Sudah separuh jalan, sudahkah sepenuh diri?



"Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." - Paulus, di dalam surat Kolose 3:23.

"Demikian jugalah kamu.  Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." - Yesus Kristus, di dalam Injil Lukas 17:10.

Dua ayat di atas ditambah dengan sebuah lagu berjudul "Make me a Servant" menjadi hadiah dari Tuhan bagi saya di hari ulang tahun saya yang ke-30.  Jika melihat ke belakang, kok ternyata tak terasa sudah 30 tahun saya ada di dunia.  And suddenly I feel old.  Namun, satu hal yang saya amat syukuri, yaitu di usia yang ke-30 saya menghidupi panggilan Tuhan bagi saya untuk menjadi hamba Tuhan (rohaniwan) sepenuh waktu.  Selama 3 tahun dan 7 bulan saya mengenyam pembentukan Tuhan di seminari dan sudah 7 bulan plus 11 hari saya ditempa Tuhan di ladang praktik pelayanan.  Saya tidak tahu secara detil apa yang Tuhan sudah siapkan buat saya untuk 30 tahun mendatang, di mana di usia yang ke-60 sangat besar kemungkinan saya diemeritasi.  30 tahun berikutnya lagi?  Ah, ga berani ngarep.  Pemazmur aja berkata bahwa usia manusia kira-kira 70-80 tahun.

Mengawali 30 tahun berikutnya, sebuah pertanyaan Tuhan titipkan bagi saya: 


"Sudah setengah jalan nih, sudahkah kamu sepenuh diri melayani-Ku?"  


Pertanyaan sederhana sarat makna, seraya Tuhan menyodorkan paket yang tidak dapat dikustomisasi, yang berisi: "Saya meminta kamu untuk memberi sepenuhnya, semuanya, bukan setengah-setengah.  Saya mau kamu seluruhnya."  Sebuah paket yang pernah Tuhan tawarkan ketika saya menjawab panggilan-Nya yang mulia.  Ketika itu Dia berkata: 
"Saya yang beri kamu segala talenta yang kamu pakai.  Sekarang saya ga hanya mau pakai kamu part-time.  Saya mau kamu full-time.  Kembalikan semuanya bagi Saya, karena segala sesuatu yang ada padamu adalah dari Saya, oleh Saya, dan bagi Saya."  

Tuhan meminta ini bukan hanya pada waktu-waktu tertentu dalam hidup saya, namun setiap saat.  Saya gentar mengawali 30 tahun berikutnya.  Begitu banyak hal di dalam diri harus diasah, dibentuk, dihancurkan, diperlengkapi, agar Tuhan leluasa memakai saya untuk visi-Nya yang besar.  Biarlah respons saya dapat senada dengan rasul Paulus: 
"Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat."
Di akhir refleksi ini, saya rindu ini tidak hanya menjadi refleksi saya.  Harapan saya adalah jika ada anak-anak muda/mudi yang membaca tulisan ini dan engkau sedang bergumul akan panggilan Tuhan di dalam hidupmu, saya hanya bisa berpesan: Inilah saatnya!  Inilah saatnya engkau menjawab permintaan Tuhan yang mulia untuk memberikan keseluruhan dirimu bagi-Nya.  Engkau tidak harus menjadi hamba Tuhan penuh waktu seperti saya.  Jadilah apa yang Tuhan kehendaki!  Jika engkau terpanggil menjadi dokter, insinyur, pebisnis, guru, dosen, atau yang lainnya, jawab dan lakukanlah dengan sepenuh diri!  Jangan meragukan Tuhan.  Dan biarlah doa ini menjadi doamu dan doaku: Ya Tuhan, bentuk aku jadi hamba-Mu sesuai dengan rencana-Mu.  Hamba yang rendah hati dan penuh belas kasihan seperti Engkau.  Hamba yang mau mengulurkan tangan bagi orang-orang yang membutuhkan.  Jadikanku hamba-Mu sekarang.  Aku tak mau meragu lebih lama lagi.  Sekarang, ya sekarang, Tuhan.  Pakai aku demi keindahan dari kemuliaan-Mu yang semakin megah.

Make me a servant, humble and meek.
Lord, let me lift up those who are weak.
And may the prayer of my heart always be.
Make me a servant, make me as servant,
make me a servant today.

Bandung, 1 hari setelah hari ulang tahun saya yang ke-30,

Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer