Sorrows as a pulpit
"When Christ calls a man, he bids him come and die" - Dietrich Bonhoeffer.
Minggu-minggu belakangan ini, sebagai seorang Kristen hati saya diaduk-aduk oleh dua peristiwa yang cukup happening di Indonesia, yaitu kejadian yang menyangkut Bapak Ahok dan sebuah ibadah kebangunan rohani di Bandung. Saya tidak akan membahas mengenai apa-apa saja yang terjadi di dalam kedua peristiwa ini. Saya hanya berusaha berkontribusi kecil-kecilan bagi saudara-saudara seiman di Indonesia. Melalui kontribusi minim ini, saya rindu mengajak setiap umat percaya untuk berefleksi, sebagaimana Pak Ahok yang lebih dulu merefleksikan perkataan-perkataan yang pernah diucapkannya (yang mungkin sudah menyakiti hati banyak orang) dan Pak Stephen Tong yang juga lebih dulu merefleksikan kesiapan panitia dari ibadah besar yang tetap terlaksana (yang mungkin ada kesalahan persiapan sehingga mengundang ketidaksetujuan dari pihak lain).
Jujur, ketika melihat kedua peristiwa ini terjadi, ada sebuah keinginan dari dalam diri saya untuk bersuara dengan lantang memberikan pembelaan. Namun pagi tadi, ketika sejenak saya berusaha bertanya pada Tuhan di dalam doa pribadi saya mengenai kedua peristiwa ini, Tuhan menjawab saya dengan menggemakan firman-Nya yang jelas berbicara mengenai panggilan seorang Kristen, yaitu seorang murid Kristus.
Panggilan menjadi seorang Kristen adalah sebuah panggilan untuk menjadi murid, bukan untuk menjadi fans. Kristus tidak membutuhkan sekumpulan fans yang hanya menginginkan sebakul ikan dan roti, tetapi enggan untuk meninggalkan segala sesuatu. Kristus tidak membutuhkan sekumpulan fans yang mendaftarkan segudang perbuatan baik, tetapi tidak mengasihi-Nya. Kristus juga sebenarnya tidak memerlukan seorang murid pun! (nah lho). Namun, dengan kasih dan anugerah-Nya, Ia merindukan setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk menjadi murid; tidak tanggung-tanggung: seorang murid yang radikal! Radikal untuk mengasihi, sekalipun penderitaan datang bertubi-tubi. Radikal untuk memberikan roti, ketika dilempari batu. Radikal untuk menegakkan kebenaran, sekalipun berada di tengah kefasikkan. Karakter radikal ini hadir di dalam diri seorang murid Kristus bukan karena ia mampu--secara manusia--melainkan karena iman dan ketaatan-Nya kepada Kristus. Keradikalan murid Kristus adalah sebuah paradoks, karena sebuah karakter yang terkesan kuat justru lahir dari sebuah kehancuran hati di hadapan Kristus, dan Kristus hanya membutuhkan hati yang hancur untuk Dia isi dan bentuk kembali, menjadi hati yang radikal. Sebuah hati yang baru, yang dapat berkata: "Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau," "Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan," "Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus."
Bagi murid Kristus, penderitaan tidak identik dengan ketakutan, karena murid Kristus tidak takut kepada "mereka yang dapat membunuh tubuh," namun justru takut kepada "Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka." Penderitaan adalah jantung dari kekristenan: "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat," "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia," "Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapai kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." Sulit? Jelas ya, tetapi inilah harga seorang murid Kristus. Cepat atau lambat, penderitaan akan kita alami. Namun, kita tidak sendiri, karena Kristus adalah Allah yang Imanuel. Ia berjanji akan selalu menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Ia tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya, bahkan Ia dengan setia mengingatkan panggilan-Nya: "Ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Bagi murid Kristus, penderitaan bersifat subversif. Makna dari penderitaan Kristus menjungkirbalikkan makna dari penderitaan duniawi. Kristus membuat penderitaan-Nya di kayu salib menjadi sebuah mimbar agung, dan hal yang sama Ia tuntut kepada murid-murid-Nya, dari generasi ke generasi. Sulit? Lagi-lagi jawabannya adalah ya. Namun, inilah jati diri seorang murid Kristus, dan saya menuliskan refleksi ini sebagai sebuah ajakan untuk berbagian di dalam "penderitaan yang subversif" ini. Tujuan dan hadiah saya bukan keberhasilan, tetapi Kristus.
Untuk menutup refleksi ini, saya teringat akan pengalaman rohani dari dua murid Kristus yang mendahului kita menjalani "penderitaan yang subversif." Pertama adalah Rasul Petrus. Menurut tradisi gereja mula-mula, di masa tuanya Petrus sempat mencicipi penganiayaan yang hebat dari pemerintahan Romawi. Ia sempat dilarikan oleh jemaat untuk keluar dari Yerusalem. Namun, di tengah pelariannya, Kristus menampakkan diri kepadanya. Sontak Petrus bertanya: "Quo vadis, Domine? Where are you going, Lord? Tuhan, mau ke manakah Engkau?" Kristus memberikan sebuah jawaban sekaligus ajakan bagi Petrus: "Aku sedang menuju ke Yerusalem untuk disalibkan lagi." Tanpa berpikir panjang, Petrus kembali ke Yerusalem untuk meneruskan "penderitaan yang subversif" sebagai murid Kristus, yang ia bayar dengan nyawanya. Mahkota kemuliaan yang tidak akan layu tersedia baginya. Kedua adalah Rasul Paulus. Salah satu mentor rohani saya sempat menulis sebuah refleksi dari sebuah lukisan Paulus, yang memegang sebuah buku dan pedang. Saya tidak akan membahas apa yang dituliskan oleh mentor saya, namun saya mencoba merefleksikan lukisan tersebut secara pribadi. Buku dan pedang adalah dua benda yang identik dengan kehidupan Paulus. Sebelum ia mengenal Kristus, Paulus adalah seorang teolog Yahudi yang sangat pintar. Taurat ia lahap sampai habis. Ia juga adalah seorang penganiaya jemaat Kristus. Setelah ia mengenal Kristus dan menjadi murid yang radikal, pelayanan Paulus tidak lepas dari Injil Kristus, yaitu firman yang bagaikan pedang bermata dua, yang menembus sampai kepada bagian terdalam dari keberadaan seorang manusia. Karena injil inilah, Paulus pun membayarnya dengan kematian dengan pedang. Menurut tradisi gereja mula-mula, ia dipenggal di Roma. Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan.
Penderitaan yang subversif. Sulit? Ya. Mau menjalaninya?
Malang, 7 Desember 2016
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar