Nothing but dust

"All go to one place. All are from the dust, and to dust all are return" - Ecclesiastes 3:20.

Hari ini sebagian besar umat Kristen melakukan ibadah Rabu Abu atau Ash Wednesday. Saya sempat mencari-cari mengapa ada hari Rabu Abu sebagai awal dimulainya masa Lent (masa 40 hari sebelum hari Paskah). Setelah membaca beberapa sumber, saya mendapati satu hal, yaitu manusia diingatkan kembali akan siapa dirinya.

Pada masa kini seringkali manusia--termasuk saya tidak benar-benar tahu dan sadar siapakah dirinya. Manusia, yang hanya ciptaan, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Tetapi, manusia-manusia ini seringkali kerjaannya adalah mengeluh kepada Sang Pencipta. Bahkan ketika Allah, Sang Pencipta sudah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk memperdamaikan relasi manusia dengan-Nya, masih saja manusia tidak tahu diri. Apalagi ketika yang tidak tahu diri adalah orang-orang percaya, seperti saya ini. Anugerah Allah diberikan dengan begitu limpahnya, tetapi masih saja ada orang-orang percaya yang mempertanyakan keberadaan Tuhan di dalam hidupnya; seakan-akan bertanya, "Jika Tuhan ada, ayo dong jawab doa saya," atau "Jika Tuhan beneran Tuhan yang hidup, kasi saya hidup yang enak dong." Manusia menjadi para penuntut Tuhan, bukan para pen-taat Tuhan.

Manusia bagaikan debu dan suatu saat akan kembali menjadi debu. Saya merenungkan dan mendapati bahwa sudah seharusnya kita, yang fana ini selalu mengingat Sang Pencipta, yang tidak hanya memberikan hidup kepada kita, tetapi juga memeliharakannya. Sehingga tiada lagi keluh kesah yang keluar dari mulut kita kepada Sang Pencipta. Tiada lagi kata-kata yang mencobai dan melukai hati Sang Pencipta. Hai manusia, ingatlah akan Allah Sang Pencipta, dan ingatlah siapa diri kita.

"Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu" - Mazmur 103:14.


Malang, 18 Februari 2015

Di pagi hari yang cerah dengan sedikit debu,

Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer