Mencari apa yang dianggap nyata di tengah kenyataan



Pagi ini seperti biasanya saya membaca berita-berita terkini melalui salah satu website berita di Indonesia dan memantau timeline dari salah satu website sosial-media.  Saya cukup terkejut ketika mendapati bahwa akhir-akhir ini tidak hanya Pokemon Go saja yang sedang happening.  Beberapa berita yang saya dapati selain Pokemon Go adalah: (1) Seorang wanita bernama Karin Novilda yang (ternyata) sedang happening di berbagai website sosial-media; (2) Kehidupan mewah dari presiden Turki beserta keluarganya; (3) Proses perceraian antara dua artis Indonesia yang (katanya) memeluk agama Kristen.  Dari ketiga berita ini plus berbagai berita mengenai Pokemon Go, saya mendapati satu kesamaan, yaitu sebuah pencarian dari apa yang dianggap nyata di tengah kenyataan.  Apa pula maksud dari hal ini?

Pertama mengenai Pokemon Go.  Sekali lagi saya tidak akan membahas benar/tidaknya berita-berita mengenai Pokemon Go dan bagaimana teknologi Augmented Reality (AR) dipakai di dalam permainan ini.  Namun, satu hal yang dilakukan oleh semua pemain game ini adalah sesuatu yang dianggap nyata.  Konsep AR yang dipakai oleh permainan ini kurang lebih membuat para pemainnya melihat pokemon-pokemon (yang tidak nyata) di dunia nyata, melalui gadget mereka.  Produser game ini berusaha "menempelkan" pokemon-pokemon buatan ini, yang tidak nyata, ke dunia nyata.  Dengan demikian, sesungguhnya para pemain Pokemon Go sedang mencari (menangkap, mengumpulkan, menandingkan) sesuatu yang dianggap nyata, dan mereka menikmatinya!  Lalu, bagaimana dengan dunia nyata yang menjadi pijakan kita dan mereka?  Apakah di kemudian hari (jika permainan seperti ini bertahan dan makin banyak bermunculan) dunia nyata ini sudah tidak nyata bagi manusia, karena kehadiran sesuatu yang dianggap nyata?  Konsep "ada" mungkin sudah mulai terdistorsi.

Kedua mengenai Karin Novilda.  Singkat cerita, wanita ini memiliki banyak akun sosial-media yang sangat happening, karena posting-posting-nya yang sangat menarik perhatian publik.  Saya tidak akan membahas apa saja yang beliau taruh di semua akun sosial-media-nya, tetapi sudah pasti tipikal orang seperti ini pasti akan memiliki banyak sekali fans, baik itu fans yang bermaksud baik atau jahat (alias haters).  Dengan kata lain, ia mendadak populer!  Beliau bagaikan drama queen, setidaknya di dunia sosial-media yang dianggap nyata oleh dirinya dan seabrek fans dan haters-nya.  Karin sedang mencari sesuatu (popularitas, fans, perhatian) yang dianggap nyata di tengah kenyataan (realita) hidup yang ia jalani, yang bisa dikatakan berbeda 180 derajat.

Ketiga mengenai kehidupan mewah dari pemimpin negara Turki.  Saya tidak akan membahas seluk-beluk dan sejarah mengapa hal ini bisa terjadi.  Namun, di tengah ramainya berita mengenai Turki dan ketika sekilas melihat kehidupan di negara ini, saya berpikir bahwa bapak pemimpin negara ini sedang mencari sesuatu yang ia anggap nyata untuk menghadapi kenyataan hidupnya.  Ia menghadapi gonjang-ganjing yang terjadi di negaranya dengan kemewahan hidup yang bukan murni hasil tangannya sendiri.  Ia berusaha mencari sesuatu yang lain, di luar realita yang ia hadapi, agar mendapatkan (mungkin) kedamaian, ketenangan, kekayaan, yang ia pikir lebih nyata bagi dirinya dibandingkan dengan apa yang terjadi di tengah negara yang dipimpinnya.

Keempat mengenai proses perceraian antara dua artis ternama di Indonesia.  Saya tidak tahu persis hal apa yang melatarbelakangi keputusan mereka untuk bercerai.  Namun, satu hal yang menjadi tujuan dari setiap perceraian, yaitu "menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru."  Saya pikir perceraian tidak pernah "menutup lembaran lama" dari kehidupan kita.  Segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu tidak pernah benar-benar bisa kita tutup dan lupakan.  Lembaran baru yang dibuka hanyalah sebuah "babak baru" dari pencarian kenyataan yang tiada hentinya.  Perceraian adalah sebuah pelarian dari sebuah kenyataan pernikahan, untuk mencari sesuatu (atau mungkin seseorang) yang dianggap lebih nyata untuk dihidupi.

Ini secuplik dari empat peristiwa yang happening akhir-akhir ini.  Refleksi dari catatan kali ini: Bagaimana dengan kehidupan kita masing-masing?  Mungkin kita tidak bermain Pokemon Go.  Mungkin keluarga kita adem-anyem saja.  Mungkin akun-akun sosial-media kita hanya memiliki 50 followers.  Mungkin kekayaan kita hanya "selalu cukup untuk satu hari."  Namun, bagaimana kita menghidupi realita kehidupan ini.  Setiap realita hidup yang terjadi, entah itu yang baik ataupun buruk, adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari.  Seberapa besar pun usaha kita untuk membuat atau mencari hal lain yang kita anggap nyata, kenyataan yang sebenarnya tidak pernah dapat kita tutup dan menjadi lembaran lama.  Dan salah satu kenyataan yang selalu ada dan kita hadapi adalah: kita adalah manusia yang terbatas dan dunia ini sudah terkorupsi (rusak).  We are mortals, and we live in a mortal world.  Dengan keterbatasan kita, seberapa banyak pun kita mencari hal-hal yang kita anggap lebih baik, lebih membuat kaya, lebih membuat sehat, lebih ganteng/cantik, lebih membuat damai, lebih aman; semua itu bersifat fana.

Lalu, bagaimana dengan rasa bahagia, aman, damai, puas yang kita dapatkan dan kita rasakan?  Apakah semuanya itu juga tidak nyata?  Bagi saya, jawabannya adalah: ya dan tidak.  Semua itu menjadi fana, tidak nyata ketika kita terus-menerus mencari, terus tidak puas dengan segala sesuatu yang sudah kita dapatkan, kita hidupi, kita alami.  Dan semua itu akan menjadi nyata dan sejati, jika kita melihatnya sebagai sebuah pemberian; sebuah anugerah.  Dan ketika hidup ini bukan perihal pencarian, tetapi perihal anugerah, maka kita akan menyadari dan memahami bahwa ada Sang Pemberi anugerah itu sendiri, yang berulang kali memperkenalkan diri-Nya kepada kita, sehingga ketika kita mengenal-Nya, kita pun kenal siapa kita, sehingga kita pun semakin tahu diri di dalam menjalani hidup ini.

Kenal Sang Pemberi, kenal diri, tahu diri.  Kenali keberadaan Sang Pemberi, kenali keberadaan diri kita, kenali bagaimana harusnya kita tahu diri.  Kenali, maka kita tidak akan lagi mencari.


"Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.  Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?  Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah.  Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin."


Tangsel, 22 Juli 2016, sebelum "nangsel" makan siang,

Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer