Kebenaran yang menyingkapkan diri
Tulisan saya kali ini terinspirasi oleh dua kejadian. Pertama adalah beberapa peristiwa yang mengiringi Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Kedua adalah salah satu jawaban dari anak remaja yang saya layani hari Minggu kemarin. Dua kejadian ini memiliki satu benang merah, yaitu pertanyaan mengenai kebenaran, truth.
Ribuan tahun yang lalu, seorang bernama Pilatus melontarkan sebuah pertanyaan mengenai kebenaran, demikian: "Apa itu kebenaran? What is truth?" Pertanyaan ini memang berusia sangat lanjut, namun pada kenyataannya pertanyaan ini masih relevan sampai sekarang. Entah berapa banyak manusia mempertanyakan kebenaran. Ketika saya melontarkan pertanyaan yang sama kepada 19 anak remaja pada hari Minggu kemarin, salah satu dari mereka menjawab, bahwa kebenaran adalah "sesuatu yang berusaha disembunyikan." Sebuah jawaban yang menarik, karena lahir dari mulut seorang anak remaja yang masih mengenyam pendidikan SMP! Bagi saya, jawaban ini akan menjadi jawaban yang wajar ketika dikatakan oleh seorang pemuda yang sedang kuliah atau bekerja, atau mungkin oleh orang dewasa, karena mereka memiliki pemikiran yang lebih matang dan kompleks ketimbang anak remaja SMP. Kemudian saya menghubungkan jawaban dari anak remaja ini dengan beberapa peristiwa yang sedang terjadi di negara saya, khususnya peristiwa-peristiwa menjelang putaran kedua dari Pilkada DKI Jakarta. Saya tidak akan membahas peristiwa-peristiwa yang terjadi. Namun, saya tertarik untuk melihat benang merahnya, yaitu kebenaran.
Salah satu tulisan saya sebelumnya sudah sedikit menyinggung mengenai kebenaran, yang dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat menyingkapkan atau unconcealing. Saya pikir kebenaran akan bersifat demikian, jika kebenaran tersebut merupakan sebuah subjek. Namun, pada masa kini kebenaran cenderung untuk diobjektifikasi. Maksudnya, kebenaran cenderung untuk dihakimi, ditambahkan, dikurangi, diubah, dan dengan kata lain kebenaran cenderung untuk disembunyikan. Orang-orang berusaha menempatkan diri di atas kebenaran. Padahal, sebagai sebuah subjek, kebenaran bertebaran di mana-mana dan menyingkapkan semua yang tersembunyi, layaknya terang yang menyingkapkan kegelapan sehingga kegelapan tidak dapat menghindar dari terang. Saya berikan satu contoh sederhana.
Saya berpacaran dengan seorang wanita. Kami menikmati "bulan madu" yang indah selama lima tahun, tetapi di tahun keenam sesuatu terjadi. Saya disibukkan dengan pekerjaan, sehingga pacar saya merasa kurang disayangi. Alhasil, pacar saya pun mencari kesibukan lain dan akhirnya kami sama-sama kehilangan relasi. Akhir dari relasi kami bisa ditebak. Kami pun akhirnya memiliki pasangan masing-masing yang kami nikahi. Jika disimpulkan, maka kebenaran dari peristiwa ini adalah: Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya, sehingga membuat pacar saya kehilangan kasih dari saya dan dia pun akhirnya mencari kesibukan lain, sehingga kami memutuskan untuk bersama-sama mengakhiri relasi. Namun, ketika kebenaran ini diobjektifikasi, maka muncullah "kebenaran-kebenaran lain" dari peristiwa tersebut, misalnya: Ada wanita lain di dalam pekerjaan saya yang merebut perhatian saya dari mantan pacar saya, sehingga akhirnya relasi kami berakhir. Padahal, kebenarannya adalah relasi kami berakhir karena kami hilang di dalam kesibukan masing-masing. Namun, orang-orang yang menciptakan "kebenaran-kebenaran lain" itu berusaha menempatkan diri di atas kami (yang mengetahui kebenaran tersebut).
Ini hanya satu contoh sederhana yang kira-kira menggambarkan apa yang sedang terjadi dengan kebenaran. Dan sesungguhnya objektifikasi kebenaran bukanlah perilaku baru. Buktinya, tidak terhitung berapa banyak kontroversi yang terjadi di dalam dunia ini, "hanya" karena kebenaran-kebenaran yang diobjektifikasi; "hanya" karena orang-orang yang berusaha menempatkan diri di atas kebenaran.
Jadi, kembali kepada pertanyaan Pilatus, yang juga relevan saat ini: "Apa itu kebenaran? What is truth?" Saya pikir sudah waktunya untuk mengembalikan kebenaran kepada tempatnya. Putting back The Truth to its place. Mengembalikan kebenaran sebagai subjek dan bukan objek yang bisa diperlakukan semena-mena. Kebenaran adalah benar pada dirinya sendiri, cukup pada dirinya sendiri, dan akan menyingkapkan segala sesuatu yang tidak benar (atau palsu), karena kebenaran adalah kebenaran, dan ia tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Dan kamu akan mengenali kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Bandung, satu minggu sebelum Pilkada Ibukota.
Misael Prawira.


Komentar
Posting Komentar