Memaknai Pancasila dari perspektif murid Kristus
Hari ini negara Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila yang ke-72. Sebagai bagian dari WNI (warga negara Indonesia) saya bersyukur negara ini memiliki lima sila yang menjadi dasar bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali. Sebagai seorang Kristen dan keturunan Tionghoa, merefleksikan hari lahirnya Pancasila bukan sebuah hal yang mudah. Saya juga teringat akan khotbah dari salah seorang hamba Tuhan, yang menyatakan bahwa gereja masa kini cenderung untuk pasif di dalam bernegara. Namun, khotbah tersebut justru memberikan api semangat bagi saya untuk berkontribusi bagi negara secara kontinu, sebagai bagian dari gereja yang adalah tubuh Kristus. Pada tulisan saya kali ini, saya mencoba untuk memaknai lima sila dari Pancasila sebagai lima sikap yang harusnya dimiliki oleh setiap murid Kristus di Indonesia.
Pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa." Sebuah pernyataan yang tidak asing, yang juga pernah dikumandangkan oleh Tuhan melalui seorang pemimpin bangsa bernama Musa. Pada saat itu pernyataan ini dikenal dengan sebutan Shema Israel, yang berbunyi: "Dengarlah (dengan seksama), hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul. 6:4-5)." Sebagai murid Kristus saya kira selayaknya kita merefleksikan sila pertama ini dengan sebuah sikap, yaitu mengakui kedaulatan Tuhan atas kehidupan kita, termasuk atas bangsa kita. Tidak sepatutnya kita merendahkan atau mengesampingkan Tuhan, sampai membuat kita memberhalakan yang lain. Hanya Dia satu-satunya Allah yang disembah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Tuhan dan Allah yang tidak pernah berubah, kekal selamanya. Kondisi negara bisa berubah, tampuk pemerintah bisa berpindah, namun Tuhan adalah kekal untuk selamanya. Kedaulatannya tidak pernah berubah.
Kedua, "Kemanusiaan yang adil dan beradab." Saya kira sebagai murid-murid Kristus sudah patut bagi kita untuk merefleksikan sila kedua ini melalui kacamata imago Dei. Setiap kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Dengan demikian sudah selayaknya kita menjadi manusia yang mencerminkan siapa Allah kita dan memperlakukan sesama kita sebagaimana Allah memperlakukan mereka. Ingat, kita adalah murid Kristus dan bukan fans. Oleh karena itulah sudah sepatutnya kita berperilaku sebagai murid--yang meneladani gurunya--dan bukan fans yang hanya omdo (omong doang). Biarlah ketika orang-orang melihat kita, mereka melihat kita sebagai manusia baru di dalam Kristus, yang mencerminkan setiap karakter Kristus dan menghasilkan buah Roh.
Ketiga, "Persatuan Indonesia." Saya kira ajakan Yeremia dan Paulus sudah mewakili untuk merefleksikan sila ketiga, yaitu ajakan mereka untuk mengusahakan kesejahteraan dan menghormati pemerintahan yang ada. Saya pikir inilah tugas setiap murid Kristus sebagai anggota-anggota dari tubuh Kristus, yaitu gereja. Menjaga kesatuan di Indonesia adalah tugas dari gereja, bukan hanya tugas dari pemerintah beserta aparat-aparatnya. Jika oknum-oknum dan isu-isu pemecah belah bangsa semakin marak, bukankah gereja justru harus semakin keras menyuarakan "Persatuan Indonesia!"
Keempat, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan." Saya tertarik dengan kata "hikmat kebijaksanaan." Berhikmat adalah sebuah sikap yang sangat sulit untuk diperankan di dalam bernegara, karena mencari hikmat bagaikan mencari harta karun, karena hikmat datangnya dari atas, yaitu dari Allah sendiri. Saya pikir salah satu sikap berhikmat di dalam bernegara sebagai murid Kristus adalah "cerdik seperti ular, tulus seperti merpati." Sebuah sikap yang kembali segar dalam benak saya setelah mendengar sebuah khotbah di hari Minggu kemarin. Saya setuju dengan bapak pendeta yang menyampaikan khotbah tersebut, bahwa gereja masa kini cenderung untuk hanya memiliki salah satu sikap, yaitu "cerdik seperti ular" saja, atau "tulus seperti merpati" saja. Padahal kedua sikap ini bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan, tidak dapat dilihat hanya satu sisi saja. Keduanya harus berjalan bersamaan. Sila ini juga mengingatkan saya bahwa sebagia murid Kristus kita tidak cukup untuk hidup baik. Being good is not good enough. Kita harus menyatakan sikap yang baik dan benar. Jika harus menyatakan kebenaran, nyatakanlah itu. Jika harus menyatakan kesalahan, nyatakanlah itu. Selain dari itu pastilah berasal dari iblis.
Kelima, "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Izinkan saya sedikit memodifikasi sila kelima ini: "Shalom (damai sejahtera) bagi seluruh rakyat Indonesia." Saya kira sila kelima ini sulit untuk dimaknai di tengah besarnya kesenjangan sosial di Indonesia. Berbagai kesenjangan lain turut "mendukung" hal ini, yaitu kesenjangan pendidikan, ekonomi, budaya, politik, dan lainnya. Namun, saya mencoba memaknai sila ini melalui perkataan dari Abraham Kuyper:
"A charity which knows only how to give money is not yet Christian love. You will be free of guilt only when you also give your time, your energy, and your resourcefulness to help end such abuses for good, and when you allow nothing that lies hidden in the storehouse of your Christian religion to remain unused against the cancer that is destroying the vitality of our society in such alarming ways."
Menjadi murid Kristus bukan sekadar berbagi materi, namun juga berbagi hidup. Kata "sosial" lebih dari sekadar status dan strata. Bagi murid Kristus, "sosial" adalah seluruh kehidupannya sebagai seorang murid Kristus yang mencerminkan apa yang Kristus lakukan. Ia berbagi hidup dengan semua orang tanpa pandang bulu. Berbagi hidup adalah berbagi shalom kepada sesama.
Ini refleksi saya. Sebuah refleksi yang mudah ditulis dan sulit dilakukan, karena menjadi murid Kristus adalah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan. Bagaimana dengan kamu, kalian? Ya, bagaimana dengan kita sebagai gereja Tuhan? Selamat berefleksi.
"Saya Indonesia. Saya Pancasila."
Bandung, 1 Juni 2017
Misael Prawira.


Komentar
Posting Komentar