Beyond mere words (lebih dari sekadar kata-kata)
sumber gambar: https://www.motivationalmemo.com/wp-content/uploads/2014/03/Words-e1395225206263.jpg
Berkaca dari beberapa peristiwa yang terjadi hari-hari ini, saya memikirkan ulang "seberapa berharganya kata-kata seseorang?" Ya, hari-hari ini mengucapkan satu, dua, atau ribuan kata terkesan mudah dan murah; mudah karena kata-kata tersebut seperti diucapkan tanpa lebih dulu dipikirkan; murah karena kata-kata tersebut diucapkan tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengarnya. Begitu pun dengan kata-kata yang tertulis. Tidak mengherankan bukan jika berita bohong atau hoax semakin banyak bertebaran, mulai dari berita dengan tagar-tagaran sampai berita yang isinya saingan dengan cerpen padahal kebenarannya tidak teruji.
Memikirkan ulang mengenai ini, saya teringat seorang guru di zaman lampau yang pernah berbicara mengenai kata-kata. Namun, beliau menyatakannya melalui membahas mengenai lidah. Sangat menarik. Lidah adalah bagian dari mulut yang kelihatannya sepele, namun jika tidak dikendalikan maka akan sangat berbahaya, apalagi bagi orang-orang yang banyak memakai perkataan di dalam kesehariannya atau pekerjaannya--termasuk saya. Ngomong-ngomong soal guru tadi, beliau memberikan ilustrasi yang sangat menarik berkaitan dengan betapa berbahayanya lidah manusia. Ia berkata bahwa lidah bagaikan api. Sekecil apapun api, maka ia dapat memberikan dampak yang besar; demikian juga dengan lidah, sulit sekali untuk dijinakkan. Mungkin lebih mudah menjinakkan anjing tetangga sebelah yang menggonggong keras daripada menjinakkan lidah kita yang begitu berbahaya nan liar.
Selain sulit dijinakkan, dari lidah yang sama juga dapat mengeluarkan dua hal yang kontradiktif. Well, sebenarnya tidak mungkin bukan? Namun, inilah kenyataannya. Dari lidah yang sama manusia bisa menyembah Tuhannya, dan dari lidah itu juga manusia bisa mencaci sesamanya. "Dari lidah yang sama keluar berkat dan kutuk, hal demikian tidak seharusnya terjadi!" demikian kata sang guru. Ingat pula bahwa, "Apa yang keluar dari mulut seseorang itu meluap dari dalam hatinya." Ya, inilah yang terjadi dan membuat saya berefleksi akan diri saya dan apa yang ada di sekitar saya.
Saya kira sudah selayaknya setiap kita memikirkan kembali mengenai kata-kata kita. Apakah begitu mudahnya kita mengatakan fitnah kepada orang-orang yang sedang berduka? Apakah begitu mudahnya kita menuliskan tagar-tagar provokatif demi kepentingan pribadi atau segelintir orang yang haus kekuasaan? Apakah begitu murahnya perkataan "ya" dari mulut kita, yang akhirnya berujung kepada korupsi demi korupsi?
Mari kembali pikirkan hal yang sederhana ini: Betapa berharganya setiap kata yang kita keluarkan, karena harga itu mencerminkan seberapa berharga (mulianya, murninya) hati kita. Jangan hanya karena satu kata, kita membuat orang lain tidak berharga dan menjadikan perkataan kita tanpa makna.
Jakarta, 4 Juli 2018
Misael Prawira, sambil duduk memikirkan kata selanjutnya.


Komentar
Posting Komentar