Ketika keindahan Kristus terlewatkan: Sebuah refleksi peringatan 500 tahun reformasi gereja
"Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka." - Lukas 24:15.
Jika dapat digambarkan bak sebuah film, maka kehadiran Tuhan Yesus di jalan menuju Emaus bagaikan sebuah peran cameo. Peran cameo di dalam perfilman dapat dimaknai di dalam dua interpretasi. Pertama, yaitu sebuah peran minor yang diaksikan oleh seorang aktor atau aktris terkenal, di dalam sebuah adegan yang "asal lewat." Kedua, yaitu sebuah peran yang terkesan minor, diaksikan oleh seorang aktor atau aktris terkenal, di dalam sebuah adegan yang penting. Interpretasi kedua dari peranan cameo jelas lebih terkesan signifikan bagi alur dan narasi dari sebuah film. Jika kita melewatkan aksinya, maka kita tidak akan mendapatkan film itu secara utuh. When you blink, you'll missed it; and when you missed it, you'll missed the whole movie. Hal ini yang hampir saja terjadi kepada dua orang murid Yesus yang sedang menapaki perjalanan 7 mil (11 kilometer) dari Yerusalem ke Emaus.
Di dalam narasi yang dituliskan oleh Lukas, diceritakan bahwa ketika Yesus mendekati mereka dan berjalan bersama mereka, kedua orang ini tidak dapat mengenali Yesus, seakan ada sesuatu yang menghalangi mata jasmani dan rohani mereka. Namun, jika melihat percakapan berikutnya antara Yesus dengan kedua orang ini, maka ketidakmengenalan mereka akan kehadiran Yesus menjadi jelas. Kleopas dan temannya masih hidup di dalam narasi mesias manusiawi. Mereka masih menantikan indahnya hidup di tengah bangsa Israel yang dibebaskan dari penjajahan bangsa asing. Mereka melewatkan demonstrasi keindahan Allah melalui salib Kristus dan kebangkitan-Nya di hari itu. Bahkan ketika mereka sudah mendengar kesaksian mengenai kebangkitan Kristus dari beberapa perempuan dan murid-murid lainnya, mereka seperti gelap pikiran dan keras hati mendengar kesaksian tersebut. Sampai-sampai Tuhan Yesus berkata:
"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
Kleopas dan temannya salah menginterpretasi narasi Mesias yang Allah berikan bagi umat manusia. Mereka melewatkan keindahan Kristus yang bersinar atas salib dan ketika kubur itu kosong. Sampai-sampai Tuhan Yesus menghampiri mereka secara pribadi layaknya peran cameo di dalam sebuah film, menjelaskan kepada mereka segala sesuatu yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan semua kitab nabi-nabi. Di saat itulah hati kedua murid ini mulai berkobar. Ketika Yesus membukakan pemahaman mereka akan Mesias yang sesungguhnya, mereka mulai mengenali bahwa Pribadi yang sedang berbicara dengan mereka adalah Pribadi yang berbeda. Dan klimaks dari cameo Yesus kepada kedua orang ini adalah ketika Yesus makan bersama dengan dua orang ini, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Sebuah tindakan ilahi di dalam sebuah perjamuan ilahi. Dan Lukas pun mencatat:
"Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenali Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka."
Keindahan Kristus terpancar tepat di hadapan kedua orang ini dan seketika itu juga, Ia pergi.
Ini kisah dua orang murid Yesus. Ini kisah keterlewatan mereka akan keindahan Kristus. Bagaimana dengan kita? Tanpa kita sadari, Kristus acap kali rela mengambil peran cameo di dalam kehidupan kita. Ketika kita mengabaikan dia sebagai Sang Sutradara, Sang Aktor, Sang Penonton, Ia rela mengambil peran cameo, semata-mata untuk menarik kembali perhatian kita, fokus kita kepada-Nya, kepada keindahan-Nya yang senantiasa bersinar di hadapan kita. Kristus rela berada di dalam bagian yang seakan minor di dalam kehidupan kita, semata-mata supaya kita semakin mengenal-Nya, semakin mengalami keindahan-Nya, sehingga kita tidak lagi melewatkan kehadiran-Nya di dalam kehidupan kita.
Tepat hari ini peristiwa reformasi gereja sudah berusia 500 tahun. Sebuah peristiwa yang fondasional, yang diinisiasi oleh Allah sendiri melalui tangan para reformator. Sebuah peristiwa yang sangat relasional, karena relevansinya senantiasa hadir bagi gereja Tuhan sampai saat ini. Adakah keindahan dari reformasi itu terlewatkan bagi kita? Ataukah keindahan Tuhan melalui peristiwa reformasi semakin bersinar di dalam hidup kita, sehingga hidup kita sebagai orang percaya senantiasa semakin diubahkan, semper reformanda, demi kemuliaan, keindahan Allah yang semakin megah? Ad majorem Dei gloriam!
"To us, however, now that we are believers, let the Bridegroom, wheresoever He is, appear beautiful. . . and let not the weakness of the flesh turn away your eyes from the splendour of His beauty!" - Augustine.
Bandung, 31 Oktober 2017
Misael Prawira.


Komentar
Posting Komentar