Jangan gentar, sebab AKU besertamu!
Malang, 2 Agustus 2014
Pk. 16:01
Di sela-sela menjalani "ronda" jaga penyambutan mahasiswa baru SAAT Malang.
Di saat saya mendapat kesempatan menyambut mahasiswa-mahasiswa baru yang datang hari ini (Sabtu, 2 Agustus 2014) ke kampus saya, Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, sembari menunggu saya mengisi waktu dengan ngenet dan membuat lesson plan untuk kelas persiapan minggu depan. Di saat saya ngenet dan saat membuka situs Youtube, saya "iseng" membuka channel gereja saya yang ada di Youtube. Kemudian, pikiran saya melayang ke sebuah event Kebaktian Penyegaran Rohani yang diselenggarakan oleh Komisi Pemuda dari gereja saya dua tahun lalu, dan saya pun melihat dokumentasi event tersebut di Youtube channel dari gereja saya. Di dalam video dokumentasi berdurasi kurang lebih tiga menit itu, saya kembali diingatkan akan perkataan pengkhotbah saat itu ketika altar call, yang mengatakan demikian:
"Kalau Tuhan mau engkau menjadi hamba Tuhan, maka Tuhan pun akan melengkapi engkau. Jangan pernah gentar akan apa yang akan terjadi di hari depan."
Walaupun saya sudah pernah mendengarnya dua tahun yang lalu, namun kalimat diatas seraya menjadi penguatan bagi saya untuk menjalani panggilan Tuhan sebagai hamba-Nya sepenuh waktu, dan saya bersyukur untuk penguatan demi penguatan yang Tuhan berikan bagi saya. Jujur, tanpa penguatan Tuhan saya tak akan mampu menjalani panggilan Tuhan ini. Bila dipandang dari sisi manusia, begitu banyak hal yang dapat membuat saya goyah atau bahkan keluar dari jalan panggilan Tuhan. Tetapi, syukur kepada Tuhan yang selalu beranugerah bagi anak-anak-Nya. Tuhan yang selalu berlimpah kasih setia-Nya. Karena kasih setia dan anugerah-Nya itulah saya dimampukan sampai sekarang untuk menjalani panggilan-Nya.
Saya pun jadi teringat khotbah dari salah satu hamba Tuhan yang menceritakan perjalanan hidup dan panggilan Musa. Jika digambarkan dengan tiga tahap, Musa mengalami tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. I am everything - Musa melewati 40 tahun pertama hidupnya sebagai Pangeran Mesir. Segala yang ia punya selama ia hidup di Mesir pastilah membuat dia berpikir bahwa ia sudah mempunyai segalanya. Meskipun saya percaya darah Ibraninya pasti seringkali bergejolak, namun segala kemewahan dan kemegahan sebagai seorang Pangeran Mesir pun membuatnya tidak lagi memikirkan hal-hal lain.
2. I am nothing - Setelah Musa membunuh salah seorang tentara Mesir yang memukul salah seorang pekerja Israel, Musa pun lari ke tanah Midian. Walaupun disana ia berkeluarga dan mempunyai pekerjaan tetap sebagai seorang gembala, jauh di dalam lubuk hatinya Musa tidak jarang ingin kembali menjadi Pangeran Mesir yang mempunyai segala-galanya, dan saat itu (ketika ia di Midian) ia bukan lagi Pangeran Mesir; ia bukan siapa-siapa, selain seorang suami, ayah, menantu, dan penggembala domba.
3. God is my everything - Di dalam hidupnya yang terasa biasa-biasa saja di Midian, Tuhan pun memanggil Musa untuk membebaskan bangsa Israel - umat pilihan Allah, sekaligus bangsa dari Musa sendiri - dari perbudakan Mesir. Bermula dari keraguan akan dirinya sendiri, Musa pun akhirnya menjawab panggilan Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Dengan segala cara, Tuhan tanpa lelah meyakinkan Musa bahwa "AKU ADALAH AKU". Dalam perjalanannya menuntun bangsa Israel pun, Musa semakin menyadari bahwa Tuhanlah segala-galanya bagi dia. Tuhan yang menyediakan semua yang ia dan bangsanya butuhkan. Tuhan yang sama juga yang menghalau semua tantangan dan rintangan yang ada dihadapan Musa dan bangsa Israel.
Ketiga tahapan yang dilalui Musa pun dialami oleh saya sendiri ketika menjawab panggilan Tuhan. Saya pun yakin tidak hanya Musa yang mengalami hal-hal diatas ketika menjawab panggilan Tuhan. Yeremia, Yesaya, Petrus, Paulus, Abraham, dan banyak lagi teladan iman lainnya pun mengalami hal-hal serupa ketika mereka menjawab panggilan Tuhan. Dan satu hal yang sama dari mereka semua adalah: Tuhan yang memanggil mereka, bukan mereka yang mengajukan diri untuk dipanggil Tuhan.
Bersyukur sampai sekarang saya terus diingatkan bahwa Tuhanlah segala-galanya bagi saya. Siapakah Abraham, Musa, Yeremia, Yesaya, Petrus, Paulus, sampai Tuhan mau memanggil mereka melayani-Nya? Siapakah saya, sehingga Tuhan mau memanggil saya untuk melayani-Nya? Kembali lagi, saya hanya bisa menjawab: Saya bukan siapa-siapa, tetapi Tuhanlah yang memanggil dan memampukan saya untuk melayani-Nya. Dialah segala-galanya bagiku. Ad majorem Dei gloriam!
"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." - Yohanes 14:27.
"Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." - 2 Korintus 4:1, 5, 7.
Misael Prawira.
Pk. 16:01
Di sela-sela menjalani "ronda" jaga penyambutan mahasiswa baru SAAT Malang.
Di saat saya mendapat kesempatan menyambut mahasiswa-mahasiswa baru yang datang hari ini (Sabtu, 2 Agustus 2014) ke kampus saya, Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, sembari menunggu saya mengisi waktu dengan ngenet dan membuat lesson plan untuk kelas persiapan minggu depan. Di saat saya ngenet dan saat membuka situs Youtube, saya "iseng" membuka channel gereja saya yang ada di Youtube. Kemudian, pikiran saya melayang ke sebuah event Kebaktian Penyegaran Rohani yang diselenggarakan oleh Komisi Pemuda dari gereja saya dua tahun lalu, dan saya pun melihat dokumentasi event tersebut di Youtube channel dari gereja saya. Di dalam video dokumentasi berdurasi kurang lebih tiga menit itu, saya kembali diingatkan akan perkataan pengkhotbah saat itu ketika altar call, yang mengatakan demikian:
"Kalau Tuhan mau engkau menjadi hamba Tuhan, maka Tuhan pun akan melengkapi engkau. Jangan pernah gentar akan apa yang akan terjadi di hari depan."
Walaupun saya sudah pernah mendengarnya dua tahun yang lalu, namun kalimat diatas seraya menjadi penguatan bagi saya untuk menjalani panggilan Tuhan sebagai hamba-Nya sepenuh waktu, dan saya bersyukur untuk penguatan demi penguatan yang Tuhan berikan bagi saya. Jujur, tanpa penguatan Tuhan saya tak akan mampu menjalani panggilan Tuhan ini. Bila dipandang dari sisi manusia, begitu banyak hal yang dapat membuat saya goyah atau bahkan keluar dari jalan panggilan Tuhan. Tetapi, syukur kepada Tuhan yang selalu beranugerah bagi anak-anak-Nya. Tuhan yang selalu berlimpah kasih setia-Nya. Karena kasih setia dan anugerah-Nya itulah saya dimampukan sampai sekarang untuk menjalani panggilan-Nya.
Saya pun jadi teringat khotbah dari salah satu hamba Tuhan yang menceritakan perjalanan hidup dan panggilan Musa. Jika digambarkan dengan tiga tahap, Musa mengalami tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. I am everything - Musa melewati 40 tahun pertama hidupnya sebagai Pangeran Mesir. Segala yang ia punya selama ia hidup di Mesir pastilah membuat dia berpikir bahwa ia sudah mempunyai segalanya. Meskipun saya percaya darah Ibraninya pasti seringkali bergejolak, namun segala kemewahan dan kemegahan sebagai seorang Pangeran Mesir pun membuatnya tidak lagi memikirkan hal-hal lain.
2. I am nothing - Setelah Musa membunuh salah seorang tentara Mesir yang memukul salah seorang pekerja Israel, Musa pun lari ke tanah Midian. Walaupun disana ia berkeluarga dan mempunyai pekerjaan tetap sebagai seorang gembala, jauh di dalam lubuk hatinya Musa tidak jarang ingin kembali menjadi Pangeran Mesir yang mempunyai segala-galanya, dan saat itu (ketika ia di Midian) ia bukan lagi Pangeran Mesir; ia bukan siapa-siapa, selain seorang suami, ayah, menantu, dan penggembala domba.
3. God is my everything - Di dalam hidupnya yang terasa biasa-biasa saja di Midian, Tuhan pun memanggil Musa untuk membebaskan bangsa Israel - umat pilihan Allah, sekaligus bangsa dari Musa sendiri - dari perbudakan Mesir. Bermula dari keraguan akan dirinya sendiri, Musa pun akhirnya menjawab panggilan Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Dengan segala cara, Tuhan tanpa lelah meyakinkan Musa bahwa "AKU ADALAH AKU". Dalam perjalanannya menuntun bangsa Israel pun, Musa semakin menyadari bahwa Tuhanlah segala-galanya bagi dia. Tuhan yang menyediakan semua yang ia dan bangsanya butuhkan. Tuhan yang sama juga yang menghalau semua tantangan dan rintangan yang ada dihadapan Musa dan bangsa Israel.
Ketiga tahapan yang dilalui Musa pun dialami oleh saya sendiri ketika menjawab panggilan Tuhan. Saya pun yakin tidak hanya Musa yang mengalami hal-hal diatas ketika menjawab panggilan Tuhan. Yeremia, Yesaya, Petrus, Paulus, Abraham, dan banyak lagi teladan iman lainnya pun mengalami hal-hal serupa ketika mereka menjawab panggilan Tuhan. Dan satu hal yang sama dari mereka semua adalah: Tuhan yang memanggil mereka, bukan mereka yang mengajukan diri untuk dipanggil Tuhan.
Bersyukur sampai sekarang saya terus diingatkan bahwa Tuhanlah segala-galanya bagi saya. Siapakah Abraham, Musa, Yeremia, Yesaya, Petrus, Paulus, sampai Tuhan mau memanggil mereka melayani-Nya? Siapakah saya, sehingga Tuhan mau memanggil saya untuk melayani-Nya? Kembali lagi, saya hanya bisa menjawab: Saya bukan siapa-siapa, tetapi Tuhanlah yang memanggil dan memampukan saya untuk melayani-Nya. Dialah segala-galanya bagiku. Ad majorem Dei gloriam!
"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." - Yohanes 14:27.
"Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." - 2 Korintus 4:1, 5, 7.
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar