Sudahkah saya menikmati Tuhan? Sebuah refleksi akhir tahun 2017.

Seringkali kita mengawali tahun dengan komitmen atau resolusi: Saya mau memuliakan Tuhan dengan ... (studi, pekerjaan, kehidupan pribadi, memperbaiki relasi dengan orang lain, memulai pelayanan di gereja, berbisnis dengan bersih, dan begitu banyak pilihan resolusi lainnya). Beberapa hari yang lalu pun saya baru mendengar seseorang mengatakan bahwa ia mau mulai berkomitmen melayani Tuhan dan tidak mau tunda-tunda lagi. Jelas komitmen tersebut bukan hal yang salah. Namun, berefleksi dari perjalanan pelayanan saya bersama Tuhan seringkali saya lebih sibuk untuk memuliakan Tuhan dibanding menikmati-Nya. Mungkin hal ini juga terjadi kepada saudara; mungkin?

Berbicara mengenai perihal “memuliakan dan menikmati Tuhan,” saya teringat dua pernyataan berikut: (1) Man’s chief end is to glorify God, and to enjoy Him forever (diambil dari Westminster Shorter Catechism, answer no. 1); (2) God is most glorified in us when we are most satisfied in Him (John Piper). Untuk menutup tahun 2017 dan memulai tahun 2018, menarik bagi saya untuk merenungkan dua frasa dari dua kalimat di atas, yaitu "to enjoy Him" dan "when we are most satisfied in Him." Dibandingkan membuat resolusi yang mungkin berujung basa-basi, saya tertarik untuk merefleksikan dua hal ini: menikmati Allah dan merasa puas di dalam-Nya. Dua hal yang jarang saya lakukan secara natur kekristenan saya, khususnya di dalam proses pengerjaan skripsi teologi dan menjalani masa praktik pelayanan satu tahun sampai di akhir tahun 2017 ini.

Selama tahun 2017 tak jarang saya tertatih untuk menikmati Tuhan dan merasakan kepuasan di dalam-Nya. Di dalam proses pengerjaan skripsi, sering saya merasa Tuhan seperti tak buka jalan untuk kelancaran penulisan skripsi. Padahal Tuhan sedang menanti saya untuk menikmati tahapan demi tahapan bersama-Nya, seberapa lama pun itu dan seberapa sulitnya itu. Di dalam menjalani masa praktik pelayanan satu tahun, tak jarang saya menjalani hari-hari dan pelayanan demi pelayanan seperti menghitung waktu; lama sekali rasanya, bahkan ketika saya ada waktu-waktu luang. Padahal, di saat yang sama Tuhan sedang menanti saya untuk menikmati setiap waktu dan pelayanan tersebut; sesulit apapun, se-menguras apapun, se-membosankan apapun.

Hari ini, di penghujung tahun 2017 dan sambil menyongsong tahun 2018 Tuhan kembali "menantang" saya: Maukah kamu lebih lagi menikmati-Ku dan puas di dalam-Ku? Menikmati Tuhan di dalam pelayanan sekali pun kerohanian, perasaan, pikiran terkuras, raga lemah. Puas bersama Tuhan di dalam melayani sekali pun ada jemaat yang tak puas dengan hasil pelayanan dengan alasan yang tak jelas. Menikmati Tuhan sambil memuliakan-Nya di dalam melayani sekali pun pelayanan itu menghabiskan keberadaan diri saya. Puas bersama Tuhan di dalam menjalani kehidupan pribadi saya hari demi hari, karena apapun hambatan, tantangan, cobaan, ujian yang ada di hadapan saya, Tuhan senantiasa hadir dan menunjukkan keindahan-Nya; keindahan dari uluran tangan kasih-Nya, genggaman dan tuntunan-Nya yang setia, langkah-Nya yang penuh kebenaran dan integritas. Menikmati kepuasan bersama Tuhan dengan tidak mencari kesibukan untuk membanggakan diri di ladang pelayanan yang sesungguhnya adalah milik Tuhan dan hanya Dia yang layak untuk menikmati hasilnya dan puas melihatnya.

Sebagai penutup, saya selalu terkagum akan Tuhan ketika membaca, mengingat, dan merenungkan narasi Tuhan dengan Musa di dalam kitab Keluaran 33. Musa sadar betul bahwa memuliakan Tuhan tak bisa dilepaskan dari menikmati Tuhan. Kesadaran ini yang membuat ia memohon habis-habisan kepada Tuhan untuk tidak menjauhkan hadirat-Nya dari Musa dan bangsa Israel. Jika bukan Tuhan yang memimpin perjalanan mereka, maka mereka tak akan pergi. Jika kemuliaan itu tak dapat mereka nikmati di hadapan mereka, maka mereka tak akan mau pergi. Kepuasan Musa adalah ketika setiap saat ia tidak hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga menikmati kemuliaan Tuhan yang bersinar dengan indah di hadapan-Nya. Saya rindu ini pun menjadi hasrat saya di tahun 2018. Kepuasan saya adalah ketika setiap saat saya tidak hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga menikmati keindahan dari kehadiran-Nya di dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda?
 
Selamat menikmati Tuhan dan puas bersama-Nya.


Bandung, 31 Desember 2017

Misael Prawira.

Komentar

Postingan Populer