Be hard on yourself, be gracious on others
Sudah 22 hari saya melewati bulan Februari di tahun 2013 ini, dan cukup banyak perenungan yang saya dapatkan. First and foremost, saya bersyukur (dan tak hentinya bersyukur) untuk kesetiaan Tuhan Yesus Kristus yang selalu menghadirkan warna-warna kehidupan yang bervariasi bagi saya, sehingga tidak ada alasan saya berkata:"Ah, hidup ini monoton!" Saya juga bersyukur boleh melewati momen valentine di tahun 2013 ini, dengan mensyukuri akan kasih setia Tuhan dan juga kesempatan bagi saya masih dapat berbagi kasih dengan keluarga dan teman-teman. Valentine tidak hanya menjadi momen kita menyatakan cinta kepada keluarga, pasangan, teman-teman, namun juga menjadi saat di mana kita merenungi akan kebesaran cinta dari Tuhan kepada kita. Saya juga bersyukur boleh memulai masa Lent, di mana saya belajar untuk 'berkabung' akan kehidupan saya yang fana ini. Momen ibadah Rabu abu kemarin juga menjadi berkesan bagi saya, bukan semata karena ibadah doa saat itu dibuat khusus untuk memperingati Rabu abu. Di ibadah tersebut, saya diingatkan kembali bahwa saya sebenarnya tidak ada apa-apanya. Seperti yang tertulis di posting saya sebelumnya, kita hanyalah butiran debu di antara alam semesta ini. Tanpa Tuhan Sang pencipta, kita tak dapat berbuat apa-apa. Semua hanya karena anugerah-Nya yang tercurah buat kita, dan saya selalu bersyukur untuk itu.
Di kesempatan yang inspiratif ini (sedikit sok-sok puitis nan motivator gimana gitu), beberapa minggu ini saya banyak belajar mengenai judul posting saya ini. Be hard on yourself, be gracious on others. Terjemahan bebasnya adalah: Berilah hidup kita sendiri disiplin yang lebih, dan lihatlah makna anugerah Tuhan secara berlebih ketika kita memandang kehidupan orang lain. Namun, bukan berarti saya mau mengatakan bahwa kita tidak melihat anugerah Tuhan di dalam kehidupan kita juga, tetapi yang seringkali terjadi adalah kita salah menginterpretasikan akan makna dari anugerah itu sendiri. Ketika kita merasakan bahwa anugerah Tuhan sangat berlimpah bagi kita, sering timbul suatu kecenderungan untuk memandang rendah akan dosa. Kita menjadi jarang untuk berdukacita akan dosa-dosa kita. Di sinilah kita perlu menyadari bahwa mengalami akan anugerah Tuhan bukan menjadikan kita seorang yang pasif, namun kita secara aktif mensyukuri akan anugerah tersebut, dengan hidup yang mempunyai disiplin rohani yang ketat, hidup yang setiap harinya rindu diperlengkapi oleh firman Tuhan, hidup yang taat akan perintah dan kehendak Tuhan, hidup yang semakin mengenal akan Tuhan, hidup yang semakin serupa dengan Pencipta kita.
Dari berbagai peristiwa yang terjadi beberapa minggu belakangan ini, khususnya dalam ranah pelayanan saya di gereja, saya benar-benar tertegur oleh tagline yang menjadi judul posting saya ini. Sejak saya magang sebagai calon mahasiswa teologi, Tuhan banyak menegur, mengajarkan, dan mengingatkan saya akan konsep anugerah. Dalam melayani, dalam pergaulan, dalam berkeluarga, saya diajarkan untuk menerapkan kebesaran hati, khususnya dalam menghadapi tingkah laku, kebiasaan, apapun itu namanya dari setiap pribadi yang saya kenal, khususnya yang saya kenal dekat dan banyak berinteraksi dengan saya. Ketika saya menghadiri open house dari salah satu sekolah teologi, saya juga diingatkan kembali bahwa ketika saya menjawab panggilan Tuhan, saya sudah seharusnya memposisikan diri sebagai hamba. Apapun yang Tuhan mau, saya harus taat dan berserah di dalam kehendak-Nya, dan hal ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang seperti saya yang mempunyai panggilan menjadi hamba Tuhan, namun bagi semua kita yang terpanggil di bidang kita masing-masing, baik kita sebagai pelajar, karyawan, pengusaha, guru, dosen, apapun itu pekerjaan kita. Lihatlah akan anugerah dan panggilan Tuhan dengan lebih luas. Jangan pernah memakai kacamata kuda ketika kita berkata bahwa kita sudah mengalami anugerah Tuhan dan kita tahu apa yang harus kita perbuat ketika kita mengalami akan anugerah itu.
Semoga sharing ini menjadi berkat bagi semua yang membaca, dan saya pribadi terus dan terus belajar untuk memperbaiki konsep anugerah tersebut di dalam kehidupan saya. Soli Deo gloria!
22 Februari 2013, di tengah cerahnya Jakarta,
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar