Tuhan yang utuh di dalam kerapuhan

Tak bisa dipungkiri momen Jumat Agung adalah salah satu momen sakral bagi umat Kristen. Saya ingat ada salah seorang pendeta--tentu saja dengan nuansa bercanda--menanyakan kepada jemaat mana yang lebih penting: Hari Natal, Jumat Agung, atau Paskah. Momen yang sakral ini pun sangat identik dengan peristiwa kematian Yesus Kristus di kayu salib. Sebuah peristiwa yang nuansanya gado-gado: Tegang, mengerikan, mengecewakan, menyedihkan, kontroversial, baik di zaman dulu sampai zaman now. Ketika besok momen Jumat Agung tiba, saya mencoba mengambil waktu sejenak hari ini untuk berefleksi dan menyiapkan diri saya menyambut Jumat Agung di tahun 2019. Saya pun teringat akan kalimat ini: "God as One who is vulnerable." Allah sebagai sosok yang rapuh, rentan. Tentu ini bukan kalimat buatan saya, tetapi kalimat ini menuntun saya berefleksi dari sore sampai malam hari. 

Allah sebagai Pribadi yang rapuh jelas berkaitan sangat erat dengan bagaimana manusia dapat mengenal Allah; lebih tepatnya bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Ketika Allah berinkarnasi, mengambil tempat di dalam dunia, maka di saat itulah Allah memperkenalkan diri sebagai sosok yang rapuh, rentan, yaitu di dalam diri Yesus Kristus. Allah seakan merelakan diri-Nya untuk mengalami betapa rapuh dan rentannya hidup manusia, bahkan merelakan diri-Nya untuk disalahpahami, diejek, diabaikan. Kerapuhan Allah di dalam diri Yesus semakin jelas ketika Ia merelakan diri-Nya menjadi korban penebusan bagi masalah terbesar manusia, yaitu dosa dan maut. Penangkapan Yesus, penghinaan dan penyiksaan kepada-Nya, sampai kepada penyaliban-Nya menjadi rentetan khotbah kerapuhan Allah di atas mimbar penderitaan.

Namun, hal yang menarik adalah ketika manusia berdosa justru menemukan keutuhan, kepenuhan Allah di dalam kerapuhan-Nya. Di kayu salib Yesus mempertontonkan keutuhan kasih Allah bagi manusia berdosa. Kasih yang merelakan diri menjadi korban tanpa syarat, karena sejatinya manusia berdosa tidak pernah bisa memenuhi satu syarat pun dari Allah agar dapat diselamatkan dari maut. Di kayu salib Yesus “mewajahkan” kasih Allah dengan sempurna melalui peristiwa yang mengerikan, yang digambarkan dengan dramatis oleh Nabi Yesaya: 

“Ia tidak tampan, indah pun tidak sehingga kita tertarik memandang dia dan menghasratkan dia. Ia dihinda dan dihindari orang, seorang yang akrab dengan kesengsaraan, seorang pesakitan; ia sangat dihina sehingga orang tak mau melihatnya dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.” 

Tanpa kerapuhan Allah, manusia berdosa tidak dapat kembali menjadi utuh, sebagaimana seorang Agustinus mengatakan: 
“The deformity of Christ forms you. For if he had not wished to be deformed you would not have received back the form that you lost. Therefore, he hung deformed upon the cross, but his deformity was our beauty (Kehancuran, kerapuhan Kristus membentukmu. Jika Ia tidak dihancurkan, diremukkan maka kamu tidak akan mendapatkan bentuk, gambaran yang telah hilang. Oleh karena itu, Ia tergantung rapuh, remuk, hancur di atas salib, tetapi kerapuhan-Nya adalah keindahan kita).” 

Kerapuhan Allah membuat kita, manusia berdosa utuh kembali di dalam kematian Kristus. Memandang kerapuhan Allah adalah memandang kerapuhan, keburukan, kebobrokan, kebodohan, kesombongan kita. Memandang kerapuhan Allah membuat kita mengenali siapa Allah yang melimpahkan kasih-Nya kepada kita dan siapa kita yang sejatinya tidak layak menerima kelimpahan kasih Allah.

Melalui kerapuhan Allah, saya mengevaluasi kerohanian pribadi khususnya menjelang Jumat Agung. Di dalam perjalanan melayani Tuhan, khususnya satu tahun ini saya mendapati seringnya saya melewatkan Allah yang rapuh dan lebih berfokus kepada kekuatan sendiri. Saya mati-matian mengerjakan pelayanan tanpa lebih dulu menjadi pelayan. Saya mati-matian terlihat hebat dan melupakan siapa saya yang rapuh dan bobrok ini. Akhirnya saya hanya menemukan diri yang kelelahan dan tidak utuh sebagai pelayan Tuhan. Menjelang Jumat Agung yang tinggal beberapa jam lagi, inilah permohonan saya kepada Tuhan: “Tuhan, jumpailah aku di dalam kerapuhan-Mu, karena di sanalah aku menjadi utuh kembali. Tuhan, hentikanlah kelelahanku dan biarkan aku berteduh di bawah salib-Mu, karena di dalam kematian-Mu ada kehidupan baru yang Engkau anugerahkan. Tuhan jadikan aku rapuh, supaya kuasa-Mu bekerja penuh.” Amin.


Satu malam sebelum Jumat Agung 2019,

Misael Prawira.



Komentar

Postingan Populer