Tuhan yang meminta...
"Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." - Kejadian 22:2 (TB-LAI).
Pagi ini, saya membaca satu bagian dari buku Menapaki Hari Bersama Allah karya Pdt. Yohan Candawasa. Bagian tersebut berjudul Jika Allah Meminta. Sebuah hal yang menarik, ketika pada bagian sebelumnya terdapat judul Anda Meminta Allah Memberi. Pak Yohan menuliskan sebuah renungan yang sangat mendalam mengenai peristiwa yang ada di dalam Kejadian 22:1-19. Sangat menarik ketika membaca ayat pertama dari bagian ini, yaitu Allah mencoba Abraham. Saya mencoba sedikit melihat bahasa asli dari kalimat tersebut, khususnya kata "mencoba." Dari bahasa Ibraninya, kata nasah dapat berarti:
1. Sebuah usaha untuk mengetahui kebenaran dari sesuatu atau seseorang.
2. Mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
3. Menyebabkan sebuah kondisi yang sulit, seringkali dengan memperhadapkan pada pilihan-pilihan pada kondisi tersebut, dengan harapan ada hasil yang baik.
Saya pikir ketiga arti tersebut ada di dalam kalimat Allah mencoba Abraham dan Allah melakukan itu bukan tanpa alasan dan bukan di dalam kebodohan alias ketidaktahuan-Nya akan respon Abraham. Seperti yang dituliskan Pak Yohan, mungkin ada orang-orang yang berpikir atau merasa bahwa Allah sedang mempermainkan Abraham, atau Allah terlihat sebagai Allah yang membingungkan manusia. Ya, kita bisa mengatakan itu jika kita melihat hal tersebut dari kacamata manusia.
Seperti yang dapat kita baca, kisah ini berakhir dengan happy ending. Ishak tidak jadi dikorbankan--secara literal--dan Abraham pun mendapatkan seekor domba jantan yang akhirnya dikorbankan kepada Tuhan. Namun, sudah beberapa kali saya mencoba mendalami kisah ini, terutama dari sisi Abraham, rasanya happy ending tersebut tidak dilalui dengan mudah. Ishak adalah anak tunggal dari Abraham dan Sara. Ia juga dapat dikatakan adalah anak perjanjian dari Tuhan untuk Abraham; anak yang darinya akan muncul sebuah bangsa yang besar; anak yang darinya juga lahir Tuhan Yesus Kristus. Saya yakin bukan sebuah hal yang mudah bagi Abraham untuk begitu saja mempersembahkan Ishak untuk Tuhan. Pak Yohan juga mengatakan pendapat yang serupa. Bahkan ia menambahkan bahwa lebih mudah bagi Abraham untuk memberikan Sara. Buktinya setelah Sara meninggal, Abraham mengambil istri lagi (Ketura). Bahkan ketika Abraham dan Sara tidak sabar menanti janji Tuhan, Abraham mau-mau saja tuh memiliki anak dari hambanya, yaitu Hagar. Jelas sekali bahwa Abraham teramat sangat mengasihi Ishak. Namun, perlu kita ketahui dan sadari juga, bahwa Abraham adalah seorang percaya yang tidak hanya tahu siapa Tuhannya, tetapi juga mengenal Tuhannya. Ia bergaul sangat akrab dengan Tuhannya. Meskipun saya yakin secara manusia ada pergumulan hebat di dalam dirinya, tetapi Abraham tetap menaati perintah Tuhan untuk mempersembahkan Ishak. Hal ini diakui oleh penulis surat Ibrani di dalam Ibrani 11:17-19. Iman Abraham untuk taat kepada Tuhan bukanlah iman yang melompat dalam gelap. Jika saya meminjam istilah John Bunyan, maka Abraham betul-betul adalah seorang yang hidup di hadapan Allah yang tidak kelihatan. Imannya jauh menembus batasan lahiriah seorang manusia. Iman yang lahir dari relasi yang intim dan indah dengan Tuhannya.
Dari kisah ini, sebelum saya sampai kepada apa yang Pak Yohan paparkan berikutnya, saya merenungkan relasi di antara kisah ini dengan sebuah ayat yang sangat terkenal di Alkitab, yaitu Yohanes 3:16. Inilah keindahan Alkitab, firman Tuhan yang saya kagumi sampai saat ini. Alkitab bukanlah serentetan kisah atau catatan peristiwa sejarah yang tanpa alur dan tanpa ikatan. Kisah ini pun membawa saya akhirnya merenungi akan jalan panggilan yang Tuhan sediakan bagi saya. Seringkali dalam kehidupan ini saya banyak meminta kepada Tuhan. Seperti judul renungan dari Pak Yohan, Anda Meminta Allah Memberi. Ya, saya meminta dan Tuhan pun memberi, bahkan di luar dugaan saya! Namun, ketika kehidupan ini berganti menjadi Jika Allah Meminta, apa respon saya? Sesungguhnya di dalam keberdosaan saya pernah kecewa dengan Tuhan, ketika ia meminta bahkan mengambil apa dan siapa yang saya kasihi.
Hampir 28 tahun saya menjalani kehidupan yang fana di dunia ini. Sudah 4 tahun sejak saya menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Baru 2 tahun saya menjalani proses pembentukkan di seminari Alkitab, sebagai bagian dari jalan panggilan yang Tuhan sediakan bagi saya. Ketika saya melihat ke belakang, peristiwa demi peristiwa, khususnya momen di mana Tuhan meminta dan mengambil apa dan siapa yang saya kasihi, saya sampai kepada satu kesimpulan: Tuhan terlalu baik buat saya. Ia meminta bukan tanpa alasan, apalagi alasan yang buruk. Ia meminta semata-mata hanya untuk memberikan yang lebih baik, bahkan yang terbaik untuk saya, yaitu diri-Nya sendiri. Berkali-kali Tuhan memberikan diri-Nya untuk saya hanya untuk mengingatkan betapa berharganya saya untuk-Nya. Tuhan tidak ingin saya kecewa dengan sesuatu atau seseorang yang saya pikir baik dan akan membuat hidup saya lebih bahagia. Tuhan ingin saya melepaskan semua itu dan sungguh-sungguh memiliki-Nya terlebih dahulu. Ketika saya sudah memiliki Tuhan sepenuhnya dan Tuhan memberikan sesuatu atau seseorang, itu hanyalah bonus. Sungguh, betapa Tuhan sangat baik dan mengasihi saya.
Pak Yohan menggambarkan tindakan Abraham ketika mempersembahkan Ishak sebagai sebuah tindakan yang memberi lebih dari dirinya sendiri. Abraham sudah memberikan secara habis-habisan. Abraham sudah memberikan milik pusakanya yang fana untuk mendapatkan kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah dan Allah yang tidak kelihatan. Teladan iman ini menjadi perenungan pribadi untuk saya. Sudahkah saya habis-habisan di dalam memberi diri bagi Tuhan? Sudahkah saya tahu dan sadar bahwa milik pusaka saya hanyalah Tuhan dan surga-Nya? Sudahkah saya hidup setia dan taat di hadapan Tuhan yang tidak kelihatan? Mungkin terdengar dan terkesan klise, tetapi inilah kenyataan hidup sebagai anak Tuhan. Hidup di hadapan Tuhan yang tidak kelihatan, dengan iman dan anugerah. Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2Kor. 5:7). Soli Deo gloria!
Bandung, 14 Juli 2015
Di penghujung praktik pelayanan dua bulan,
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar