Mengenali kebenaran untuk memilih yang benar

Menjelang momen Pilkada 2017 pada tanggal 15 Februari, beragam hal terjadi di bumi nusantara, mulai dari yang bernuansa politis, sosial, sampai agama dan suku. Ya, saya pikir setidaknya empat nuansa tersebut tidak terhindarkan, dan keempat nuansa ini menunjuk kepada satu hal: kebenaran, truth. Sekalipun yang sedang marak adalah pemilihan pemimpin daerah, namun pencarian akan kebenaran tak terhindarkan akhir-akhir ini. Setiap peristiwa yang terkait dengan momen Pilkada ini seakan memunculkan sebuah pertanyaan: "Apa itu kebenaran? What is truth?" Atau di dalam bahasa sederhananya, "Yang mana sih yang bener? Kok semuanya ngaku-ngaku bener?" Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini, saya mencoba "menawarkan" pemikiran dari seorang filsuf mengenai apa itu "kebenaran" dan seorang figur bersejarah yang pernah menyatakan klaim mengenai "kebenaran."

Seorang pemikir bernama Martin Heidegger pernah menyatakan, bahwa kebenaran (truth; aletheia) memiliki karakter unconcealed atau "tidak tersembunyi (membuka yang tersembunyi)." Karakter ini juga dapat dipahami dengan makna "dinyatakan," atau "dibukakan." Bagi saya pemahaman Heidegger sangat dekat dengan apa yang terjadi di tengah kehidupan manusia. Kebenaran tidak pernah menyembunyikan dirinya. Kebenaran selalu membukakan dirinya di hadapan semesta. Kebenaran tidak dapat dibendung oleh apapun dan siapapun. Nah, terkait dengan pemahaman kebenaran seperti ini, maka izinkan saya menyimpulkan, bahwa kebenaran tidak terbatas pada statusnya sebagai objek, tetapi lebih dari itu, sebagai subjek. Jika kebenaran itu adalah sebuah subjek, maka kebenaran dapat bersifat personal. Dengan kata lain, kebenaran menunjuk kepada pribadi (person). Dan siapa sangka, ribuan tahun yang lalu ada seorang figur bersejarah, yang menyatakan klaim mengenai kebenaran, demikian: "Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. I am the way, the truth, and the life." Ternyata, jauh-jauh hari sebelum Heidegger menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat "tidak tersembunyi" atau "dinyatakan," sudah ada seseorang yang mengklaim kebenaran itu secara personal. Kebenaran yang dinyatakan (ditunjukkan) melalui semesta, sehingga semestinya tidak seorang pun dapat berdalih. Kebenaran yang sejati, yang bersifat subversif, yaitu menjungkirbalikkan segala konsep kebenaran yang palsu.

Kembali ke Pilkada. Sekali lagi, kebenaran dipertanyakan, tidak hanya secara normatif, namun juga secara eksistansial. Jika saya mengerucutkan momen Pilkada ini kepada Pilkada di ibukota, saya mendapati ketiga paslon berusaha menyatakan kebenaran, namun dengan cara yang berbeda-beda. Paslon no. 1 dan 3 berusaha mengklaim kebenaran dengan retorika dan main aman. Kebenaran menjadi objek yang dibumbui oleh janji semanis gula yang bikin diabetes, dan kritik pedas yang tak bertujuan alias "lempar cuitan sembunyi mulut." Sangat disayangkan, justru kebenaran semakin tersembunyi dan tidak sesuai dengan hakikatnya. Paslon no. 2? Sejauh pengamatan saya dengan kinerja mereka di ibukota, mereka memposisikan kebenaran sebagai subjek yang memimpin kerja (atau saya bisa sebut sebagai pelayanan) mereka. Tak ada yang mereka sembunyikan. Mereka membiarkan kebenaran mengungkapkan dirinya, bahkan di saat-saat genting, ketika mereka terjepit oleh orang-orang yang memperkosa kebenaran. Hanya satu yang mereka rindukan: kebenaran memunculkan dirinya di tengah ibukota dan bekerja secara subversif serta transformatif. Kebenaran yang tidak munafik, tidak tersembunyi, yang menyatakan dirinya secara personal. Kebenaran yang transenden sekaligus imanen. Kebenaran yang inkarnasional. Kebenaran yang memerintah dengan melayani.

Jadi, pilih yang mana?


Malang, 6 hari sebelum Pilkada,


Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer