Kalijodo dan Makna Penebusan
(Saya berhutang ide kepada dua tulisan dan dua penulis yang lebih dulu menuangkan pikiran mereka dengan tema yang mirip)
Kawasan Kalijodo pasti sudah akrab dilihat dan didengar bagi warga Jakarta, setidaknya karena dua hal. Pertama adalah karena kawasan ini dulunya adalah salah satu kawasan prostitusi aktif di Jakarta. Kedua adalah karena saat ini Kalijodo sudah berubah wajah, dari kawasan prostitusi menjadi RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). "Prostitusi" dan "ramah anak," dua hal yang sangat berbeda. Mencoba untuk merefleksikan apa yang terjadi di Kalijodo, saya kira kawasan ini tidak hanya mengalami perubahan, namun penebusan. Saya mencoba berefleksi lebih dalam dengan mencoba menempatkan diri saya sebagai bagian dari Kalijodo.
Ketika Kalijodo masih menjadi kawasan prostitusi, saya kira orang-orang yang tinggal di sana mengalami perasaan yang gado-gado. Sebagai salah satu warga di sana, kemungkinan saya akan menemui: (1) Orang-orang bertipe kelelawar, yaitu yang aktif di malam hari dan beristirahat di saat terang. Orang-orang yang meliuk dalam kegelapan dan bersembunyi kala cahaya datang. Orang-orang ini adalah para PKS (pekerja seks komersil), yang hampir seluruh penghasilan mereka (atau mungkin semuanya) datang dari menjual diri. Mungkin ada di antara mereka yang sudah mempunyai anak tanpa bapak, atau menderita penyakit tertentu (hanya) karena pekerjaan mereka. Bagi mereka, berada di tengah kegelapan cenderung lebih baik dibandingkan mendapatkan terang; (2) Orang-orang yang sudah terbiasa tinggal di kawasan prostitusi. Sebagian besar dari mereka tidak mempunyai pilihan lain, karena mereka sudah tenggelam di sana dan tidak dapat menemukan tempat tinggal yang lebih baik. Bahkan mungkin mereka sudah sangat biasa melihat, mendengar, dan menghadapi warna-warni prostitusi. Bukan tidak mungkin mereka adalah orang-orang yang juga menikmati "indahnya" prostitusi, baik bagi kantong hasrat mereka maupun kantong materi. Bisa jadi, tidak sedikit dari mereka adalah juragan-juragan Kalijodo; (3) Orang-orang yang resah untuk tinggal di kawasan prostitusi. Sering kali mereka terganggu dengan malam-malam yang gemerlap dan mungkin gaduh. Namun, mirip dengan tipe orang kedua, mereka tidak punya pilihan selain tetap tinggal di Kalijodo. Mereka menetap dengan segala keresahan. Berharap untuk yang lebih baik sambil bertahan di dalam kegalauan.
Sekarang bayangkan ketiga tipe warga Kalijodo ini dikejutkan dengan wajah Kalijodo yang baru. Sebagai "orang dalam" pasti ada kejutan-kejutan, baik besar maupun kecil. Namun, saya kira mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami proses penebusan dan bukan sekadar perubahan, atau mungkin tepat jika dikatakan mereka mengalami perubahan melalui penebusan. Setiap manusia sudah rusak total karena dosa. Upahnya hanya satu, yaitu maut. Namun, rencana keselamatan Allah Bapa, yang digenapi oleh Yesus Kristus Sang Penebus dan dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam hati setiap orang yang percaya pada Yesus Kristus menjadi sebuah tindakan penebusan bagi dosa manusia. Sesederhana itukah penebusan? Jelas tidak, karena kedagingan manusia sering meronta akan kenikmatan dosa. Saya kira warga Kalijodo pun demikian. Mereka sudah terlanjur nyaman tinggal di sana, sekali pun mereka gelisah. Jika mereka pindah, mereka harus memulai segala sesuatu dari nol, baik itu tempat tinggal sampai pekerjaan. Namun, penebusan jelas bukan nol besar. Penebusan adalah sebuah pembaruan, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus, karena Ia membuat segalanya menjadi baru. Manusia berdosa yang ditebus adalah manusia yang dipulihkan, diperbarui. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada warga Kalijodo. Perubahan wajah Kalijodo menjadi RPTRA jelas merupakan sebuah penebusan. Warga Jakarta tidak lagi melihat, mendengar, dan merasakan segala hal yang berhubungan dengan prostitusi. Namun, saat ini warga Jakarta bisa bercengkerama dengan aman di sana, sambil berolahraga, makan dan minum, bahkan membawa anak-anak mereka untuk bermain.
Lalu, bagaimana dengan nasib warga Kalijodo? Saya kira perubahan wajah Kalijodo tidak hanya memiliki satu sisi. Penebusan tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi saja. Pemprov DKI Jakarta merelokasi mereka ke rusun-rusun yang ada, dengan harapan mereka memulai sebuah kehidupan yang baru. Ya, sebuah kehidupan yang baru yang dibayar dengan tindakan penebusan yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, dengan dipimpin oleh Bapak Basuki dan Bapak Djarot. Sebagai wakil Allah yang memegang tampuk pemerintahan di ibukota, mereka menjadi alat Tuhan untuk menebus Kalijodo. Harga tebusannya tidak murah. Ketegangan dengan juragan-juragan setempat, protes-protes yang terlontar, dan bahkan ancaman-ancaman yang dilemparkan jelas bukan sebuah harga yang murah. Belum lagi ketika ada pihak yang menentang prostitusi, namun justru mengatakan tindakan penebusan Kalijodo sebagai sebuah penggusuran. Pernyataan ini tidak lebih dari sebuah tindakan bunuh diri bagi manusia yang intelek dan menjadi figur bagi sebagian masyarakat.
Namun, masa lalu Kalijodo dibayar oleh Bapak Basuki, Bapak Djarot, dan para pegawai mereka, semata-mata agar Kalijodo menjadi sebuah tempat yang baru dan warganya ditebus. Tindakan penebusan yang dilakukan oleh wakil-wakil Allah ini seakan menggemakan,"Cukup sudah kekelaman Kalijodo. Pembaruan harus dilakukan dengan sebuah harga yang dibayar penuh. Paid in full. Kalijodo harus bangkit dengan wajah yang baru." Dengan tebusan inilah Kalijodo yang tadinya terhilang, kini ditemukan kembali. Mungkin sekarang warga Kalijodo tidak merasakannya. Namun, lihatlah puluhan tahun ke depan. Kehidupan mereka akan berbeda jauh, jika mereka masih tinggal di kawasan prostitusi. Penebusan menuntut respons yang tepat. Penebusan memberikan kehidupan yang baru, yang mesti direspons dengan tepat oleh para tebusan. Penebusan tidak bisa sekadar menata yang lama. Penebusan memerlukan penggusuran total kehidupan yang lama dan rusak, agar kehidupan yang baru bisa dimulai.
Jadi, pilih mana? Ditebus dan menjadi baru, atau disantuni, ditata, tapi tetap di tempat lama? Selamat Jumat Agung dan Paskah.
Bandung, 16 April 2017
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar