(Jangan) takut akan gelap!


Hai kawan, jangan takut, jangan resah
Bila lampu kamar mulai dipadamkan
Ku kan s'lalu menyanyikan lagu ini
Hingga nanti kau tidur bers'limut mimpi

Jangan lupa esok kita punya janji
S'makin cepat kita tidur, s'makin cepat kita bertemu kembali

Berdoalah sebelum kita tidur
Jangan lupa cuci kaki tanganmu
Jangan lupa doakan mama papa kita

Jangan takut akan gelap
Kar'na gelap melindungi diri kita dari kelelahan

Nah, teman-teman yang (mungkin) umurnya dekat dengan saya, pasti tahu lagu di atas. Ya, 'Jangan Takut akan Gelap' yang dipopulerkan oleh salah satu penyanyi cilik wanita, yang sekarang sudah menjadi pemuda.

Beberapa waktu belakangan ini, sudah lebih dari 1 minggu Jakarta dikepung air, alias banjir. Puji Tuhan daerah perumahan saya dan sekitarnya sudah kering total. Namun, di saat-saat kebanjiran itulah, saya merasakan benar-benar yang namanya 'takut akan gelap'.

Sekitar 3 malam saya jadi satpam di rumah, ketika masa banjir minggu kemarin. Karena tingkat surut air yang tidak tinggi, maka orang tua saya memutuskan untuk mengungsi, berhubung listrik pun juga tidak ada dan ibu saya sakit, dan saya pun memutuskan untuk berjaga di rumah saja. Saya pikir, berjaga sendirian di rumah adalah hal yang sangat teramat mudah. Kalau bosan ya tinggal tidur, toh nanti pagi akan muncul kembali keesokan harinya, seperti yang tertuang di lagu di atas:"S'makin cepat kita tidur, s'makin cepat kita bertemu kembali." Namun, kenyataannya tidak semudah itu, apalagi ketika sore sudah mulai habis, dan terbitlah malam. Kegelapan yang menyelimuti perlahan itu benar-benar menyeramkan. Seumur hidup, saya rasa inilah ketakutan yang teramat sangat yang pernah saya alami.

Sepi.. Sendiri.. Dirundung gelap.. Hanya 2 batang lilin yang menemani..

Di sekitar rumah saya benar-benar seperti 'kota mati', seperti juga yang disampaikan teman-teman saya yang membagikan sembako keliling dengan menggunakan perahu. Saya sampai kehabisan akal harus berbuat apa. Rasanya seperti ditekan oleh si kegelapan itu, ketika matahari di sore hari mulai ditutupi oleh awan-awan malam. Kegelapan muncul perlahan, seperti sekumpulan serigala yang akan menerkam mangsanya. Ya, sekumpulan kegelapan yang sepertinya akan meluluhlantahkan saya, dan hanya akan membuat saya termangu melewati malam yang kelam. Saya pun jadi teringat orang-orang yang bekerja dengan situasi seperti yang saya alami. Satpam, penjaga toko, pegawai kebersihan di perkantoran, dan pekerjaan lainnya yang situasinya kurang lebih seperti ini:

1. Melakukan pekerjaan yang sama berulang kali
2. Cenderung tidak ada rekan kerja. Kalau pun ada, mereka akan cepat bosan karena poin pertama
3. Sering lembur. Bayangkan poin 1 dan 2 terulang dalam durasi yang lama, alias selama masa mereka bekerja.

Di tengah situasi seperti itu, ada Pribadi yang selalu setia menemani saya, yang untuk beberapa saat saya lupakan, karena si kegelapan yang seakan lebih berkuasa. Ya, Pribadi yang sangat mengenal diri saya, yaitu Tuhan Yesus Kristus, sang gembala dan sobat yang setia. Ketika Tuhan mengingatkan saya akan kasih setia-Nya, saya langsung tersadar.

Oh iya ya, ada Tuhan Yesus! Kenapa saya bodoh sekali! Kenapa saya hanya fokus di kegelapan, kesepian, dan kesendirian?

Kasih setia Tuhan itulah yang akhirnya memulihkan saya dan menggerakkan saya untuk mengisi malam demi malam dengan memuji nama-Nya. Nama yang lebih berkuasa dari kegelapan dan dari segala hal yang ada di alam semesta yang Ia ciptakan. Nama yang sudah menyelamatkan saya, memberikan saya hidup kekal dan menganugerahkan berkat yang limpah, yang selalu baru dari hari ke hari. Dan di saat-saat itulah, saya mengalami personal worshipyang indah, hadirat Tuhan yang sangat menawan, tak pernah saya alami sebelumnya. Saya hanya bisa berkata:"Puji Tuhan! Ia sungguh baik bagi anak-anak-Nya. Kasih setia-Nya selalu nyata bagiku."

Ya, sungguh benar bahwa kasih setia Tuhan Yesus tetap untuk selama-lamanya. Ketika kita melupakan Dia, bahkan sampai mengecewakan dan meninggalkan Dia, Sang Pribadi itu tetap ada di samping kita dengan kasih-Nya yang tulus dan tak terbatas oleh dosa dan kegagalan kita. Saya sungguh bersyukur, dan teramat bersyukur untuk kasih setia dan pemeliharaan Tuhan Yesus.

Melalui berbagai peristiwa di hidup saya, baik itu kecil maupun besar, baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami oleh orang lain, Tuhan mengajarkan banyak hal kepada saya, dan semakin hari Ia terus membuat saya semakin dekat dengan-Nya, dan saya hanya bisa berkata:"Benar Tuhan, sungguh besar kasih setia dan rahmat-Mu kepada kami. Sudah sepatutnya puji syukur dan sembah kami naikkan untuk nama-Mu yang Maha kuasa dan Maha besar itu."

Mazmur 66:20 - Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.



Jakarta, 23 Januari 2013

Di tengah musim hujan,


Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer