-menerus berusaha menyamakan diri kita dengan dunia, lalu apalah artinya pengorbanan Tuhan Yesus selama ini??? Ada baiknya jika ya, katakanlah ya.. Jika A maka jadikanlah itu A, jangan B, C, D, A-, dan lainnya.. (Wahyu 3:15-20)
Saya sangat berharap, anak-anak Tuhan pada zaman ini, terutama generasi muda, mempunyai integritas sebagai pengikut Kristus, bukan pengikut dunia.. Sering sekali diucapkan, mengikut Tuhan Yesus itu tidak mudah.. Ya, dan itu sangat amat benar! Pikul salib, sangkal diri, dan ikutilah Dia, Sang jalan dan kebenaran dan hidup..
Semoga semakin hari, kita semakin peka akan suara Tuhan, sehingga kita pun semakin anti dengan dosa-dosa kita.. Jikalau pun kita jatuh, kita akan sebenar-benarnya sadar dan mengakui segalanya dihadapan Tuhan, dan bertobat.. Pertobatan yang sejati..
With God we do our best!
PS: ijin ngutip khotbahnya yaaa ko Okky :D selamat belajar di Scotland, God bless you and your family! see you next year! :)

Komentar
Posting Komentar