Aku tanpa-Mu, hanya butiran debu
... Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Savior I come, quiet my soul remember
Redemption's hill, where Your blood was spilled for my ransom
Everything I once held dear, I count it all as lost
Lead me to the cross, where Your love poured out
Bring me to my knees, Lord I lay me down
Rid me of myself, I belong to You
Lead me, lead me to the cross
You were as I, tempted and trialed
Human
The word became flesh, bore my sin and death
Now you're risen
Everything I once held dear
I count it all as lost
To your heart
To your heart
Lead me to your heart
Lead me to your heart
Aku tanpamu butiran debu
Ya, itulah sepenggal kecil dari lirik lagu "Butiran Debu", yang sepertinya super familiar di telinga kita masing-masing pecinta musik di Indonesia.
Hari ini adalah Rabu abu, di mana orang di belahan bumi bagian Barat sana menyebutnya Ash Wednesday. Sejak saya terlibat dalam mempersiapkan ibadah Rabu abu di gereja, saya jadi teringat sepenggalan lirik lagu di atas. Memang lagu tersebut bukan lagu rohani, namun di bagian akhir dari reffnya, saya sedikit memodifikasi kata-katanya, sehingga menjadi seperti judul tulisan saya kali ini.
Aku tanpa-Mu, hanya butiran debu...
Rabu abu adalah hari pertama dari masa Lent (40 hari masa berkabung sebelum hari Paskah). Peringatan hari Rabu abu, atau dalam bahasa Latin disebut dies cinerum (day of ashes) sudah dilaksanakan sejak abad ke-8. Di dalam Alkitab, abu identik dengan beberapa hal, yaitu:
1. Kelemahan (frailty) atau kematian (Kejadian 18:27)
2. Kesedihan (Ester 4:3)
3. Penghakiman (Ratapan 3:16)
4. Pertobatan (Yunus 3:6)
Dan banyak lagi bagian Alkitab lainnya yang berkaitan dengan 'debu dan abu', misalnya: Ayub 42:3-6, Yeremia 6:26, Daniel 9:3, dan lain-lain.
Di beberapa gereja, baik gereja Kristen maupun Katolik, pada ibadah Rabu abu setiap jemaat akan diolesi abu di kening mereka masing-masing, dengan olesan berbentuk salib. Biasanya pendeta akan membacakan firman Tuhan yang berkaitan dengan ibadah Rabu abu tersebut, misalnya saja dari Kejadian 3:19. Abu yang dipakai kebanyakan berasal dari daun palem yang dibakar dan dikeringkan, di mana daun palem tersebut berasal dari daun palem yang dipakai di Minggu Palma (Palm Sunday) tahun yang lalu. Pengolesan abu tersebut bukan untuk pamer-pamer saja, namun semata diharapkan agar setiap jemaat benar-benar menyadari akan kefanaan hidupnya di dunia ini, sehingga jemaat dapat menjalani hidup dengan lebih taat akan firman Tuhan, yang akan membawa hidup kita semakin serupa dengan-Nya.
Rabu abu akan menjadi just another Wednesday di dalam hidup kita, jika kita tidak benar-benar memaknainya, dan Rabu abu juga bukan menjadi satu hari yang dikhususkan untuk kita merenungkan akan kehidupan kita di dunia yang sementara ini. Rabu abu sudah seharusnya membuat kita semakin menambah akan perenungan kehidupan kita masing-masing, bukan malah menjadi awal dari perenungan kita. Rabu abu tidak hanya sekedar menjadi hari di mana kening kita dihiasi oleh simbol salib Kristus, sehingga banyak orang terpaku sejenak melihat tanda tersebut ketika mereka melihat kita di tengah keramaian.
Filipi 3:10-11 dengan jelas mengingatkan kita:
Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
Mari kita sama-sama menjadikan momen Rabu abu ini sebagai momen di mana kita boleh mengenal Tuhan kita lebih dalam lagi. Hidup kita yang lama sudah digantikan oleh kematian Kristus, dan kita boleh sama-sama menjalani hidup yang baru dengan kebangkitan-Nya. Kebiasaan dan karakter buruk kita, sikap dan sifat negatif kita, semuanya harus terkubur bersama dengan hidup lama kita, dan hidup yang kita hidupi sekarang adalah hidup baru di dalam Yesus Kristus, hidup yang berkelimpahan, hidup yang menyadari akan kasih setia, anugerah, berkat, dan pemeliharaan Tuhan yang tak pernah berhenti setiap saat. Hidup yang sepenuhnya taat pada firman-Nya dan berserah pada kehendak-Nya.
Sebab hidup kita hanya sementara saja di dunia ini. Di suatu hari yang indah nanti, kita akan bertemu kembali dengan Pencipta kita, dalam kekekalan.
Ya, Tuhan, aku mau hidup menyenangkan-Mu. Firman-Mu menjadi kerinduanku, dosa ku tinggalkan, salib-Mu ku junjung tinggi. Karena aku ini adalah debu, sebutir debu yang sebentar saja hilang terbawa bersama angin dunia ini. Ya, Tuhan, benar bahwa debu ini membutuhkan-Mu. Ya, aku membutuhkan-Mu, Tuhanku.
Rabu abu 2013, 1 hari sebelum hari Valentine 2013,
Misael Prawira.
Lead me to the Cross
Redemption's hill, where Your blood was spilled for my ransom
Everything I once held dear, I count it all as lost
Lead me to the cross, where Your love poured out
Bring me to my knees, Lord I lay me down
Rid me of myself, I belong to You
Lead me, lead me to the cross
You were as I, tempted and trialed
Human
The word became flesh, bore my sin and death
Now you're risen
Everything I once held dear
I count it all as lost
Lead me to the cross, where Your love poured out
Bring me to my knees, Lord I lay me down
Rid me of myself, I belong to You
Lead me, lead me to the cross
Bring me to my knees, Lord I lay me down
Rid me of myself, I belong to You
Lead me, lead me to the cross
To your heart
To your heart
Lead me to your heart
Lead me to your heart
Lead me to the cross, where Your love poured out
Bring me to my knees, Lord I lay me down
Rid me of myself, I belong to You
Lead me, lead me to the cross
Bring me to my knees, Lord I lay me down
Rid me of myself, I belong to You
Lead me, lead me to the cross

Komentar
Posting Komentar