A Magnificent Defeat (kekalahan yang menakjubkan)
Beberapa hari ini--dan mungkin untuk beberapa waktu ke depan--Indonesia (dan sangat mungkin dunia) dikejutkan oleh "keputusan" seorang Basuki Tjahaja Purnama yang membatalkan pengajuan banding atas vonis hukum yang dijatuhkan kepadanya. Bapak Ahok memakai "sisa-sisa" hak demokrasinya untuk tidak menyusahkan orang lain. Sebuah tindakan yang berbanding terbalik dengan oknum-oknum lain yang berbangga dengan "hak demokrasi" mereka untuk membela diri (ingat, ini tidak lagi menyangkut agama atau suku tertentu; ini sudah bersifat personal, oleh karena itu saya memakai kata oknum). Hal-hal teknis mengenai berita ini dapat dibaca di berbagai media cetak dan digital. Namun, kali ini saya tertarik untuk mencoba menyelami sesuatu yang di luar nalar manusia terkait dengan keputusan ini.
Melihat rekam jejak Pak Ahok selama ini, saya kira intervensi ilahi tidak dapat dilepaskan dari dirinya, yang mengakui bahwa segala sesuatu yang terjadi ada di tangan Allah yang berdaulat. Ya, termasuk ketika dirinya menjadi pelayan rakyat, baik di balai kota maupun di dalam penjara. Pak Ahok menyadari benar bahwa ia ada di bawah kedaulatan Sang Pencipta. Dia kenal siapa Penciptanya, dia kenal siapa dirinya, dan dia tahu apa yang layak bagi seorang ciptaan seperti dirinya. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan oknum-oknum yang disadari atau tidak telah menuhankan diri mereka, sebagaimana yang dijelaskan dengan gamblang oleh seorang tokoh agama di Amerika Serikat (lihat: https://seword.com/sosbud/pembelaan-tokoh-muslim-amerika-terhadap-ahok-dan-flowchart-nya-yang-menohok-kaum-sumbu-pendek/).
Dengan sikap yang demikian, Pak Ahok dapat menggenapi apa yang pernah ia baca dan renungkan di dalam Alkitab:
"Tetapi bekerjalah demi kesejahteraan dari kota di mana aku menempatkanmu sebagai orang asing, dan berdoalah kepada Tuhan demi kota tersebut, karena kesejahteraan kota itu adalah kesejahteraanmu juga."
Perhatikan bagaimana Pak Ahok yang adalah "orang asing" (WNI keturunan Tionghoa dan beragama Kristen di tengah mayoritas WNI non-keturunan Tionghoa dan beragama lain) menjadi pelayan rakyat dan menempatkan kesejahteraan rakyat di atas kesejahteraannya, karena ia yakin bahwa ketika rakyat sejahtera dirinya juga akan sejahtera, bukan sebaliknya. Konsep ini pun yang ia bawa ketika ia mencabut hak bandingnya terhadap vonis hukum yang ia terima. Sebuah keputusan yang sangat tidak mudah, namun saya yakin inilah yang ia pelajari di dalam penjara bersama dengan Sang Guru dan Pemimpin Agung. Ia sadar sepenuhnya bahwa dia bukan guru dan pemimpin. Ia hanya pelayan. Ia harus taat kepada Tuannya sekalipun sulit; sekalipun ketaatannya menghadirkan hal yang tidak baik baginya, namun ia paham betul bahwa ketaatannya akan mendatangkan damai sejahtera ilahi bagi negara yang ia layani dan cintai. Di dalam ketaatannya, Pak Ahok sudah hidup sebagai orang merdeka, sebagaimana yang pernah ia baca dan renungkan:
"Hiduplah sebagai orang-orang yang merdeka, yang tidak menggunakan anugerah kemerdekaan untuk menutupi kejahatan, namun untuk hidup sebagai pelayan-pelayan Allah. Hormati semua orang. Kasihi saudara-saudaramu. Takutlah akan Allah. Hormati pemerintah."
Hal ini sampai disadari oleh seorang politikus digital, yang menyatakan: "Meski sebagian makhluk menganggap kelompok anda tidak berperang memerdekakan negara ini, china dan kafir tak ada gunanya di Indonesia, tapi sekarang anda menunjukkan betapa anda mencintai negeri ini tanpa syarat. Mampu menghargai hukum dan aturan di Indonesia. Tak pernah mengeluh dikriminalisasi. . . Tetapi sekarang saya sadar, bahwa mencintai negeri ini bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Cukup taat pada aturan dan tidak membuat repot negeri ini, kemudian menerima apapun segala bentuk perlakuan negerimu (https://seword.com/politik/seorang-china-dan-kafir-yang-sangat-menghormati-indonesia/)."
Ketaatan Pak Ahok kepada Penciptanya berbuah sebuah kekalahan yang menakjubkan, a magnificent defeat. Bukan sebuah tindakan heroik agar diapresiasi dan dibela oleh manusia, melainkan sebuah tindakan iman yang terbalik menurut akal sehat manusia. Sebuah pengorbanan yang tidak masuk akal. Sebuah tindakan yang mengingatkan rekan-rekannya akan apa yang pernah diajarkan oleh Sang Guru Agung:
"Kau diajarkan 'Jangan membunuh'? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ketika engkau membenci orang lain di dalam hati dan pikiranmu, maka engkau sudah membunuhnya," "Kau diajarkan 'Jangan berzinah'? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ketika engkau memandang seorang lawan jenis dengan berlandaskan hawa nafsumu, maka engkau sudah berzinah di dalam hati dan pikiranmu," "Jika seorang ingin menghakimimu dan mengambil bajumu, berikan juga jubahmu," "Berbahagialah mereka yang miskin dan bahkan disiksa karena mempertahankan kebenaran, karena mereka akan memiliki Kerajaan Surga," "Dan janganlah takut kepada mereka yang dapat membunuh raga namun tak dapat membunuh jiwa. Takutlah kepada Dia yang dapat membinasakan jiwa dan raga ke dalam neraka."
Ajaran-ajaran mengenai "Kerajaan yang terbalik," sebuah kerajaan yang bukan dari dunia ini. Ajaran yang memberikan iman kepada Pak Ahok, bahwa kebenaran dan keadilan tertinggi bukan berasal dari dunia, melainkan dari Allah.
Dengan iman yang dianugerahkan kepadanya, Pak Ahok yakin bahwa ia tidak mengalah kepada manusia, namun kepada egonya sendiri. Ia boleh pincang, namun ia tetap dapat berjalan menyongsong fajar bersama Sang Gembala Agung. Ia boleh terluka, namun ia memiliki Sang Dokter Bedah yang sudah terlebih dulu terluka baginya. Ia boleh berada di dalam penjara, namun cintanya kepada Indonesia dan setiap rakyatnya adalah wujud dari cintanya kepada Sang Penebus. Ia hanya akan bermegah di dalam kelemahannya, karena di dalam kelemahannya kuasa Sang Penebus terwujud sempurna, sebagaimana kesempurnaan karya-Nya yang ditandai dengan sebuah frasa:
"Tetelestai; it is finished; Sudah genap; Sudah selesai."
Bandung, 24 Mei 2017
Dari seorang manusia tebusan, yang pernah mengalami a magnificent defeat dan rindu untuk selalu mengalaminya.
Sumber-sumber lain:
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170523081043-12-216586/keluarga-ahok-ungkap-alasan-cabut-banding-hari-ini/
http://www.frederickbuechner.com/new-page/
http://www.frederickbuechner.com/new-page/

Komentar
Posting Komentar