The Greatest Showman ever live!
Beberapa kali teman dan juga jemaat menyatakan kepada saya bahwa sebuah film berjudul The Greatest Showman sangat layak disimak, khususnya bagi orang-orang yang menyukai ataupun mendalami seni musik seperti saya. Beberapa kali saya mencari kesempatan untuk menonton film ini, namun seperti belum jodoh. Dan tibalah waktu yang tepat untuk menonton film ini, yaitu ketika saya tak terpikir untuk menontonnya (kalau bingung dengan kalimat ini, jangan mencoba untuk menafsirnya, nanti semakin bingung).
Film ini mengisahkan (little spoiler alert untuk yang belum nonton) perjalanan hidup seorang pria bernama Phineas Taylor Barnum, atau dikenal dengan nama P. T. Barnum. Dikisahkan di awal film, Phineas kecil hidup dengan ayahnya yang adalah seorang penjahit dari kalangan menengah ke bawah. Profesi penjahit pada waktu itu bukan profesi yang dihargai dengan baik, sehingga Phineas pun bermimpi bahwa suatu saat ia akan menjadi seseorang yang terkenal dan tidak perlu lagi mendapatkan cemoohan masyarakat akan apa yang ia kerjakan. Singkat cerita, berbekal kecerdikannya Phineas berhasil membuat sebuah museum yang berisi barang-barang antik dan menarik. Namun, museum ini tidak berhasil menarik perhatian masyarakat, sampai suatu hari anak-anaknya mengatakan bahwa museum tersebut memerlukan "sesuatu yang nyata, yang lebih hidup." Melalui celotehan anak-anaknya, selangkah demi selangkah Phineas mencari "sesuatu yang nyata, yang lebih hidup" di dalam diri orang-orang yang unik: Pria cebol berusia 22 tahun, wanita berjenggot dan bersuara sangat merdu, akrobator bersaudara berdarah African-American, pria besar berbobot 250 kilogram, pria kelebihan tinggi badan, dan berbagai "jenis" orang unik lainnya. Dalam waktu singkat, Phineas berhasil menyatukan keunikan-keunikan orang-orang ini dan ia "sulap" menjadi sebuah pertunjukkan terbesar (The Greatest Show) di Amerika. Tak berhenti di situ, di tengah ketenaran sekaligus cercaan beberapa pihak, Phineas menjalin kerja sama dengan artis-artis terkenal lintas negara. Ketenaran di tanah air sendiri tidak memuaskannya. Ia harus terkenal di seluruh dunia. Namun, di puncak karirnya sebagai showman, museum sekaligus arena pertunjukkan Phineas di New York terbakar habis. Ia pun terganjal skandal dengan artisnya sendiri. Ia pun ditinggalkan oleh istri dan kedua anaknya. Di saat itulah Phineas menyadari bahwa kepuasan hidupnya tidak terletak pada ketenarannya sebagai seorang showman. Ia mendapatkan kepuasan hidupnya ketika ia boleh menikmati momen demi momen bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Menyaksikan film ini--yang bisa dikatakan sebagai drama musikal--membawa hati, pikiran, dan kehendak saya menyatu dan seakan hadir bersama dengan adegan demi adegan di film ini. Saya boleh katakan film ini memiliki nilai seni yang mahal, karena film ini berhasil menyajikan filosofi-filosofi kehidupan modern dan pascamodern melalui sajian drama musikal. Saya tidak akan membahas apa itu modern dan pascamodern di dalam tulisan ini. Namun, saya tertarik untuk memfokuskan refleksi saya kepada filosofi-filosofi kehidupan yang hadir di film ini melalui apa yang Phineas dan rekan-rekannya lakukan, yang digambarkan dengan sangat jelas melalui lagu-lagu yang hadir di film ini.
Pertama, hidup ini adalah mengenai bagaimana menciptakan dunia (atau realitas) yang layak bagi kita. Jika dunia yang kita hidupi dan orang-orang yang kita temui tak dapat memberikan apa yang pantas bagi kita, maka kita harus--atau mungkin berhak--untuk menciptakan dunia kita sendiri. Bermimpilah sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, karena pada akhirnya ketika kita mencapai apa yang pantas, di saat itulah kita sedang bermimpi dengan mata terbuka.
Kedua, hidup ini adalah mengenai bagaimana kita dapat menunjukkan keunikan kita tanpa merasa tertekan. Kita mungkin memiliki cacat fisik, "kelainan" gender, perbedaan ras, karakter (kepribadian) yang aneh. Namun, itu semua tidak dapat menghalangi kita untuk menunjukkan siapa kita. We deserve to be called unique in every way: when we are bruised, broken, and abandoned. Keunikan kita adalah keindahan tersembunyi yang harus didemonstrasikan, dan di saat itulah kita merdeka.
Ketiga, tidak ada kata "cukup" bagi segala impian kita. Ketenaran dan harta adalah elemen-elemen kepuasan hidup yang harus terus dikejar dan tidak pernah ada batasnya. Tiga filosofi kehidupan ini dirangkum di dalam sebuah frasa: The Greatest Show. Pertunjukkan terbesar adalah ketika manusia berhasil menciptakan dunia yang pantas baginya, tak peduli seunik apa dirinya, masa lalunya, karakternya, status ekonomi dan sosialnya, karena justru dengan itulah manusia dapat merdeka.
Sembari menonton film ini, filosofi-filosofi di atas seakan berbincang satu sama lain di dalam diri saya dan saya pun merefleksikan akan hidup saya saat ini, khususnya bagaimana saya hidup sebagai murid Tuhan saya dan sebagai hamba dari Allah yang hidup.
Pertama, sebagai manusia berdosa saya tidak mampu untuk menciptakan dunia (realitas) yang pantas dan memuaskan bagi saya. Satu hal yang pantas bagi manusia berdosa adalah maut, kematian kekal. Segala pencapaian saya di dunia tidak akan dapat mengubah status saya sebagai manusia berdosa dan realitas dunia berdosa nan fana di mana saya hidup di dalamnya.
Kedua, saya tidak dapat berbangga akan keunikan diri saya. Saya paham bahwa tidak baik kalau seseorang merasa rendah diri karena kelemahan dan keterbatasannya. Namun, jika saya dapat mencapai prestasi-prestasi tertentu di tengah berbagai kelemahan dan keterbatasan saya, maka tidak seharusnya saya berbangga dan berkata: "Ini semua karena saya. Ini semua adalah tentang saya."
Ketiga, pengejaran kepuasan hidup bagaikan menjaring angin dan mengisi air ke dalam sumur kering. Seorang raja bijak nan kaya pernah berkata bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah sia-sia, layaknya uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Jika manusia mengejar kepuasan dunia bagi dirinya, maka ia akan terus-menerus tenggelam di dalamnya dan tidak ada kata "cukup." Dengan demikian, jelas sebagai manusia fana dan berdosa saya tidak layak menyebut diri saya sebagai the greatest showman ever live on earth. Namun, di saat yang sama saya teringat bahwa ada The Greatest Showman yang saya kenal dan lebih dulu mengenal saya.
Seorang teolog bernama John Calvin pernah berkata bahwa alam semesta adalah sebuah teater dari pertunjukkan kemuliaan Allah (theatrum gloriae). Bagi Calvin, setiap aspek hidup manusia di dunia--baik itu pekerjaan, ibadah, seni, bahkan teknologi--sudah selayaknya menunjuk dan ditujukan kepada kemuliaan Allah. Melalui alam semesta Allah seraya berkata: "Inilah Aku, Sang Pencipta yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Aku adalah Aku yang kekal sepanjang zaman, dari generasi ke generasi. Aku adalah Allah yang tetap, tak terguncangkan oleh apa pun. Kemuliaan-Ku adalah dari diri-Ku, oleh diri-Ku, bagi diri-Ku, dan kembali kepada-Ku." Dengan demikian, jika ada pribadi yang layak menyatakan dirinya sebagai The Greatest Showman, maka itu adalah Allah sendiri. Bahkan Ia menunjukkan kasih-Nya yang terbesar bagi manusia berdosa melalui pertunjukkan akbar-Nya di dalam diri Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus di kayu salib. Melalui kematian Yesus yang mengerikan, keindahan ilahi didemonstrasikan secara ultimat. Melalui kebangkitan Yesus pun keindahan ilahi didemonstrasikan dengan mulia. Dengan demikian, jika Phineas Taylor Barnum pernah berkata: "The noblest art is that of making others happy (Bentuk seni yang paling mulia, terhormat adalah ketika kita dapat membuat orang lain bahagia)," maka Yesus sebagai The Greatest Showman ever live menyatakan: "The noblest beauty is that of reconciling sinners to their God, making them a new creation in me, the only source of their desires (Keindahan termulia, terhormat adalah ketika manusia berdosa didamaikan dengan Allah dan menjadikan mereka manusia-manusia baru di dalam-Ku, satu-satunya sumber kepuasan dari hasrat hidup mereka)."
Inilah realitas ultimat dari kehidupan manusia di dunia yang fana, yaitu hidup kita bukan mengenai diri kita sendiri, tetapi hanya tentang Allah dan hanya Allah saja. Dunia ini--bahkan seluruh isi alam semesta--adalah sebuah teater megah yang mempertontonkan kemuliaan-Nya yang indah dan ajaib. Kita tak layak mengklaim kemuliaan dunia bagi diri kita dan menunjuk diri kita sebagai the greatest showman. Hanya Allah yang layak mengklaim kemuliaan dunia bagi diri-Nya sendiri, karena Dialah The Greatest Showman ever live. Soli Deo Gloria!
Bandung, 29 Januari 2018
Misael Prawira.


Best.. Apa yang ada di dunia, walaupun sepertinya positif, bisa mengaburkan jati diri seorang Kristen. Terima kasih ulasan mengingatkan kembali kita semua.
BalasHapus