Apa yang terlewatkan dari Natal? Sebuah refleksi.
Belakangan ini (kalau tidak salah dengar dan baca), ada beberapa berita mengenai sweeping dekorasi hari Natal. Entah apa alasannya (dan saya juga tidak sedang membahas ini), namun mungkin ada beberapa hal mengenai hari Natal yang mulai terlupakan, atau bahkan sama sekali tidak diketahui oleh dunia. Ya, anggaplah ini sebagai refleksi pribadi menjelang hari Natal.
Pertama, Natal tidak pernah berkaitan dengan Sinterklas, kereta seluncur dengan rusa-rusa terbang, pohon cemara yang didekorasi dengan silaunya, atau hal-hal lain yang terkesan "mengada-ada" dan berlebihan (atau jika berkenan, saya memakai kata "boros"). Setahu saya, Sinterklas hanyalah figur fiktif, yang mungkin dibuat untuk memeriahkan hari Natal, dengan membawa hadiah-hadiah idaman bagi setiap orang, khususnya anak-anak. Jadi, ya, practically kalau ada yang terganggu dengan Sinterklas atau dekorasi-dekorasi Natal yang terkesan boros atau mewah, saya sih ga masalah, jika hal-hal seperti itu dihilangkan.
Kedua, Natal yang pertama sangat jauh dari kesan mewah, apalagi hadiah-hadiah dan figur Sinterklas. Natal pertama diwarnai nuansa mencekam: pembunuhan bayi besar-besaran dan amarah dari seorang raja yang haus kuasa. Itulah Natal pertama. Tidak ada Sinterklas. Tidak ada pohon besar dengan dekorasi kinclong. Tidak ada hadiah-hadiah idaman. Namun, Natal pertama tidak hanya tentang suasana duka dan mencekam. Berita Natal yang pertama adalah sebuah perjumpaan misterius antara kekekalan dengan kefanaan. Pada Natal pertama, kekekalan datang dan membuat dunia menjadi rumahnya. Yang Kekal itu datang dan berdiam di tengah dunia tanpa sambutan yang ramai dari manusia. Orang-orang yang menyambutnya hanya ada dua kaum, yaitu para gembala domba dan tiga orang bijak. Para gembala menyambut-Nya dengan hati mereka yang bersukacita. Para orang bijak menyambut-Nya dengan memberikan tiga persembahan yang terbaik saat itu.
Siapa sebenarnya "Yang Kekal," yang datang ke dunia di malam Natal yang pertama? Bukankah Yang Kekal itulah Mesias, Kristus, Sang Juruselamat dunia. Di dalam kesederhanaan manusia, Ia datang. Namun, di saat yang sama surga bersukacita, menyatakan kemuliaan Allah! Sungguh, sebuah mysterium tremendum et fascinans. Itulah Natal pertama. When The Eternal touches history.
Di akhir refleksi ini, saya mencoba untuk menawarkan sebuah makna yang subversif mengenai kata "boros" dan "mewah." Memang di awal saya telah mengatakan bahwa Natal tidak pernah berkaitan dengan hal-hal yang memberi kesan boros dan mewah. Namun, apa yang dilakukan oleh Yang Kekal, ketika Ia datang dan berdiam di tengah dunia, sesungguhnya adalah sebuah tindakan yang sangat amat boros! Mengapa saya mengatakan ini? Sebab sejatinya Ia tidak perlu melakukan itu! Apalagi sampai harus hampir dibunuh dan menimbulkan kemarahan seorang penguasa yang haus kuasa. Namun, Ia datang ke dunia dengan segala resiko yang harus Ia tanggung, semata-mata karena Ia terlalu mengasihi dunia ini. Hatinya teriris melihat keadaan manusia di dunia yang semakin lama semakin terpuruk di dalam dosa. Ia gelisah di atas tahta-Nya, dan tidak bisa tidak, Ia akhirnya turun ke dalam dunia, karena kasih-Nya. Itulah Natal, yaitu sebuah peristiwa yang justru identik bukan dengan pemborosan materi, dekorasi, atau atraksi, namun sebuah pemborosan kasih dari Yang Ilahi. Itulah Natal.
Selamat menyambut Natal. Selamat menyambut borosnya kasih Allah di dalam kesederhanaan.
Malang, 19 Desember 2016
Misael Prawira.

Aku baru liat2 blogmu brooo.. Saya banyak diberkati.. Kata2mu bagus dan dalam.. Saya belajar banyak dari tulisanmu.. Teruskan menulis broo
BalasHapusThank you bro kris..
Hapus