Pemulihan Hasrat: Refleksi, Otokritik, dan Kegelisahan
Sudah lama banget saya ga nulis
di blog ini. Mungkin karena pengaruh cepatnya media sosial yang secara sengaja
ataupun tidak telah memaksa saya untuk mencerna segala sesuatu dengan instan.
Dan memang rasanya saya cukup jarang punya waktu untuk meresapi apa-apa yang
terjadi di sekitar saya, khususnya yang berkaitan erat dengan pekerjaan saya
sebagai rohaniwan penuh waktu.
Ya, pekerjaan. Mungkin aneh bagi sebagian kalian, karena "biasanya" seorang rohaniwan mendefinisikan "pekerjaannya" sebagai panggilan. Sebuah istilah yang dirasa rohani, tapi saya pikir sering disalahgunakan. Ngomong-ngomong soal penyalahgunaan kata "panggilan" bagi seorang rohaniwan (atau hamba Tuhan, penginjil, apapun itu namanya), baru-baru ini salah satu akun media sosial yang terlihat satir memuat hal ini, dan seketika saya pun merenungkannya dan melihat pada diri sendiri: "Apakah saya seperti yang dikatakan oleh akun ini? Apakah bagi saya, menjadi rohaniwan itu adalah cita-cita yang disalahpahami oleh saya sendiri, karena saya menginginkan lebih dari sebuah panggilan menjadi hamba Tuhan penuh waktu?"
Dan ya, saya pernah bercita-cita untuk menjadi hamba Tuhan yang "menginginkan lebih dari sebuah panggilan."
Keinginan untuk menjadi rohaniwan
di gereja yang mapan (dan otomatis mendapatkan benefit-benefit dari kemapanan
itu). Keinginan untuk menjadi rohaniwan yang ga ribet-ribet ngurus aktivis yang
ga punya skill pelayanan. Keinginan untuk menjadi rohaniwan yang dibutuhkan,
dicari-cari oleh banyak jemaat. Keinginan untuk menjadi rohaniwan yang
"bisa jadi berkat di mana-mana" alias pengkhotbah keliling gereja dan
institusi Kristen. Keinginan untuk menjadi rohaniwan yang komplit: Bisa
khotbah, bisa main musik, jago nulis artikel akademis. Keinginan, keinginan,
dan keinginan. Semua keinginan yang secara manusia akan sangat menopang
kehidupan saya, dan di saat yang sama saya abai terhadap topangan Tuhan,
anugerah Tuhan.
Ketika mengingat masa-masa "bercita-cita" itu, saya berefleksi dan saya sedih.
Saya pernah ada di lubang itu: Lubang menjadi hamba Tuhan yang bercita-cita untuk hidup nyaman. Meminjam kalimat dari Kevin Vanhoozer di dalam bukunya:
"Without theological vision, the pastors perish. Vision is what allows us to see where we are and where we are going (The Pastor as Public Theologian: Reclaiming a Lost Vision)."
Saya pernah
jatuh ke dalam lubang dan kehilangan visi dari Sang Empunya Ladang. Dan di saat
yang sama saya bersyukur, Tuhan ga diam. Tuhan memulihkan hati saya dan
membentuk ulang hati saya. Dia pakai saat-saat tertentu (seperti saat ini, dan
melalui sebuah postingan yang ga sengaja saya lihat) untuk membuat saya
melontarkan kritik pada diri sendiri dan memunculkan kegelisahan-kegelisahan
kudus bagi langkah saya ke depan.
Saya gelisah ketika hasrat saya
adalah kenyamanan hidup dan bukan diperasnya hidup demi pekerjaan Injil
Kristus. Saya gelisah ketika status quo di dalam pelayanan menjadi
prioritas dan saya mulai dibuat abai terhadap jiwa-jiwa yang sedang mencari
Yesus. Saya gelisah ketika saya reaktif terhadap fenomena-fenomena tertentu
mengenai kekristenan dan bukan menggumulkannya kembali bersama kebenaran firman
Tuhan dan doa. Saya gelisah ketika saya menaruh prioritas pada hal-hal tidak
menumbuhkan kerohanian teman-teman kelompok kecil. Saya gelisah ketika saya
mengedepankan respon jemaat dibandingkan dengan pesan Tuhan ketika saya
menyiapkan khotbah dan aransemen musik.
Dan saya berdoa, Tuhan terus mengganggu kenyamanan pekerjaan saya sebagai hamba-Nya: Mengganggu saya dengan visi-Nya yang teramat besar.
Mengganggu saya dengan kegelisahan-kegelisahan
yang kudus demi pertumbuhan gereja-Nya dan pekerjaan Injil-Nya pada jiwa-jiwa
yang sedang mencari. Saya juga berdoa, semoga Tuhan pun mengganggu hati para
hamba-hamba-Nya yang sedang merefleksikan panggilan, sehingga muncul
otokritik-otokritik dan kegelisahan kegelisahan yang sehat untuk menjadi bahan
bakar yang segar dalam mengerjakan ladang Tuhan yang besar.
Selamat berefleksi.
Selamat mengalami kegelisahan.
Selamat dipulihkan lagi oleh Sang Kepala Gereja.
Amin.

Komentar
Posting Komentar