Bahasa cintanya Tuhan

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." - Roma 5:8.


Mengawali bulan Juli 2016, saya teringat akan perenungan saya mengenai kasih Tuhan sampai saat ini bagi saya. Entah bagaimana, di dalam masa praktik pelayanan dua bulan saya kali ini, saya berulang kali mendapat kesempatan merefleksikan akan kasih Tuhan bagi saya.

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk refreshing dengan melihat sebuah film berjudul "Merry Riana." Saya tidak akan membahas mengenai siapa Ibu Merry ini dan bagaimana jalan cerita film ini. Namun, pandangan mata dan pikiran saya seketika terpana pada sebuah adegan. Di dalam adegan tersebut, seorang pemuda bernama Alva menunjukkan sebuah buku kepada Merry; sebuah buku yang berjudul "s.h.m.i.l.y." Setelah selesai menyaksikan film tersebut, saya memikirkan judul buku tersebut. FYI, s.h.m.i.l.y memiliki kepanjangan "see how much i love you." Namun, hati dan pikiran saya seraya berimajinasi, membayangkan ketika kalimat tersebut dikatakan oleh Tuhan saya, Yesus Kristus.

Sebuah lagu himne klasik melantunkan betapa hebatnya kasih Tuhan: "Kasih Allah tak terduga, tinggi, dalam, dan luas." Bahkan di dalam surat kepada jemaat Efesus, melalui doanya Paulus menyatakan harapannya agar jemaat Efesus, 
"dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan." 
Dan bukankah dari zaman dahulu kala Yeremia sudah menyerukan firman Tuhan: 
"Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN."

Di saat-saat itulah, di waktu-waktu perenungan itu saya kembali dibuat kagum oleh kasih Allah, yang Ia nyatakan di dalam Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Kasih yang sekalipun saya tidak setia, namun Ia tetap setia, karena Ia tidak dapat mengingkari diri-Nya. Kasih yang sekalipun saya berpaling, berbelok, memutar balik, menyimpang, tetapi Ia tetap memanggil saya dengan lembut untuk kembali kepada-Nya. Kasih yang sekalipun saya jatuh, namun Ia tidak membiarkan saya tergeletak, karena tangan-Nya menopang saya dan mengangkat saya kembali. Kasih yang memelihara hidup saya sampai saat ini. Kasih yang memanggil saya untuk melayani Raja segala raja untuk seumur hidup saya. Satu-satunya kasih yang sejati, yang tidak pernah dan tidak akan bisa ditawarkan oleh dunia ini, dalam bentuk apapun. Bayangkan jika kita merenungkan kasih yang seperti ini, apalagi merenungkan Sang Pemberi Kasih. Di sinilah saya pikir saya mengalami sebuah momen, yang disebut oleh Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum et fascinans. Sebuah momen yang misterius, menarik kekaguman, ketakjuban; momen yang mempesona! Dan saya yakin Tuhan tidak hanya kita berhenti di dalam momen merasakan dan mengalami kasih-Nya, tetapi juga melihat secara nyata, dan itu sudah Dia lakukan di atas kayu salib, sambil berkata: "See how much I love you..." Tangannya yang terpaku itu terbuka lebar untuk setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Tubuh-Nya dihancurkan untuk menanggung setiap dosa manusia, dari yang paling ringan sampai yang paling kotor dan hina. Kepala-Nya bermahkotakan duri, karena mahkota dunia hanyalah kefanaan.

Dengan perenungan inilah saya merenungkan, merefleksikan kehidupan saya dari dulu sampai saat ini. Sungguh, saya bukan siapa-siapa yang layak untuk sombong atas hidup saya. Semua prestasi duniawi yang saya dapatkan tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan keselamatan yang saya dapatkan, kasih Allah yang saya rasakan, anugerah-Nya yang berlimpah setiap saat bagi seorang pendosa besar seperti saya. "See how much I love you," inilah bahasa cintanya Tuhan bagi dunia, bagi manusia. Dan saya rindu refleksi akan kasih Tuhan ini menjadi sebuah apologetika sederhana akan kasih Tuhan bagi dunia. Refleksi ini adalah bisikan saya bagi setiap insan yang sedang merindukan kasih yang sejati, yang sekian lama dicari-cari. Refleksi ini adalah bukti bahwa di dalam Kristus ada pengharapan, ada kehidupan yang sejati, yang kekal! Dunia ini tidak menawarkan apa-apa selain kehampaan, yang terus-menerus dikais oleh manusia, sembari hati manusia terkikis. Refleksi ini adalah kesaksian hidup dari seorang pendosa yang diselamatkan oleh Kasih yang Sejati dan dipanggil untuk melayani Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
 

Tangsel, 1 Juli 2016.

Misael Prawira. 
 
 

Komentar

Postingan Populer