Sudah sampai mana? (part 2)
Shepherd of My Soul (Marty J. Nystrom)
Shepherd of my soul, I give You full control
Wherever You may lead I will follow
I have made the choice to listen to Your voice
Wherever You may lead I will go
Be it in a quiet pasture or by a gentle stream
The Shepherd of my soul is by my side
Should I face a mighty mountain or a valley dark and deep
The Shepherd of my soul will be my guide
Shepherd of my soul, oh You have made me whole
Wherever I hear You call how my tears flow
How I feel Your love, how I want to serve
I gladly give my heart to You, O Lord
Be it in the flowing river or in the quiet night
The Shepherd of my soul is by my side
Should I face the stormy weather or the dangers of this world
The Shepherd of my soul will be my guide
Beberapa hari lalu saya membuka Facebook dan menemukan salah seorang rekan saya posting secuplik dari lagu di atas. Sekilas saya melihat kata-katanya menarik, lalu saya mencari full lyrics dari lagu tersebut. Ketika merenungkan akan lirik dari lagu di atas, saya kembali teringat akan akhir dari perjalanan hidup Yakub. Izinkan saya menerjemahkan dengan bahasa saya untuk kedua ayat berikut ini:
Kalau melihat sejenak masa lalu Yakub, benarlah apa yang ia katakan di dalam Kejadian 47:9. Rasanya tidak mungkin ia dapat menyadari kehadiran Tuhan di dalam hidupnya. Ia bisa saja mengetahui, tetapi tidak menyadari dan tidak mengenal siapa Tuhan yang berjalan bersamanya. Namun, di akhir hidupnya Yakub menyadari bahwa hari demi hari, tahun demi tahun yang ia lalui sesungguhnya sia-sia, seperti kata Pengkhotbah: segala sesuatu adalah sia-sia. Oleh karena itu, di akhir hidupnya juga ketika ia mengingat akan Tuhan yang selalu ada di sepanjang kehidupannya yang sia-sia, ia dapat menyaksikan kasih setia Tuhan, yang tetap menjaga dan memelihara hidupnya, sekalipun dalam keadaan-keadaan yang buruk. Momen-momen Betel dan Pniel, momen-momen di mana ia berjumpa dengan Tuhan seakan terputar di pikirannya dan ia maknai, ia rasakan di dalam hatinya. Momen-momen ketika Tuhan memanggil dia, lagi dan lagi tanpa bosan, momen-momen itu tercuplik seperti video di dalam hati dan pikiran Yakub. Di akhir hidupnya yang fana, Yakub dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah gembala hidupnya. Tuhan juga adalah penyelamat hidupnya, yang membawa dia dari Yakub menjadi Israel. Yakub mengalami transformasi hidup. Di dalam perjalanan hidupnya, Yakub mengalami dan mengenal Tuhannya.
Bagian akhir dari kitab Kejadian--untuk saya pribadi--sesungguhnya bukan bercerita mengenai Yusuf, tetapi mengenai Yakub, dan ketika merenungkan akan bagian ini, tiga pertanyaan muncul di benak saya:
1. Siapakah Tuhan bagi saya?
2. Adakah saya mengetahui dan menyadari bahwa Tuhan selalu berjalan bersama saya?
3. Sudah sampai di mana perjalanan saya bersama Tuhan?
Hidup saya tidak lebih baik dari Yakub. Namun, ketika menoleh ke belakang dan melihat jejak-jejak kaki Tuhan yang sungguh-sungguh nyata di dalam hidup saya yang fana ini, saya dengan berani dan sukacita dapat berkata bahwa sesungguhnya Tuhan adalah gembala dan penyelamat hidup saya. Saya hanyalah domba-Nya yang hina dan bodoh, tidak tahu arah kehidupan, seringkali pura-pura tidak mengenal gembalanya, dan menghiraukan panggilan gembalanya. Seringkali saya terhilang di dalam perjalanan hidup ini. Saya bertanya, "Di mana Tuhan??? Bukankah baru saja Ia bersama-sama denganku??? Lalu, di mana Dia sekarang???" Sungguh, rentetan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bodoh dan retoris. Tetapi Tuhan tidak bosan-bosannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kebaikan demi kebaikan-Nya, anugerah demi anugerah-Nya, nasihat demi nasihat-Nya, yang semata-mata hanya untuk membawa saya kembali ke dalam hadirat-Nya; untuk menikmati kembali keindahan pribadi-Nya dan tuntunan-Nya yang misterius sekaligus ajaib! Biarlah di mana pun saya berada, ke mana pun Tuhan memanggil saya untuk melayani-Nya, dan dalam keadaan apapun saya dapat berkata, "Tuhan adalah gembalaku yang baik, dan aku tidak pernah kekurangan akan apapun dan siapa pun, karena Tuhan sudah lebih dari cukup bagiku..."
Tuhan, aku ingin semakin mengenal Engkau di dalam menikmati akan hadirat-Mu yang berjalan bersamaku. Amin.
Bandung, 9 Juli 2015
Misael Prawira.
Wherever You may lead I will follow
I have made the choice to listen to Your voice
Wherever You may lead I will go
The Shepherd of my soul is by my side
Should I face a mighty mountain or a valley dark and deep
The Shepherd of my soul will be my guide
Wherever I hear You call how my tears flow
How I feel Your love, how I want to serve
I gladly give my heart to You, O Lord
The Shepherd of my soul is by my side
Should I face the stormy weather or the dangers of this world
The Shepherd of my soul will be my guide
Beberapa hari lalu saya membuka Facebook dan menemukan salah seorang rekan saya posting secuplik dari lagu di atas. Sekilas saya melihat kata-katanya menarik, lalu saya mencari full lyrics dari lagu tersebut. Ketika merenungkan akan lirik dari lagu di atas, saya kembali teringat akan akhir dari perjalanan hidup Yakub. Izinkan saya menerjemahkan dengan bahasa saya untuk kedua ayat berikut ini:
Kejadian 47:9 "Hari-hari dari tahun-tahun pengembaraanku adalah 130 tahun. Hari-hari itu pendek dan tidak penting, jahat dan tidak berguna, tidak berkualitas sama sekali! Bahkan belum menyamai hari-hari dari tahun-tahun pengembaraan ayah dan kakekku."
Kejadian 48:15-16 "Allah, yang di hadapan-Nya ayah dan kakekku hidup; Allah yang sudah menjadi Gembala selama hidupku sampai sekarang ini; Sang Malaikat yang telah membebaskanku dari segala yang jahat."
Kalau melihat sejenak masa lalu Yakub, benarlah apa yang ia katakan di dalam Kejadian 47:9. Rasanya tidak mungkin ia dapat menyadari kehadiran Tuhan di dalam hidupnya. Ia bisa saja mengetahui, tetapi tidak menyadari dan tidak mengenal siapa Tuhan yang berjalan bersamanya. Namun, di akhir hidupnya Yakub menyadari bahwa hari demi hari, tahun demi tahun yang ia lalui sesungguhnya sia-sia, seperti kata Pengkhotbah: segala sesuatu adalah sia-sia. Oleh karena itu, di akhir hidupnya juga ketika ia mengingat akan Tuhan yang selalu ada di sepanjang kehidupannya yang sia-sia, ia dapat menyaksikan kasih setia Tuhan, yang tetap menjaga dan memelihara hidupnya, sekalipun dalam keadaan-keadaan yang buruk. Momen-momen Betel dan Pniel, momen-momen di mana ia berjumpa dengan Tuhan seakan terputar di pikirannya dan ia maknai, ia rasakan di dalam hatinya. Momen-momen ketika Tuhan memanggil dia, lagi dan lagi tanpa bosan, momen-momen itu tercuplik seperti video di dalam hati dan pikiran Yakub. Di akhir hidupnya yang fana, Yakub dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah gembala hidupnya. Tuhan juga adalah penyelamat hidupnya, yang membawa dia dari Yakub menjadi Israel. Yakub mengalami transformasi hidup. Di dalam perjalanan hidupnya, Yakub mengalami dan mengenal Tuhannya.
Bagian akhir dari kitab Kejadian--untuk saya pribadi--sesungguhnya bukan bercerita mengenai Yusuf, tetapi mengenai Yakub, dan ketika merenungkan akan bagian ini, tiga pertanyaan muncul di benak saya:
1. Siapakah Tuhan bagi saya?
2. Adakah saya mengetahui dan menyadari bahwa Tuhan selalu berjalan bersama saya?
3. Sudah sampai di mana perjalanan saya bersama Tuhan?
Hidup saya tidak lebih baik dari Yakub. Namun, ketika menoleh ke belakang dan melihat jejak-jejak kaki Tuhan yang sungguh-sungguh nyata di dalam hidup saya yang fana ini, saya dengan berani dan sukacita dapat berkata bahwa sesungguhnya Tuhan adalah gembala dan penyelamat hidup saya. Saya hanyalah domba-Nya yang hina dan bodoh, tidak tahu arah kehidupan, seringkali pura-pura tidak mengenal gembalanya, dan menghiraukan panggilan gembalanya. Seringkali saya terhilang di dalam perjalanan hidup ini. Saya bertanya, "Di mana Tuhan??? Bukankah baru saja Ia bersama-sama denganku??? Lalu, di mana Dia sekarang???" Sungguh, rentetan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bodoh dan retoris. Tetapi Tuhan tidak bosan-bosannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kebaikan demi kebaikan-Nya, anugerah demi anugerah-Nya, nasihat demi nasihat-Nya, yang semata-mata hanya untuk membawa saya kembali ke dalam hadirat-Nya; untuk menikmati kembali keindahan pribadi-Nya dan tuntunan-Nya yang misterius sekaligus ajaib! Biarlah di mana pun saya berada, ke mana pun Tuhan memanggil saya untuk melayani-Nya, dan dalam keadaan apapun saya dapat berkata, "Tuhan adalah gembalaku yang baik, dan aku tidak pernah kekurangan akan apapun dan siapa pun, karena Tuhan sudah lebih dari cukup bagiku..."
Tuhan, aku ingin semakin mengenal Engkau di dalam menikmati akan hadirat-Mu yang berjalan bersamaku. Amin.
Bandung, 9 Juli 2015
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar