Debu yang dicintai: Sebuah refleksi hari Valentine dan Rabu Abu
Roma 5:8 "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan ini: Ketika kita seorang pendosa, Kristus mati bagi kita."
Ketika melihat beberapa media sosial pagi tadi, sesuai perkiraan ada sangat banyak orang yang posting mengenai hari Valentine. Tak sedikit juga—walaupun tak sebanyak posting-an sebelumnya—orang yang posting mengenai hari Rabu Abu (Ash Wednesday). Nah, salah satu posting menarik mata dan pikiran saya. Kira-kira posting dari salah satu teman saya ini mengatakan: “Selamat hari vaLENTine.” Intinya kira-kira beliau menggabungkan antara selamat hari Valentine dan hari Rabu Abu (yang identik dengan dimulainya masa Lent bagi umat Katolik dan Kristen). Judul “vaLENTine” ini saya kira mewakili refleksi saya kali ini. Sebuah refleksi bagi sesama murid Kristus khususnya dan bagi umat manusia di seantero dunia pada umumnya.
Salah seorang penulis puisi dan nyanyian-nyanyian di masa lampau pernah menyatakan, bahwa manusia di hadapan Sang Pencipta tak lebih dari debu. Penyair ini mengatakan demikian:
“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.”
Di lain masa ada seorang bijak pernah berkata:
“dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.”
Kedua tetua bijak nan puitis ini menyatakan realitas dari kehidupan setiap manusia di muka bumi. Hidup manusia teramat ringkih seperti debu. Bayangkan saja signifikansi keberadaan satu manusia dibandingkan isi alam semesta; sangat teramat kecil. Namun, ketika Sang Pencipta menciptakan manusia, sesuatu yang khusus Ia lakukan: Ia membentuk manusia dari debu dan tanah serta memberikan nafas hidup! Kalau syulit untuk dibayangkan, silakan pembaca dapat melihat berbagai video mengenai bagaimana seorang janin dapat terbentuk, sampai-sampai seorang penyair menuliskan demikian:
"Sebab Engkaulah yang membentuk setiap organ tubuhku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur dan memuji-Mu, oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib dan indah apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."
Manusia yang raga dan kehidupannya seperti debu ini diciptakan dengan sangat khusus, dipandang berharga, bahkan lebih dari itu amat dikasihi oleh Penciptanya. Sang Pencipta yang sejatinya teramat cukup pada diri-Nya sendiri, namun menciptakan manusia dari kelimpahan kasih-Nya. Dengan demikian, bukankah sudah sepantasnya hidup manusia yang sementara dan ringkih ini adalah sepenuhnya untuk mengasihi Sang Pencipta dan menikmati relasi kasih itu dengan-Nya? Sungguh sebuah realitas yang indah ketika kita dicipta untuk senantiasa merindukan Sang Pencipta. Debu yang fana, namun dikasihi dengan begitu limpahnya.
We are fearfully and wonderfully made, splendidly and illogically chosen.
Kerinduan saya di dalam nuansa hari Valentine dan Rabu Abu ini, kita dapat merenungkan kembali siapa kita di hadapan Allah, Sang Pencipta. Kita yang bagaikan debu, kerap kali mengecewakan Allah dengan berbuat dosa, namun kasih setia-Nya diberikan dengan begitu limpah bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sebuah kasih setia yang membuat kita semestinya tidak menuntut apa-apa lagi dari Tuhan, selain senantiasa merindukan Dia hadir di dalam kehidupan kita yang fana. Biarlah segala keindahan cinta di dunia hanya membawa manusia tertuju kepada Sang Pencipta, Allah yang berlimpah kasih setia dan rahmat, murah hati dan penuh belas kasihan.
Bandung, satu hari setelah hari Valentine dan Rabu Abu.
Misael Prawira.


Komentar
Posting Komentar