Didamaikan untuk berdamai

"Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus" - Kolose 1:19-20.

Dunia saat ini cenderung untuk hidup dengan dirinya sendiri. Kebanyakan manusia merasa tidak perlu banyak berurusan dengan sesamanya. Saya pernah ada di dalam posisi ini. Untuk apa berurusan dengan orang yang kerjaannya bikin susah hidup saya? Untuk apa berusaha merangkul semua orang, toh mereka juga mungkin sedang asyik dengan dunianya masing-masing. Untuk apa mengasihi semua orang, toh belum tentu juga mereka mengembalikan kasih yang saya berikan.

Namun, ketika merenungkan kembali hidup saya yang sudah diurus oleh Tuhan Yesus Kristus, oh alangkah sungguh tidak layaknya saya berpikir dan berbuat seperti yang saya sebutkan di atas. Hidup saya, yang sudah ditebus dan diperdamaikan dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus dan dengan pekerjaan Roh Kudus ini sudah seharusnya juga mau mengasihi, berdamai, berurusan dengan sesama saya.

Kalau saya coba menelusuri rekam jejak pelayanan Tuhan Yesus, konsep perdamaian ini sudah Ia bawa dan ajarkan bahkan sebelum Ia disalibkan. Tuhan Yesus tidak hanya melakukan pengajaran, tetapi juga melakukan apa yang Ia ajarkan. Ingatkah akan pengajaran-Nya berikut ini: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:43-44)." Hal ini pun Ia genapkan: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34)."

Yesus tidak berhenti dengan mendamaikan, merekonsiliasi relasi manusia dengan Allah. Jauh tidak kalah pentingnya, Yesus juga ingin setiap orang yang sudah didamaikan boleh berdamai dengan sesamanya. Bukankah Ia sudah berkata, bahwa "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9)." Oh Tuhan, alangkah fananya hidupku yang kurang berdamai ini. Tolonglah hamba-Mu ini, ya Tuhan, untuk boleh berdamai dengan sesamanya. Amin.

Selamat berdamai.

"Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14)."


Malang, 19 Februari 2015

Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer