Dari Final NBA 2015-2016, Final Piala Eropa 2016, sampai Pokemon Go - "Keinginan" untuk "menangkap semua"
Sampai medio 2016, saya mendapati tiga peristiwa global yang cukup menarik. Pertama adalah kesuksesan klub basket Cleveland Cavaliers untuk menjadi juara liga bola basket NBA. Setelah beberapa kali masuk babak final dan menjadi yang kedua, akhirnya di musim kemarin LeBron James dan kawanan pasukan Cavaliers lainnya berhasil membawa Larry O'Brien Trophy ke kota Cleveland. Kedua adalah munculnya nama Tim Nasional (Timnas) Portugal sebagai kampiun dari kompetisi Piala Eropa 2016. Setelah sempat gagal di final pertama mereka (tahun 2004), 12 tahun kemudian mereka kembali ke babak yang sama dengan hasil yang berbeda, yaitu pengalungan medali emas dan pengangkatan trofi juara.
Ada dua kesamaan dari kedua peristiwa ini. Pertama, kedua tim sangat berhasrat untuk memenangi kejuaraan yang mereka ikuti. Cavaliers diisi oleh pemain-pemain yang lapar gelar juara. Sang bintang tim, yaitu LeBron James sudah pernah memenangi final NBA bersama Miami Heat, tetapi Cleveland Cavaliers adalah pelabuhan pertamanya yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Ia bahkan menyatakan bahwa ia kembali membela Cavaliers dengan satu tujuan, yaitu memberikan trofi juara. Pemain lain, seperti Richard Jefferson adalah veteran yang sudah beberapa kali masuk final NBA, namun nir gelar. Kedua, meskipun dihiasi beberapa pemain bintang, kemenangan kedua tim ini bisa dibilang sebuah kejutan, mungkin frasa lebaynya adalah "the greatest upset in 2016." Mengapa kejutan? Di arena NBA musim 2015-2016, klub Golden State Warriors membuat banyak rekor, baik rekor tim maupun individu. Tim yang menjadi kampiun NBA musim 2014-2015 ini seakan sangat siap untuk menjadi back-to-back champion. Dengan rekor demi rekor yang mereka buat dan komposisi tim yang mumpuni, kemungkinan ini jelas sangat besar, dan saya yakin mereka pasti mengingini hal itu terjadi. Namun, yang terjadi adalah: kerja keras (dari Cleveland Cavaliers, terkhusus LeBron James) yang berbuah manis, dibandingkan sekumpulan rekor. Hal yang sama terjadi di final Piala Eropa 2016. Sekadar mengingat sedikit, timnas Portugal bermain selama (kurang lebih) 95 menit tanpa sang bintang, Cristiano Ronaldo. Di menit-menit awal ia sudah ditarik keluar karena cedera. Gol tunggal (gol kemenangan) pun dicetak oleh seorang pemain bernama Eder, yang kalah ganteng dengan CR7, yang tidak terlalu terkenal, yang jumlah bermain dan golnya di klub pun jauh dibandingkan CR7; sampai-sampai salah satu media menjulukinya "si buruk rupa (yang) berubah jadi cantik." Namun, sebagai satu tim, Portugal bekerja keras tidak hanya sampai Eder mencetak gol, tetapi sampai detik akhir dari partai final tersebut. Lagi-lagi, kerja keras berbuah manis.
Lalu, bagaimana dengan peristiwa ketiga? Ya, munculnya permainan Pokemon Go memang berbeda dengan dua major sports event yang saya kisahkan ulang sebelumnya. Walaupun mungkin Pokemon Go bisa dikategorikan sebagai "olahraga," sesungguhnya permainan ini mengusung slogan yang sudah puluhan tahun digemakan, yaitu "gotta catch 'em all!" alias "harus tangkep semuanya!" Saya tidak akan mendebatkan pro-kontra permainan ini, namun saya tertarik akan filosofi yang ditawarkan oleh permainan ini, yang tertuang di dalam slogannya. Dengan filosofi "gotta catch 'em all!" Pokemon Go membuat setiap pemain dilingkupi rasa excited sekaligus penasaran, sekaligus keinginan dan motivasi yang besar untuk "tangkappp semua (pokemon)!!!" Dengan filosofinya permainan ini membuat gamers yang kangen Pokemon bisa melepas rindu, yang belum pernah main pun jadi mau coba (dan keterusan), atau mungkin yang malas olahraga jadi punya "media berolahraga" baru. Dengan filosofinya permainan ini bisa dianggap berhasil menarik manusia dari berbagai kalangan dan usia (tidak hanya gamers dan generasi muda) untuk masuk ke dalam dunia Pokemon. Padahal di saat yang sama ya mereka kan hidup di dunia nyata. Pokemon Go berhasil "menangkap semua (orang)" agar mereka bisa "menangkap semua (pokemon)." Pokemon Go berhasil menyulut keinginan dan kerja keras manusia, "hanya" melalui sebuah game.
Hasrat, keinginan, dan kerja keras sangat lekat dengan kehidupan kita di dunia yang fana ini. Ketiga hal ini menghiasi berbagai dimensi kehidupan kita, baik di pekerjaan maupun di waktu kita bermain game. Tiga refleksi sederhana dari catatan kali ini: Sebagai murid Kristus, adakah saya berhasrat akan Kristus, berkeinginan untuk menjadi serupa Kristus, dan bekerja keras bagi spiritualitas yang sehat? Tiga refleksi yang tidak mudah, menuntut pengorbanan, tetapi harus dilakukan. Jika kita bisa "bayar harga" untuk dunia dan buah-buahnya yang fana, mengapa kita tidak "bayar harga" untuk Kristus dan kehidupan kekal? Oh Tuhan, tolonglah kami yang lemah dalam merindukan-Mu, yang terbatas dalam mendisplinkan kerohanian kami. Inilah doa kami. Amin.
Tangsel, 13 Juli 2016
Misael Prawira.

Nice reflection Bro Misael. Sy setuju dengan reviewnya. Selamat tuk menulis terus. Tqu atas berkat dr tulisannya. Blessings
BalasHapusThank you ko Chris.
BalasHapus