The Greatest Gift of All
Morning bloggers and blog-readers!! :)
Tidak terasa, natal di tahun ini semakin dekat.. Saya pun kemarin sempat menulis sedikit perenungan mengenai natal, yang dialasi dan dilatarbelakangi oleh berbagai diskusi dan pengalaman rohani saya bersama Tuhan.. Selamat membaca dan semoga menjadi berkat untuk kita semua :)
Tidak terasa, natal di tahun ini semakin dekat.. Saya pun kemarin sempat menulis sedikit perenungan mengenai natal, yang dialasi dan dilatarbelakangi oleh berbagai diskusi dan pengalaman rohani saya bersama Tuhan.. Selamat membaca dan semoga menjadi berkat untuk kita semua :)
THE GREATEST GIFT OF ALL
Hadiah. Ya, kita semua pasti sangat familiar dengan kata tersebut. Hadiah, atau gift, bermakna sesuatu yang diberikan dengan kerelaan dan tanpa pamrih ataupun meminta sesuatu kembali (something that is bestowed voluntarily and without compensation). Dalam perjalanan kehidupan kita, saya rasa kita jarang lepas dari kata hadiah. Ketika kita berulang tahun, kita diberikan hadiah, sebaliknya juga ketika teman atau keluarga atau kolega kita berulang tahun, kita memberikan hadiah. Ketika kita lulus kuliah, atau mendapatkan nilai ujian yang sangat baik misalnya, seringkali orang tua kita memberikan hadiah sebagai tanda apresiasi kepada kita, bahkan kita sebagai anak juga bisa me-request hadiah apa yang kita inginkan. Di moment Natal pun, tidak jarang sebagian dari kita bertukar hadiah, sebagai bentuk dari rasa sukacita Natal yang kita rasakan. Namun, pernahkah kita berpikir akan suatu hadiah yang kekal, hadiah yang terlampau berharga, hadiah yang diberikan dengan penuh kasih dan sampai-sampai di dalamnya pun terdapat nyawa yang harus dipertaruhkan. Have we ever think and know about that ?
Coba kita sedikit saja berimajinasi, menempatkan diri kita di tengah-tengah kerajaan surga, tepat di saat Yesus akan lahir ke dunia. Apa saja yang mungkin terjadi saat itu? Mungkinkah kelahiran Yesus ke dunia semudah membalikkan telapak tangan? Coba kita kembangkan imajinasi kita lebih dalam lagi. Kelahiran Yesus ke dunia bukan rencana Allah Bapa yang dibuat dalam 1 malam saja. Kelahiran Yesus sampai-sampai sudah berulang kali dinubuatkan, dari zaman ke zaman. Dan jika kita coba lagi melihat kedalaman rencana keselamatan yang dirancangkan oleh Allah Bapa, itu bukanlah rencana yang tanpa tantangan. Akan ada nyawa yang dipertaruhkan, tidak hanya nyawa 1 pribadi saja. Akan ada berbagai hal yang menghalangi rancangan keselamatan yang mulia ini. Rancangan keselamatan yang diberikan oleh Allah Bapa, sebagai hadiah untuk umat manusia. Hadiah yang sangat berharga, terlalu berharga, tiada ternilai oleh apapun.
Jika mungkin imajinasi kita belum cukup liar, kita coba cerna cerita simple berikut ini, di mana ada seorang anak kecil berumur 5 tahun bernama Henry. Sebentar lagi ia akan memasuki langkah baru dalam hidupnya, yaitu masuk sekolah dasar. Memasuki sekolah ternyata bukan hal yang cukup menyenangkan buat Henry. Berbagai asumsi sudah ada di pikirannya. Dia pikir dia akan ditinggalkan orang tuanya, Bapak dan Ibu Antoine, yang sebenarnya tidak hanya mengantar dia ke sekolah, tetapi juga menunggu di kantin sekolah sampai Henry selesai sekolah. Henry pikir dia tidak akan mendapatkan teman di sekolahnya, padahal banyak sekali anak-anak lain yang seusianya dan seaktif dirinya, yang sangat memungkinkan Henry untuk mempunyai banyak teman. Akhirnya, dengan sedikit memberanikan diri, Henry akhirnya menyelesaikan hari pertama sekolahnya. Orang tuanya pun sangat senang melihat Henry. Di akhir minggu, ketika mereka sedang sama-sama makan malam, tiba-tiba Pak Antoine meninggalkan meja makan, menuju kamarnya dan mengambil sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan kertas kado berwarna biru, warna favoritnya Henry. Setelah mereka selesai makan, Pak Antoine pun memberikan kotak tersebut kepada Henry, yang ternyata berisi mainan robot favorit Henry. Sontak Henry pun bersorak kegirangan dan larut bermain bersama dengan robotnya. Namun, tahukah Henry, bahwa untuk mendapatkan mainan robot favoritnya itu, ayah dan ibunya harus membelinya dengan uang yang merupakan hasil kerja mereka berdua? Orang tuanya harus menempuh jalan yang macet dan terik untuk sampai ke toko mainan, di mana di tengah jalan berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Apakah Henry akan terpikir sampai sana?
Saya yakin sebagian besar, atau mungkin semua kita seperti Henry. Ketika pertama kita mengalami dan menerima akan karunia keselamatan yang dianugerahkan Allah, kita tidak menyadari bahwa begitu banyak hal yang terjadi dibalik rancangan keselamatanNya. Ada nyawa yang terancam, dan bahkan pada akhirnya dikorbankan. Ada pergumulan dan peperangan rohani yang maha dahsyat, baik di surga maupun di dunia.
Anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah hadiah terindah, hadiah terbesar, hadiah termulia yang pernah kita dapatkan seumur hidup kita.
Adakah kita meresponi akan anugerah keselamatan ini dengan rasa syukur yang melimpah? Dengan hidup seturut dengan kehendakNya? Dengan terus menjadi terang dan garam bagi dunia ini? Karena hadiah kekal dari Allah Bapa tidak hanya berhenti ketika kita menerima AnakNya, Tuhan Yesus Kristus, sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Dalam Filipi 3:13b-14, Paulus mengingatkan kita: “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”. Ya, kita tidak hanya menerima keselamatan kekal, tetapi kita sebagai manusia baru, yang sudah menanggalkan hidup yang lama, kita diberikan privilege, suatu kesempatan yang sangat berharga, untuk memenuhi panggilan hidup kita masing-masing, yang berasal dari Allah Bapa dan dinyatakan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Saya percaya, tujuan hidup kita sebagai orang percaya adalah memuliakan nama Tuhan dan menikmati akan hadiratNya sepanjang hidup kita. Dengan peran kita masing-masing, baik kita sebagai mahasiswa, pekerja kantoran, wirausahawan, sebagai anak dari orang tua kita, sebagai sahabat dari teman-teman kita, kita semua terpanggil untuk memuliakan nama Tuhan melalui role kita masing-masing, dan dengan pengenalan yang sejati akan Tuhan kita, maka dalam setiap langkah hidup, kita dapat merasakan dan menikmati akan hadirat Tuhan, pimpinan dan tuntunanNya yang kekal untuk kita.
Di moment Natal ini, mari kita bersama menerima hadiah kekal dari Allah Bapa kita dengan hati yang bersyukur dan memberikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, di dalam Tuhan Yesus Kristus dan dengan pimpinan Roh Kudus.
Cum Deo faciemus nostrum optimus. With God, we do our best. Amin. Selamat bersyukur, selamat menerima panggilan Tuhan, dan selamat Natal.
As little children, we would dream of Christmas morn
Of all the gifts and toys, we knew we’d find
But we never realized, a baby born one blessed night
Gave us the greatest gift of our lives
We are the reason that He gave His life
We are the reason that He suffered and died
To a world that was lost, He gave all He could give
To show us the reason to live
As the years went by, we learned more about gifts
The giving of ourselves and what that means
On a dark and cloudy day, a man hung crying in the rain
All because of love , all because of love
I finally found a reason for living
It’s in giving every part of my heart to Him
In all that I do, every word that I say
I’ll be giving my all just for Him, for Him
Jakarta, 4 Desember 2012
Di siang hari yang indah,
Misael Prawira
God’s precious son and servant .

Komentar
Posting Komentar