Sudah 9 bulan! Refleksi yang terlupakan di awal tahun 2018.

Mengawali tahun 2018 saya berkesempatan untuk berlibur ke beberapa kota di kawasan Jawa Tengah bersama dengan rekan-rekan rohaniwan di gereja tempat saya praktik pelayanan. Di tengah keseruan, kenikmatan, dan keletihan berlibur saya melupakan satu hal yang lebih besar dari liburan tersebut: Pimpinan Tuhan selama 9 bulan saya menjalani praktik pelayanan satu tahun.

Ya, tepat 1 Januari 2018 kemarin Tuhan memimpin saya selama 9 bulan di Bandung. Bagi kaum wanita yang berkeluarga, waktu 9 bulan pasti mengingatkan para ibu akan sebuah periode mengandung dan setelah itu melahirkan bayi. Saya belum pernah dan tidak akan pernah menjalani periode mengandung dan melahirkan layaknya para wanita. Namun, kalau bisa berandai-andai dan sedikit berbela rasa, periode tersebut mungkin dilalui dengan perasaan yang gado-gado. Demikian pula dengan masa praktik pelayanan satu tahun saya, khususnya selama sembilan bulan ini.

Di awal masa praktik, saya mengalami kebingungan; bingung karena jadwal rutin saya berubah. Di kampus jadwal rutin saya bisa dikategorikan teratur. Bahkan di masa penulisan skripsi rasanya jadwal harus seketat mungkin supaya penulisan skripsi bisa segera selesai. Ketika masuk ladang pelayanan satu tahun, di awal periode pelayanan saya bingung, karena waktu kosong bertambah dan juga jadwal pelayanan belum menentu. Saya sempat merasa tidak produktif. Namun, Tuhan setia mengingatkan saya untuk memanfaatkan waktu luang dengan membaca firman dan buku-buku teologi--walaupun tak selalu saya lakukan karena tidur dan jalan-jalan terasa lebih menyenangkan.

Perlahan tapi pasti, jadwal rutin saya kembali berubah menjadi lebih teratur. Jadwal pelayanan saya mulai tertata dan saya bisa mengatur waktu kapan-kapan saja saya harus mempersiapkan pelayanan. Saya juga mulai menikmati hari Senin, yang menjadi "hari libur" saya--walaupun kebanyakan hari Senin justru saya pakai untuk persiapan pelayanan. Selain itu, saya belajar menikmati beberapa kejutan pelayanan yang Tuhan berikan. Satu yang saya ingat adalah melatih paduan suara. Pelayanan ini memberikan pengalaman baru bagi saya, walaupun saya bukan orang yang asing dengan dunia musik gereja. Kejutan dari Tuhan tidak berhenti di sana. Saya pun diizinkan mengalami konflik jemaat, mulai dari mendengar cerita, dimintai pendapat, sampai berkonflik langsung dengan jemaat. Saya mulai menyadari bahwa melayani gereja Tuhan tidak semudah yang dilihat dan tidak seindah yang didengar. Saya pun teringat akan doa saya kepada Tuhan sebelum saya memulai praktik pelayanan, yaitu agar Tuhan berkenan memakai saya melayani dengan habis-habisan. Dan saya pikir betul demikian; melayani Tuhan tidak bisa setengah-setengah. Tuhan mau saya melayani habis-habisan, sesuai dengan tanggung jawab pelayanan yang Ia percayakan.

Dengan segala kelemahan karakter dan keterbatasan diri saya belajar memberi diri habis-habisan bagi Tuhan. "Paketnya" bukan paket yang menghasilkan kesenangan. Tidak jarang saya disalahpahami, pendapat tidak disetujui, dan dibicarakan (baca: digosipkan) di belakang. Namun, ketika saya letih rohani, Tuhan mengingatkan saya bahwa setiap hal buruk yang saya alami tidak ada bandingannya dengan apa yang sudah Tuhan alami bahkan yang Ia tanggung di kayu salib. Menjadi hamba Tuhan berhati gembala, berpikiran layaknya filsuf, dan memiliki tindakan layaknya seorang teolog bukanlah paket panggilan yang gampangan. Saya menyadari bahwa inilah yang Tuhan mau saya miliki sebagai hamba-Nya. Selain itu, Tuhan juga rindu saya memiliki tabungan-tabungan karakter yang lebih besar: tabungan kasih, kesetiaan, pengampunan, kerendahan hati, kesabaran, kebijaksanaan, ketekunan, dan pengendalian diri. Tuhan rindu kasih saya lebih besar dari murka saya, kerendahan hati yang membuat kesombongan terkubur, kebijaksanaan yang menutupi sifat impulsif saya, dan pengampunan yang melebihi segala hal buruk yang terjadi bagi saya.

Tak terasa sebentar lagi masa praktik pelayanan satu tahun ini berakhir. Saya pun berefleksi: Seberapa banyak saya sudah belajar dari Tuhan? Sesungguhnya saya percaya Tuhan sedang menyiapkan saya, mengasah karakter dan talenta yang ada untuk melayani Dia dengan habis-habisan; tidak hanya di masa praktik ini, tetapi juga di masa yang akan datang. Setiap masalah, konflik, gesekan, beragam interaksi dengan jemaat dan kesempatan demi kesempatan pelayanan dianugerahkan Tuhan untuk saya mengarahkan diri kepada panggilan-Nya yang mulia dan ajaib. Panggilan yang jauh lebih besar dari yang dapat saya pikirkan. Dan kalau Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik bagi saya, indahlah ketika saya pun menyiapkan diri menerima yang terbaik dari Tuhan. Menyiapkan diri dengan terus memandang kepada Dia, bukan kepada hal buruk yang ada di hadapan saya. Anugerah Tuhan selalu melimpah di tengah padang gurun kehidupan. Kiranya Dia terus memampukan saya untuk melayani dengan habis-habisan bagi Dia, bagi kemuliaan-Nya yang semakin indah.


Bandung, 15 Januari 2018


Fearfully and wonderfully made, splendidly and illogically chosen,

Misael Prawira. 

Komentar

Postingan Populer