Sola Experientia: The Unfamous Sola
(Mengenai tulisan ini, saya berhutang ilmu dan pengalaman kepada empat hamba Tuhan yang tidak hanya menjadi teladan hidup bagi saya, tetapi juga sudah terlebih dulu mengalami Tuhan di dalam kehidupan teologi mereka)
Di hari ini, mungkin sebagian besar orang merayakan Halloween Day. Saya tidak terlalu paham asal-muasal dari hari Halloween ini. Saya hanya memperhatikannya dari layar TV atau melihat nuansa-nuansa Hallowen terpampang di billboard iklan dan berbagai e-mail diskon yang hadir di kotak masuk e-mail saya. Namun, di hari ini pula sebuah peristiwa bersejarah terjadi, khususnya di dalam kalangan umat Nasrani, yaitu Hari Reformasi Gereja. Untuk merayakan hari tersebut, di tengah segala keterbatasan saya sebagai bagian dari umat Nasrani, saya mencoba memberikan sumbangsih yang "lama tapi baru."
Dari terbitnya reformasi gereja sampai saat ini, peristiwa bersejarah ini sangat identik dengan lima "sola," yaitu Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia, Solus Christus, dan Soli Deo Gloria. Dengan naungan tangan Allah yang berdaulat, kelima "sola" ini menjadi tonggak-tonggak baru bagi gereja-gereja Tuhan. Kelima "sola" ini memiliki peranan yang penting nan signifikan bagi gereja Tuhan masa kini, yang mengingatkan bahwa: (1) Otoritas Alkitab adalah yang tertinggi bagi kehidupan umat percaya; (2) Anugerah keselamatan Allah, yang digenapi dan dikerjakan di dalam dan melalui Yesus Kristus menjadi satu-satunya jaminan dan jalan menuju kehidupan yang kekal; (3) Kehidupan orang-orang percaya menjadi kehidupan yang berpusat pada Kristus dan senantiasa memuliakan Allah, karena segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, kepada Allah, dan bagi Allah. Namun, ketika saya mencoba menilik kepada kehidupan jemaat masa kini, tidak jarang saya menemukan kehidupan gereja yang stagnan, "begitu-begitu saja," tidak bergairah, seakan kelima "sola" ini tidak dialami secara nyata di dalam kehidupan gereja (jemaat) masa kini. Seakan-akan kelima "sola" ini sekadar menjadi "solaria," yang hanya dipesan, dilihat sebentar, dimakan, lalu habis begitu saja. Seperti ada yang hilang dari kelima "sola" ini. Sebuah "sola" yang kurang dikenal, namun pernah digemakan oleh salah satu reformator, yaitu Martin Luther. Beliau pernah menyatakan, bahwa pengetahuan tentang Allah, yang disaksikan oleh Roh Kudus melalui Alkitab, tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang percaya dan memang sudah seharusnya menjadi sebuah pengetahuan tentang Allah yang dihidupi. Karena di dalam kehidupan setiap orang percaya pasti ada pengalaman bersama Tuhan yang unik bagi masing-masing pribadi, maka pengetahuan tentang Allah yang dihidupi oleh seorang percaya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman rohaninya bersama Tuhan. Kesaksian Roh Kudus mengenai Allah dan Kristus harus menjadi sebuah kenyataan ilahi yang dialami atau terbukti nyata di dalam kehidupan seorang percaya. Dengan demikian, pengalaman rohani bersama dengan Allah dan firman-Nya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan berteologi seorang percaya. Sola experientia facit theologum. Experience alone makes a theologian, atau jika saya boleh memodifikasinya sedikit: Experiencing the Word of God alone that makes a theologian.
Melalui pernyataan Bapak Martin Luther di atas, sudah saatnya umat Kristen merefleksikan akan pengetahuan tentang Allah yang selama ini didapatkan. Bukan hal yang salah, bahwa pengetahuan tentang Allah harus objektif, absolut, dan universal. Namun, janganlah melupakan bahwa di masa kini, setiap pengetahuan tentang Allah yang kita terima melalui kelima "sola" di atas akan menjadi relevan, jika setiap kebenaran itu kita alami secara nyata, personal (subjektif), dan dinamis. Mengalami pengetahuan tentang Allah secara pribadi menjadi sebuah komplemen yang terutama. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi umat Kristen yang "tahu tentang Allah," tetapi juga "kenal Allah," dan "mengalami Allah." Ketika kita mengalami Allah, maka segala pengetahuan tentang Allah tidak berhenti kepada sebuah pemahaman doktrinal, melainkan kepada sebuah pengalaman akan kehadiran Allah yang kita jumpai secara nyata di dalam perjalanan kehidupan kita. Iman kita tidak menjadi iman yang kaku dan impersonal, melainkan iman yang dinamis dan personal. Hal inilah yang dialami oleh para teladan-teladan iman di dalam Alkitab; salah satunya adalah Yakub.
Di dalam perjalanan kehidupan Yakub, peranan "tempat" menjadi aspek yang sangat esensial dan signifikan. Sebagai "seorang asing yang mengembara," Yakub sudah melewati berbagai macam tempat yang sedikit-banyak membentuk kehidupannya. Bahkan beberapa tempat memilki kesan yang sangat khusus, karena di tempat-tempat itulah dia tidak hanya mendengar dan tahu tentang Allah, tetapi juga mengenal dan mengalami Allah. Salah satu dari tempat itu adalah Betel. Pengalaman Yakub bersama dengan Allah di Betel tidak hanya terjadi satu kali, tetapi dua kali. Terkesan sedikit? Ya, namun dua perjumpaan ini adalah dua pengalaman rohani yang sangat esensial di dalam perjalanan kehidupan Yakub. Saat ini saya mencoba menceritakan ulang apa yang terjadi di dalam dua pertemuan ilahi tersebut; dimulai dari inisiasi Allah terhadap pertemuan yang kedua.
Pasal ke-35 dari kitab Kejadian dimulai dengan berfirmannya Allah kepada Yakub di Sikhem, yang memanggil Yakub untuk: (1) bersiap; (2) pergi ke Betel; (3) tinggal di sana; (4) membuat mezbah bagi Allah yang telah menjumpainya ketika ia lari dari Esau. Saya membayangkan ketika Yakub berjumpa dengan Allah dan firman-Nya itu, ia termenung sejenak. Raut muka seperti orang terkejut menghiasi wajahnya. Firman tersebut mengingatkan dia akan sesuatu. Ya, mengingatkan Yakub akan perjumpaan pertamanya dengan Allah di Betel, sebagaimana yang dinarasikan di dalam pasal ke-28 dari kitab Kejadian. Ketika itu Yakub tiba di "suatu tempat" di mana akhirnya dia meletakkan kepalanya. Saya membayangkan Yakub yang sangat lelah, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Ia tidak hanya dikejar oleh keterbatasan jasmaninya, tetapi juga dikejar oleh rasa bersalahnya kepada kakak kembar dan ayahnya. Dan ketika ia tertidur, bermimpilah Yakub dan di saat itulah Allah menjumpainya. Allah berfirman untuk memperkenalkan diri-Nya, "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak." Ada hal menarik yang patut diperhatikan di dalam penyataan Allah ini, yaitu Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak. Tidak ada nama Yakub disebutkan di sana. Tidak berhenti di situ, Allah kemudian menyebutkan janji-janji-Nya kepada Yakub, yaitu janji mengenai tanah dan keturunan. Allah juga menjanjikan penyertaan-Nya bagi Yakub selama pengembaraannya. Dengan demikian, melalui perjumpaan pertama Yakub dengan Allah di Betel, ia mengetahui Allah sebagai Allah dari kakek dan ayahnya, serta Allah yang menjanjikan tanah, keturunan, dan penyertaan-Nya. Pengetahuan yang seperti ini membuat Yakub kaget, takut, dan berkata: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya. Alangkah dahsyatnya tempat ini! Ini tidak lain dari rumah Allah! Ini pintu gerbang sorga!" Itulah sebabnya Yakub menamai tempat tersebut Betel, yang artinya adalah "rumah Allah." Tak hanya menamai tempat itu Betel, Yakub pun mengucapkan nazarnya: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."
