Panggilan yang Mulia: Sebuah refleksi terhadap panggilan menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu
Sejujurnya tulisan ini
terinspirasi dari beberapa teman--dari setahun lebih yang lalu--yang
sering menanyakan: "Ada ga ya buku tentang panggilan menjadi hamba
Tuhan?" Jujur saya tidak terpikir satu judul buku pun yang spesifik
berbicara mengenai panggilan hidup untuk menjadi hamba Tuhan sepenuh
waktu. Oleh karena itu, saya pikir tidak ada salahnya juga saya
membagikan pengalaman dan perenungan saya di dalam menerima, menjawab,
dan menjalani panggilan Tuhan ini.
Saya sadar bahwa Tuhan memanggil saya menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu adalah sejak saya SMA. Seringkali di dalam sebuah ibadah umum, KKR, atau camp remaja saya gelisah ketika altar call dilakukan dan sampailah si hamba Tuhan di pertanyaan terakhir, yaitu panggilan untuk menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Seingat saya, pernah saya mengangkat tangan--berarti menjawab "ya" untuk menjadi hamba Tuhan--tetapi saya tidak mengisi form komitmen. Panggilan itu terus-menerus ada bahkan sampai saya kuliah dan di momen-momen yang mirip. Namun, panggilan ini serasa berlalu begitu saja buat saya. Seringkali pikiran saya mengatakan: "Ah, ga kepikiran jadi hamba Tuhan tuh seperti apa hidupnya. Lagian kan gue pengen sukses dulu di pekerjaan, nikah, punya keluarga, bahagiain orang tua." Ya, kurang lebih hal-hal seperti itulah yang terlintas di pikiran saya dan terus saya bawa sampai saya selesai kuliah.
Singkat cerita memang terbukti bahwa saya bisa bekerja dan dapat dikatakan cukup sukses untuk standar mahasiswa yang lulus tepat waktu dan langsung mendapatkan pekerjaan. Saya cukup menikmati dunia kerja yang saya geluti selama dua tahun di dua bidang yang berbeda. Saya tidak bisa memungkiri bahwa kesempatan saya bisa lulus kuliah tepat waktu dan masuk ke dunia kerja adalah berkat Tuhan. Namun, di saat-saat itu juga Tuhan tidak pernah lupa akan panggilan-Nya bagi saya untuk menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu.; panggilan-Nya yang jauh lebih besar dari arti hidup seorang manusia bernama Misael Prawira di dunia yang fana ini. Tuhan hanya ingin menanti saya menjawab "YA" dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya dan Tuhan tahu betul bahwa saya akan menjawab "YA."
Momen menjawab "YA" di hadapan Tuhan pun terjadi di tahun 2011 (kurang lebih di pertengahan tahun). Saat itu ketika saya sedang mengambil waktu tenang bersama Tuhan, saya "menyempatkan diri" dan "dengan sengaja" mempertanyakan panggilan Tuhan tersebut di waktu doa saya. Sungguh mengejutkan ketika itu Tuhan menjawab saya dengan deretan pelayanan-pelayanan yang sudah saya lalui bersama Tuhan dan Tuhan seolah bertanya: "Nak, siapa yang memberikanmu kemampuan untuk melakukan semua pelayanan itu? Bukankah AKU yang memberikannya? Nak, kembalikanlah semuanya itu untuk melayani-Ku sepenuh waktu. SEMUANYA." Saat itu, saya hanya bisa menangis terharu dan dari mulut saya hanya bisa terlontar satu jawaban: "Ya Tuhan, aku mau." Sebuah panggilan yang mulia hanya dapat dijawab dengan satu kata: Ya.
Ketika mengingat akan momen tersebut, saya teringat juga dengan perjalanan spiritual Yakub bersama Tuhan. Dapat dikatakan bahwa Yakub adalah seorang yang hidupnya penuh dengan skema, terutama skema penipuan. Ia menipu kakak kembarnya dan ayahnya. Tidak berhenti di situ, ia pun melarikan diri setelah melakukan penipuan demi penipuan tersebut. Bahkan ketika bertemu dengan calon istrinya, ia tidak serta merta mengatakan nama aslinya. Ia juga diizinkan bertemu dengan "Yakub kedua" di dalam diri sang calon mertua. Namun, Tuhan adalah Tuhan yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tuhan terus berjalan bersama Yakub melalui janji-janji-Nya yang terus Ia ingatkan kepada Yakub. Sampai akhirnya ketika Yakub bertemu Tuhan di Pniel dan bergulat dengan-Nya semalaman, ia tidak bisa berbohong lagi. Di hadapan Tuhan, yang menanyakan namanya, ia pun menjawab: "Yakub." Ya, Yakub sang penipu telah bertemu dengan Penciptanya. Ia tidak bisa lagi berbohong di hadapan TUHAN Sang Pencipta. Ia pun mengalami transformasi hidup, terbukti dengan namanya dari Yakub menjadi Israel; dari "sang penipu" menjadi "orang yang bergumul bersama Tuhan (dan mengalami kemenangan di dalam Tuhan)."
Israel menjalani sisa hidupnya bersama Tuhan dan hidupnya bukanlah hidup yang baik-baik saja. Begitu pula dengan saya, ketika saya menjawab "YA" terhadap panggilan Tuhan dan masuk ke seminari Alkitab untuk studi dan dibentuk Tuhan. Menjawab panggilan Tuhan yang mulia untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu bukan berarti saya akan melewati sebuah jalan hidup yang mudah, enak, dan mulus-mulus saja. Ketika Tuhan memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Ikutlah Aku," Ia tidak pernah menjanjikan sebuah kehidupan yang enak-enak saja. Namun, satu hal yang Ia janjikan dan tidak pernah tidak ditepati-Nya, yaitu diri-Nya sendiri. Diri-Nya, yang akan selalu memelihara, menjaga, membimbing, menegur, menasihati, dan melakukan hal-hal lainnya untuk menggenapi panggilan dan tujuan-Nya bagi anak-anak-Nya yang terpanggil menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Kita hanya perlu memberikan diri kita sepenuhnya untuk Dia; diri yang mau dibentuk dan diubahkan untuk memuliakan-Nya.
Tuhan memanggil setiap anak-Nya untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu dengan cara-cara-Nya yang unik. Kita tidak bisa menyamakan pengalaman panggilan Tuhan untuk satu orang dengan orang lainnya. Namun, satu yang perlu kita yakini, yaitu tidak ada kata terlambat bagi Tuhan.
Ini hanya sebagian dari kesaksian saya dalam menjalani panggilan Tuhan menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Saya hanya berdoa semoga Tuhan dapat memakai kesaksian saya untuk menjadi sebuah dorongan positif bagi anak-anak Tuhan di luar sana--di mana pun kalian berada--yang sedang bergumul untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Amin. Soli Deo gloria!
"Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" - 2 Korintus 5:7. Remember, God's calling is always larger than life!
Jakarta, 13 Januari 2015
Misael Prawira.
Saya sadar bahwa Tuhan memanggil saya menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu adalah sejak saya SMA. Seringkali di dalam sebuah ibadah umum, KKR, atau camp remaja saya gelisah ketika altar call dilakukan dan sampailah si hamba Tuhan di pertanyaan terakhir, yaitu panggilan untuk menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Seingat saya, pernah saya mengangkat tangan--berarti menjawab "ya" untuk menjadi hamba Tuhan--tetapi saya tidak mengisi form komitmen. Panggilan itu terus-menerus ada bahkan sampai saya kuliah dan di momen-momen yang mirip. Namun, panggilan ini serasa berlalu begitu saja buat saya. Seringkali pikiran saya mengatakan: "Ah, ga kepikiran jadi hamba Tuhan tuh seperti apa hidupnya. Lagian kan gue pengen sukses dulu di pekerjaan, nikah, punya keluarga, bahagiain orang tua." Ya, kurang lebih hal-hal seperti itulah yang terlintas di pikiran saya dan terus saya bawa sampai saya selesai kuliah.
Singkat cerita memang terbukti bahwa saya bisa bekerja dan dapat dikatakan cukup sukses untuk standar mahasiswa yang lulus tepat waktu dan langsung mendapatkan pekerjaan. Saya cukup menikmati dunia kerja yang saya geluti selama dua tahun di dua bidang yang berbeda. Saya tidak bisa memungkiri bahwa kesempatan saya bisa lulus kuliah tepat waktu dan masuk ke dunia kerja adalah berkat Tuhan. Namun, di saat-saat itu juga Tuhan tidak pernah lupa akan panggilan-Nya bagi saya untuk menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu.; panggilan-Nya yang jauh lebih besar dari arti hidup seorang manusia bernama Misael Prawira di dunia yang fana ini. Tuhan hanya ingin menanti saya menjawab "YA" dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya dan Tuhan tahu betul bahwa saya akan menjawab "YA."
Momen menjawab "YA" di hadapan Tuhan pun terjadi di tahun 2011 (kurang lebih di pertengahan tahun). Saat itu ketika saya sedang mengambil waktu tenang bersama Tuhan, saya "menyempatkan diri" dan "dengan sengaja" mempertanyakan panggilan Tuhan tersebut di waktu doa saya. Sungguh mengejutkan ketika itu Tuhan menjawab saya dengan deretan pelayanan-pelayanan yang sudah saya lalui bersama Tuhan dan Tuhan seolah bertanya: "Nak, siapa yang memberikanmu kemampuan untuk melakukan semua pelayanan itu? Bukankah AKU yang memberikannya? Nak, kembalikanlah semuanya itu untuk melayani-Ku sepenuh waktu. SEMUANYA." Saat itu, saya hanya bisa menangis terharu dan dari mulut saya hanya bisa terlontar satu jawaban: "Ya Tuhan, aku mau." Sebuah panggilan yang mulia hanya dapat dijawab dengan satu kata: Ya.
Ketika mengingat akan momen tersebut, saya teringat juga dengan perjalanan spiritual Yakub bersama Tuhan. Dapat dikatakan bahwa Yakub adalah seorang yang hidupnya penuh dengan skema, terutama skema penipuan. Ia menipu kakak kembarnya dan ayahnya. Tidak berhenti di situ, ia pun melarikan diri setelah melakukan penipuan demi penipuan tersebut. Bahkan ketika bertemu dengan calon istrinya, ia tidak serta merta mengatakan nama aslinya. Ia juga diizinkan bertemu dengan "Yakub kedua" di dalam diri sang calon mertua. Namun, Tuhan adalah Tuhan yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tuhan terus berjalan bersama Yakub melalui janji-janji-Nya yang terus Ia ingatkan kepada Yakub. Sampai akhirnya ketika Yakub bertemu Tuhan di Pniel dan bergulat dengan-Nya semalaman, ia tidak bisa berbohong lagi. Di hadapan Tuhan, yang menanyakan namanya, ia pun menjawab: "Yakub." Ya, Yakub sang penipu telah bertemu dengan Penciptanya. Ia tidak bisa lagi berbohong di hadapan TUHAN Sang Pencipta. Ia pun mengalami transformasi hidup, terbukti dengan namanya dari Yakub menjadi Israel; dari "sang penipu" menjadi "orang yang bergumul bersama Tuhan (dan mengalami kemenangan di dalam Tuhan)."
Israel menjalani sisa hidupnya bersama Tuhan dan hidupnya bukanlah hidup yang baik-baik saja. Begitu pula dengan saya, ketika saya menjawab "YA" terhadap panggilan Tuhan dan masuk ke seminari Alkitab untuk studi dan dibentuk Tuhan. Menjawab panggilan Tuhan yang mulia untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu bukan berarti saya akan melewati sebuah jalan hidup yang mudah, enak, dan mulus-mulus saja. Ketika Tuhan memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Ikutlah Aku," Ia tidak pernah menjanjikan sebuah kehidupan yang enak-enak saja. Namun, satu hal yang Ia janjikan dan tidak pernah tidak ditepati-Nya, yaitu diri-Nya sendiri. Diri-Nya, yang akan selalu memelihara, menjaga, membimbing, menegur, menasihati, dan melakukan hal-hal lainnya untuk menggenapi panggilan dan tujuan-Nya bagi anak-anak-Nya yang terpanggil menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Kita hanya perlu memberikan diri kita sepenuhnya untuk Dia; diri yang mau dibentuk dan diubahkan untuk memuliakan-Nya.
Tuhan memanggil setiap anak-Nya untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu dengan cara-cara-Nya yang unik. Kita tidak bisa menyamakan pengalaman panggilan Tuhan untuk satu orang dengan orang lainnya. Namun, satu yang perlu kita yakini, yaitu tidak ada kata terlambat bagi Tuhan.
Ini hanya sebagian dari kesaksian saya dalam menjalani panggilan Tuhan menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Saya hanya berdoa semoga Tuhan dapat memakai kesaksian saya untuk menjadi sebuah dorongan positif bagi anak-anak Tuhan di luar sana--di mana pun kalian berada--yang sedang bergumul untuk menjadi hamba-Nya sepenuh waktu. Amin. Soli Deo gloria!
"Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" - 2 Korintus 5:7. Remember, God's calling is always larger than life!
Jakarta, 13 Januari 2015
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar