Pernak-pernik yang ditinggalkan pasca Pilkada Ibukota

Hasil quick count Pilkada Ibukota meninggalkan pernak-pernik di hati warga Jakarta.  Ada pernak-pernik yang menyenangkan sebagian warga.  Ada pula pernak-pernik yang meninggalkan beragam pertanyaan.  Ada juga pernak-pernik yang mengungkapkan harapan di tengah kegalauan.  Pernak-pernik ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari cuitan-cuitan di media sosial, foto-foto dan video-video yang diunggah, berita-berita terkini, bahkan sampai bunga-bunga yang bertebaran begitu saja.  Saya tidak akan membahas mengenai subjektivitas dari pernak-pernik ini, namun saya tertarik dengan objektivitas dari kondisi yang terbentuk di dalam kehidupan warga ibukota, yaitu terbentuknya comfort zone dan dynamic zone.  Dua kawasan ini identik dengan dua faktor, yaitu pilihan dan resiko.

Saya yakin setiap pilihan di dalam kehidupan ini memiliki resikonya masing-masing, entah resiko kecil atau besar.  Comfort zone adalah sebuah pilihan dengan resiko kecil dari luar, tetapi mengandung resiko besar dari dalam, dan dalam hal ini saya mengambil konteks kehidupan ibukota.  Di tengah ibukota setidaknya ada 57-58% warga yang memilih menjadi bagian dari comfort zone.  Sedangkan 42-43% lainnya dapat dikatakan mengambil pilihan dengan resiko yang lebih besar dibandingkan berada di dalam comfort zone, yaitu berada di dalam dynamic zone.

Berada di comfort zone akan cenderung menyenangkan.  Mungkin istilah auto-pilot tepat untuk menggambarkan keberadaan comfort zone.  Namun, auto-pilot di sini tidak sekadar menunjukkan sebuah keadaan yang status quo, tapi juga keadaan yang bertindak sesuai dengan kemauan masing-masing.  Mungkin sebagian penduduk comfort zone adalah tipikal warga yang legalistik plus anti-nomian.  Ya, dua tipe orang ini bertolak belakang, tapi dalam kondisi tertentu mereka bisa bekerja sama, semata-mata agar comfort zone mereka tidak terganggu oleh dinamika-dinamika yang sebenarnya bisa membangun kehidupan.  Salah satu tanda-tanda adanya kerja sama di antara dua tipe warga di dalam comfort zone ini adalah adanya "lempar batu sembunyi tangan."  Silakan diinterpretasi sesuai dengan gejolak ibukota Indonesia pasca Pilkada putaran kedua.  

Sedangkan berada di dynamic zone mengandung resiko yang banyak dan beragam.  Gesekan-gesekan berbahaya bisa terjadi.  Upaya-upaya untuk mempertahankan ekuilibrium lebih besar.  Namun, sesuai namanya, dynamic zone lebih bersifat dinamis dan pastinya fleksibel.  Keberagaman dan dinamika adalah nama tengah dari dynamic zone.  Orang-orang yang berada di dalam dynamic zone adalah para pengambil resiko, risk-takers.  Mereka adalah orang-orang yang menempatkan diri di bawah kebenaran.  Mereka terdiri dari orang-orang dengan latar belakang keluarga, budaya, dan agama yang berbeda.  Namun, mereka paham dan menyadari bahwa ada satu kebenaran yang berotoritas atas segala sesuatu, sehingga mereka tidak mau kompromi dengan kebenaran tersebut.  Mereka sadar bahwa mereka tidak dapat menempatkan diri di atas kebenaran.  Ketika ada orang-orang yang mengobjektifikasi kebenaran tersebut dengan kemunafikan, janji manis, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, maka mereka akan mati-matian teguh memegang kebenaran sebagai subjek yang berotoritas, bukan objek yang diperkosa. Penghuni kawasan dynamic zone akan menyetel kebenaran dengan standar kebenaran itu sendiri, bukan dengan standar mereka.
 
Warga yang berada di dalam dynamic zone berjumlah 42-43%.  Memang kalah jumlah dibandingkan warga comfort zone yang haus kuasa, harta, pengumbar janji atas nama "kebenaran" versi mereka sendiri.   Namun, 42-43% adalah sebuah harapan di tengah kegalauan.  Sebuah persentase yang bisa mengguncang comfort zone dan bukan tidak mungkin juga menarik sebagian dari 57-58% penduduk comfort zone untuk berdinamika dan mengambil resiko demi kehidupan ibukota yang lebih baik.  Sebagai bagian dari dynamic zone yang berkontribusi sederhana, saya rindu persentase ini tidak berkurang, namun bertambah.  Saya rindu penduduk dynamic zone dapat memancarkan terang dari kebenaran kepada comfort zone yang hidup nyaman di dalam kegelapan.  Terang yang akhirnya membuat seluruh penduduk ibukota (bahkan Indonesia) dapat berpegang teguh kepada satu kebenaran, yaitu kebenaran yang memerdekakan.  Di akhir tulisan ini, izinkan saya mengutip dan sedikit memodifikasi salah satu kalimat mutiara yang indah dari salah satu pengkhotbah masa kini:


"Ketika gelap melihat terang, gelap menyebutnya ketidakbenaran; ketika pekatnya gelap tersoroti oleh cahaya terang, gelap menyebutnya kesombongan; ketika gelap berhasil menyingkirkan terang, sesungguhnya gelap hanya berhasil membalikkan dirinya dari terang dan bersembunyi di dalam dirinya sendiri, sehingga gelap kembali hidup dalam kegelapan.  Namun, gelap lupa bahwa terang akan tetap datang.  Terang akan selalu ada dan terang adalah kebenaran."



Bandung, mengakhiri bulan April 2017

Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer