Doa pembentukan seorang hamba Tuhan


Dua hari sebelum usia saya genap 30 tahun, saya berpikir bahwa belakangan ini saya jarang sungguh-sungguh terbuka dengan Tuhan di dalam doa.  Padahal semakin saya sibuk melayani, semakin banyak tantangan dalam melayani, justru seharusnya waktu doa saya semakin banyak.  Di tengah proses pembelajaran saya di ladang praktik yang Tuhan sediakan, saya menyempatkan diri untuk menulis sebuah doa.  Sebuah disiplin rohani yang sudah dipraktikkan oleh para raksasa iman.

Tuhan, panggilan-Mu teramat mulia, rasanya tidak cocok untuk hamba
Hamba terlalu emosional, mudah sekali naik darah;
hamba suka malas membaca, bagaimana mau mendidik domba-domba-Mu?
hamba tidak pandai mengajar, masih belajar menyusun kata-kata.
Kalau boleh "berbela rasa" dengan Musa dan Yeremia,
hamba adalah orang yang masih muda dan petah lidah.

Namun, sebagaimana Paulus menyatakan,
bahwa dirinya adalah yang paling hina di antara semua rohaniwan dan bahkan orang percaya,
demikianlah hamba mau belajar.
Panggilan yang mulia itu bermurah hati memanggil hamba,
ikut di dalam pekerjaan yang mulia di ladang yang luas,
jauh lebih luas dari yang hamba ukur!

Oleh karena itu ya Tuhan, Sang Gembala Agung yang baik,
jangan jauhkan tantangan dari hadapanku,
tetapi juga jangan jauhkan hadirat-Mu dari hadapanku;
jangan jauhkan domba-domba yang nakal,
tetapi jauhkan daripadaku emosi-emosi negatif,
dan berikan padaku hati-Mu yang sabar dan setia,
sabar dan setia untuk tahan sedikit lagi, dan lagi, dan lagi.
Berikanku pikiran seorang murid,
yang konsisten belajar dari-Mu,
agar didikanku kepada domba-domba-Mu tidak melenceng dari kebenaran-Mu.
Berikanku tangan seorang gembala,
yang senantiasa terulur bagi domba-domba yang jatuh dan tersesat,
agar mereka boleh melihat kasih setia dan kemuliaan-Mu
terpancar dari hamba-Mu.

Bentuk aku bagaikan bejana,
bentuk sesuai kehendak-Mu,
dan taruhlah Harta yang berharga itu,
yang membuat aku senantiasa berhutang kepada-Mu.
Biarlah hanya Harta itu yang aku sebar,
aku bagikan dengan kemurahan hati, kematangan pikiran, dan kesalehan tindakan.
Pakai hamba untuk mengungkapkan misteri-Mu yang agung dan ajaib,
sampai hamba berjumpa dengan-Mu, berhadapan muka.
Pakai hamba demi keindahan dari kemuliaan-Mu yang semakin megah.
 
 
Bandung, 9 November 2017
 
Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer