Hari gini pelayanan???
wassup blogster???(lagi SKSD nih..hehehe..)
Di sore hari Minggu yang suam-suam kuku ini (siang sempet gerimis, terus panas bangeettt, terus gerimis lagi sore tadi, terus berenti deh gerimisnya), tiba-tiba terbersit di pikiran saya untk men-sharing-kan mengenai kehidupan pelayanan saya.
Untuk teman-teman yang mungkin tidak tahu mengenai pelayanan, akan saya jelaskan sedikit. Kehidupan pelayanan yang akan saya sharing-kan adalah pelayanan saya di gereja, di mana arti dari pelayanan itu sendiri (CMIIW) adalah memberikan yang terbaik dari talenta dan karunia rohani yang sudah Tuhan berikan kepada setiap manusia, terutama untuk anak-anakNya. Selain memberikan yang terbaik, melayani dalam pelayanan juga berarti membayar harga untuk pelayanan itu sendiri, misalnya meluangkan waktu, pikiran, tenaga, dana, dll, tentu saja untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kebanggaan diri kita sendiri, karena semua itu sebenarnya berasal dari Tuhan dan kita kembalikan kepada-Nya.
Sehubungan dengan pelayanan ini, seringkali saya mendengar para penatalayan di gereja berkata:"Ah, pelayanan melulu, capek ah!", atau "ah, gue lagi, gue lagi, yang laen aja deh ya!", ada lagi yang berkata "Buat beberapa bulan ke depan, jangan jadwalin gue dulu ya karena ...". Ya, mungkin masih banyak lagi kata-kata lain yang keluar dari mulut seorang pelayan Tuhan, termasuk saya pun pernah menjadi orang seperti itu. Kelanjutannya tidak hanya akan muncul pertanyaan:"Nah kan, lo juga kek gitu..hayooo!", itu hanyalah respon dari pelayan (bisa juga bukan pelayan) yang berpikiran sempit dan juga pernah melakukan hal yang sama. So not mature dude! Akan lebih baik kita mengkoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu, apa yang harus kita lakukan agar diri kita tidak tenggelam ke dalam kejenuhan pelayan dan kekeringan rohani yang lebih lanjut.
Ketika saya pernah mengalami hal ini, saya langsung bertanya kepada diri saya sendiri:"Apa sebenarnya motivasi saya dalam melayani gereja Tuhan?". Saya bersyukur Tuhan mengizinkan saya mengkoreksi diri sendiri dan mempertanyakan akan pelayanan saya, dan hal ini juga yang saya rindu setiap anak-anak Tuhan boleh lakukan, serta tidak hanya berhenti di situ saja, namun juga kita boleh kembali kepada Tuhan melalui doa dan perenungan, agar motivasi dan hati kita dipulihkan dan disegarkan kembali oleh-Nya. Akan tidak baik jika kita malah merespon dengan:"Uda deh, gue lagi ga mau pelayanan dulu...". Haruskah kita begini sampai Tuhan berkata:"Uda ah, Saya ga mau mengasihimu lagi ya, wahai anakku...". Tentu tidak!
Ada baiknya juga kita memikirkan tujuan pelayan kita yang sebenarnya. Setiap kali kita melayani (apapun bidang pelayanan kita), kita bukan melayani manusia (jemaat, majelis, sesama aktivis / penatalayan, dll). Ketika kita melayani, kita menghadap dan memberikan diri kita kepada Tuhan pencipta segala yang hidup! Apakah untuk melayani Tuhan yang Maha Besar itu kita perlu berkata:"Ah, nanti saja..." dan lain sebagainya??? Kita melayani untuk menikmati dan memuliakan Tuhan Allah kita. Kita hanyalah alat-Nya, tidak lebih dari itu!
Ah, terlalu banyak yang bisa saya sharing-kan jika tulisan ini dilanjutkan..hehe..akhir kata, saya hanya ingin berpesan: Kasih Tuhan Allah kita terlalu besar dan dalam, melebihi apa yang kita perbuat dan pikirkan, dan bersyukurlah setiap saat akan kasih Tuhan Allah kita. Layanilah Dia dengan segenap yang ada pada diri kita, sampai pada akhir hidup kita nanti, Ia akan menyambut kita dan berkata:" Wahai anak-Ku yang setia, engkau telah mencapai garis finis dan mengakhiri pertandingan dengan sangat baik! Well done, my servant!".
Soli Deo Gloria!
Cheers!
Di sore hari Minggu yang suam-suam kuku ini (siang sempet gerimis, terus panas bangeettt, terus gerimis lagi sore tadi, terus berenti deh gerimisnya), tiba-tiba terbersit di pikiran saya untk men-sharing-kan mengenai kehidupan pelayanan saya.
Untuk teman-teman yang mungkin tidak tahu mengenai pelayanan, akan saya jelaskan sedikit. Kehidupan pelayanan yang akan saya sharing-kan adalah pelayanan saya di gereja, di mana arti dari pelayanan itu sendiri (CMIIW) adalah memberikan yang terbaik dari talenta dan karunia rohani yang sudah Tuhan berikan kepada setiap manusia, terutama untuk anak-anakNya. Selain memberikan yang terbaik, melayani dalam pelayanan juga berarti membayar harga untuk pelayanan itu sendiri, misalnya meluangkan waktu, pikiran, tenaga, dana, dll, tentu saja untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kebanggaan diri kita sendiri, karena semua itu sebenarnya berasal dari Tuhan dan kita kembalikan kepada-Nya.
Sehubungan dengan pelayanan ini, seringkali saya mendengar para penatalayan di gereja berkata:"Ah, pelayanan melulu, capek ah!", atau "ah, gue lagi, gue lagi, yang laen aja deh ya!", ada lagi yang berkata "Buat beberapa bulan ke depan, jangan jadwalin gue dulu ya karena ...". Ya, mungkin masih banyak lagi kata-kata lain yang keluar dari mulut seorang pelayan Tuhan, termasuk saya pun pernah menjadi orang seperti itu. Kelanjutannya tidak hanya akan muncul pertanyaan:"Nah kan, lo juga kek gitu..hayooo!", itu hanyalah respon dari pelayan (bisa juga bukan pelayan) yang berpikiran sempit dan juga pernah melakukan hal yang sama. So not mature dude! Akan lebih baik kita mengkoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu, apa yang harus kita lakukan agar diri kita tidak tenggelam ke dalam kejenuhan pelayan dan kekeringan rohani yang lebih lanjut.
Ketika saya pernah mengalami hal ini, saya langsung bertanya kepada diri saya sendiri:"Apa sebenarnya motivasi saya dalam melayani gereja Tuhan?". Saya bersyukur Tuhan mengizinkan saya mengkoreksi diri sendiri dan mempertanyakan akan pelayanan saya, dan hal ini juga yang saya rindu setiap anak-anak Tuhan boleh lakukan, serta tidak hanya berhenti di situ saja, namun juga kita boleh kembali kepada Tuhan melalui doa dan perenungan, agar motivasi dan hati kita dipulihkan dan disegarkan kembali oleh-Nya. Akan tidak baik jika kita malah merespon dengan:"Uda deh, gue lagi ga mau pelayanan dulu...". Haruskah kita begini sampai Tuhan berkata:"Uda ah, Saya ga mau mengasihimu lagi ya, wahai anakku...". Tentu tidak!
Ada baiknya juga kita memikirkan tujuan pelayan kita yang sebenarnya. Setiap kali kita melayani (apapun bidang pelayanan kita), kita bukan melayani manusia (jemaat, majelis, sesama aktivis / penatalayan, dll). Ketika kita melayani, kita menghadap dan memberikan diri kita kepada Tuhan pencipta segala yang hidup! Apakah untuk melayani Tuhan yang Maha Besar itu kita perlu berkata:"Ah, nanti saja..." dan lain sebagainya??? Kita melayani untuk menikmati dan memuliakan Tuhan Allah kita. Kita hanyalah alat-Nya, tidak lebih dari itu!
Ah, terlalu banyak yang bisa saya sharing-kan jika tulisan ini dilanjutkan..hehe..akhir kata, saya hanya ingin berpesan: Kasih Tuhan Allah kita terlalu besar dan dalam, melebihi apa yang kita perbuat dan pikirkan, dan bersyukurlah setiap saat akan kasih Tuhan Allah kita. Layanilah Dia dengan segenap yang ada pada diri kita, sampai pada akhir hidup kita nanti, Ia akan menyambut kita dan berkata:" Wahai anak-Ku yang setia, engkau telah mencapai garis finis dan mengakhiri pertandingan dengan sangat baik! Well done, my servant!".
Soli Deo Gloria!
Cheers!

Komentar
Posting Komentar