Rabu Abu 2017: Mengakui kerapuhan, menggapai harapan.
Tak terasa tahun 2017 sudah menginjak bulan ketiga. Di hari pertama pada bulan ketiga di tahun 2017 ini, saya diingatkan untuk merenungkan siapa saya di hadapan Allah. Sebuah perenungan di hari Rabu Abu (Ash Wednesday), yaitu hari pertama di masa Lent (40 hari sebelum hari Paskah). Sebuah masa perenungan yang sedikit terlupakan, karena mungkin umat percaya lebih senang menanti hari Jumat Agung dan Paskah, yang menandakan akan datangnya long weekend.
Perenungan hari ini tidak luput dari momen-momen perjalanan studi teologi saya bersama dengan Tuhan, khususnya di masa pengerjaan skripsi. Tak jarang saya lupa diri, saya merasa bisa sendiri tanpa Tuhan. Namun, hari ini saya diingatkan kembali, bahwa sesungguhnya saya hanya seonggok debu; setidaknya itulah yang dikatakan oleh pemazmur. Mengapa debu?
Ya, apa artinya debu? Terbang dan hilang diterpa angin. Sangat ringan, hampir tak berbobot. Tak ada gunanya, selain disapu bersih alias dibuang. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika manusia berhasrat menjadi sama seperti Sang Pencipta, di saat itulah kutuk dosa hinggap. Ya, kutuk. Dosa bukan sesuatu yang main-main. "Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu," "Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya," "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah," "Sebab upah dosa ialah maut."
Ketika saya pikir saya bisa sendiri, ketika kepala ini membesar dan dagu sedikit terangkat, hari ini saya diingatkan bahwa saya hanya debu; manusia berdosa tanpa harapan, rapuh, rusak total. Ternyata, saya tidak bisa sendiri. Saya terlalu rapuh untuk berjuang sendiri, terlalu rentan untuk jatuh, terlalu mudah lelah untuk berlari sendiri. Saya butuh Tuhan. Ya, bukankah semua manusia berdosa membutuhkan Sang Juruselamat? Orang berdosa tak mungkin bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Orang berdosa upahnya maut, kembali ke tanah, menjadi debu. Tak ada kemuliaan di dalam maut. Namun, "seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."
Ya, Bapa di surga mengingat orang-orang yang hidup takut akan Dia. Bapa mengasihi anak-anak-Nya, sehingga Ia merelakan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk mati sebagai korban tebusan yang sempurna dan bangkit untuk memberikan pengharapan, supaya setiap orang yang percaya di dalam nama Yesus tidak akan binasa, melainkan mendapatkan hidup kekal. Inilah logika kehidupan manusia, yang hanya seonggok debu, termasuk saya.
Inilah perenungan sederhana saya. Bagaimana dengan kamu? Ya, kamu sekalian yang membaca narasi ini. Maukah kita mengakui kerapuhan kita sebagai manusia berdosa? Maukah kita berbalik kepada Sang Pencipta, mengakui bahwa kita memerlukan Kristus, Sang Juruselamat? Maukah kita membiarkan Roh Kudus mengerjakan karya-Nya di dalam hati kita, untuk mengembalikan kita kepada Bapa? Ya, harapan itu masih dan akan selalu ada. Harapan untuk yang rapuh dan rentan. Asalkan kita berbalik kepada-Nya. Maukah?
Malang, 1 Maret 2017
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar