"Do break it, it's fragile"
Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk." - Yesaya 57:15
Menjelang berakhirnya periode praktik pelayanan dua bulan saya di sebuah gereja di Tangerang, saya coba merenungkan bagaimana saya sudah melewati masa dua bulan ini dan apa yang sudah saya lewati (atau mungkin terlewatkan). Hasil dari perenungan itu kurang lebih sesuai dengan judul dari catatan kali ini, yaitu "Do break it, it's fragile."
Sering banget manusia merasa kuat, bisa apa-apa sendiri, termasuk saya. Bahkan di dalam perjalanan mengiring Tuhan menjadi hamba-Nya sepenuh waktu, tidak jarang saya masih individualis. Saya pikir saya bisa; saya rasa saya kuat. Namun, setelah tiga tahun menjalani pembentukan dari Tuhan, baik di seminari maupun di ladang praktik pelayanan, saya mendapati bahwa seharusnya saya semakin merasa rapuh di hadapan Tuhan. Seharusnya saya merasa semakin tidak bisa apa-apa, karena semakin saya kenal siapa Tuhan, saya harus semakin kenal siapa diri saya dan semakin tahu diri bagaimana seharusnya saya merespons di hadapan Tuhan. "Kenal Tuhan, kenal diri, tahu diri," tiga hal yang sering diulang-ulang oleh salah satu dosen saya. Dan ya, sekali lagi saya mendapati diri saya rapuh di hadapan Tuhan, layaknya pendahulu saya, Simon Petrus yang akhirnya rapuh di hadapan Yesus, ketika untuk ketiga kalinya Yesus bertanya, "Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" "Do you love me more than these?" Sebuah pertanyaan yang merapuhkan seluruh benteng pertahanan Petrus, dan juga saya dan saya pikir kita semua yang diperhadapkan dengan pertanyaan yang sama oleh Tuhan Yesus Kristus.
Ketika Tuhan bertanya dengan wajah kasih-Nya, "Do you love me?" saya pikir akan menjadi sebuah momen yang menegangkan dan menyenangkan. Sang Kekasih Jiwa bertanya demikian, tetapi kita malah tegang karena bener-bener ga tau mesti jawab apa. Namun, saya rasa satu jawaban yang paling jujur adalah seperti yang dinyatakan oleh Bapak Simon Petrus, "Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau." Saya mencoba mendramatisirnya dengan judul catatan saya kali ini, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu tentang diriku... Engkau kenal betul siapa aku... Dan engkau pun tahu seberapa dalam dan dangkalnya kasihku pada-Mu... Tuhan, ini aku, bejana yang kotor, tidak sempurna... Pecahkanlah aku, karena aku memang rapuh adanya di hadapan-Mu... Pecahkan dan bentuklah aku lagi, dan lagi, dan lagi, sesuai dengan rancangan-Mu... Pecahkanlah dan bentuklah aku lagi, agar aku semakin serupa dengan-Mu... Pecahkan dan bentuklah aku lagi, sehingga keindahan-Mu semakin terpancar dari diriku... Do break me, Lord, because I am fragile."
Perenungan ini pernah terlintas ketika satu tahun yang lalu Tuhan mempercayakan beberapa pelayanan di dalam seminari, sebagai bagian dari pembentukan saya. Saya pikir itu sudah berakhir, dan ternyata untuk (kurang lebih) satu semester ke depan Tuhan melanjutkan pembentukan-Nya bagi saya dengan mempercayakan hal yang lain. Saya tidak tahu apa saja yang akan terjadi dengan saya di semester depan. Namun, yang saya tahu adalah ketika Tuhan masih memimpin saya, itu sudah lebih dari cukup, lebih besar untuk menutupi segala kekuatiran saya, baik yang muncul sekarang maupun yang akan datang. Saya mau menempuh perjalanan di semester depan dengan kembali rapuh di hadapan Tuhan, siap untuk dibentuk oleh Sang Penjunan Agung.
Tulisan ini tidak berhenti menjadi sebuah refleksi belaka, tetapi juga saya tujukan kepada setiap orang (siapapun engkau) yang sedang merasa kuat, merasa bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, berpikir bisa merencanakan masa depanmu sendiri. Ini adalah sebuah cermin bagimu. Bukan sebuah cermin yang bening atau menyilaukan, tetapi sebuah cermin yang retak, karena demikianlah kita, manusia. Jadilah rapuh di hadapan Tuhan, karena demikianlah kita adanya di hadapan-Nya. Biarkan Dia yang membentuk kita, bagaimana pun cara-Nya, agar kita menjadi pribadi yang sesuai dengan rancangan-Nya. Amin.
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. - 2 Korintus 12:9
"Broken Vessels (Amazing Grace)" by Hillsong Worship
All these pieces, broken and scattered
In mercy gathered, mended and whole
Empty handed, but not forsaken
I've been set free, I've been set free
Amazing grace, how sweet the sound
That saved a wretch like me
I once was lost, but now I'm found
Was blind but now I see
Oh I can see you now
Oh I can see the love in Your eyes
Laying yourself down
Raising up the broken to life
Oh I can see you now
Oh I can see the love in Your eyes
Laying yourself down
Raising up the broken to life
You take our failure, you take our weakness
You set Your treasure in jars of clay
So take this heart, Lord, I'll be Your vessel
The world to see Your love in me
Amazing grace, how sweet the sound
That saved a wretch like me
I once was lost, but now I'm found
Was blind but now I see
Oh I can see you now
Oh I can see the love in Your eyes
Laying yourself down
Raising up the broken to life
Tangsel, 21 Juli 2016
Misael Prawira.


Uuuuhhh.. So sweettt kokohhhh!!
BalasHapusMakasi koh stanley.. Makin mantap jadi papanya ashley ya sweet juga nih..
Hapus