Ada sebuah hal menarik dari nazar Yakub, yaitu nazar ini dibuat berdasarkan hal-hal yang sudah Allah janjikan terlebih dulu kepada Yakub, yang Ia nyatakan di dalam mimpi Yakub. Pertanyaan menarik: Apa yang terjadi dengan nazar ini? Pertanyaan inilah yang membawa kita kembali ke dalam perenungan Yakub di Sikhem, yaitu ketika Allah berfirman kepadanya untuk pergi ke Betel, menetap di sana, dan mendirikan mezbah bagi Allah. Pertanyaan ini juga yang memberikan pencerahan bagi kita untuk memahami mengapa akhirnya Yakub segera berangkat ke Betel. Dan jawaban dari pertanyaan ini ada di dalam perkataan Yakub kepada keluarganya dan semua orang yang menetap bersamanya: "Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." Perkataan Yakub ini menjadi sebuah afirmasi akan janji Allah, yang juga menjadi nazar dari Yakub di perjumpaan pertamanya dengan Allah di Betel. Ya, janji Allah sudah menjadi pengalaman yang nyata di dalam pengembaraan Yakub. Allah menjadi Jehovah Jireh bagi Yakub, yang setia menyertai jalan pengembaraannya, memberikannya sandang, pangan, dan papan, serta membawanya kembali ke tanah kelahirannya dan kepada keluarganya. Pengalaman Yakub bersama Allah menjadi pengalaman rohani yang personal baginya. Allah membuktikan diri-Nya menjadi Allah yang secara pribadi hadir di dalam hidup Yakub. Ingat, bahwa salah satu dari isi nazarnya adalah: "Jika Allah ...., maka TUHAN akan menjadi Allahku." Pengalaman ini pun bukan sebuah pengalaman yang bersifat kaku, tetapi dinamis, yang dapat kita lihat dari bagaimana Allah dengan tidak bosan-bosannya menjumpai Yakub di saat-saat yang sulit, semata-mata supaya akhirnya Allah menjadi Allah Yakub, bukan karena isi nazar Yakub, namun semata-mata karena kesetiaan Allah pada janji-Nya. Maka, Allah bukan hanya menjadi Allah Abraham dan Allah Ishak, tetapi juga Allah Yakub. Jangan heran jika di dalam sisa isi Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri-Nya sebagai "Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub." Dengan demikian, bagi Yakub, Allah bukan lagi menjadi "Allah kata orang," melainkan "Allah yang aku alami secara pribadi dan aku jumpai secara nyata," yaitu melalui penggenapan janji-janji-Nya kepada Yakub. Allah tidak hanya terbukti secara objektif, tetapi juga subjektif. Oleh karena semua hal inilah, Yakub harus kembali ke Betel, sebuah tempat bersejarah bagi perjalanan spiritualnya, dan di tempat inilah pengalaman pribadi Yakub bersama Allah diafirmasi oleh penampakkan diri Allah dan pemberian berkat Allah kepada Yakub.
Melalui perjumpaan kedua Yakub dengan Allah di Betel: (1) Allah meneguhkan kembali status Yakub, yaitu bukan lagi "penipu," melainkan Israel, yaitu "orang yang bergumul dengan Allah dan manusia, dan telah menang." Peneguhan ini pun sekaligus memberikan afirmasi, bahwa pribadi yang Yakub jumpai di Pniel jelas adalah Allah, yang turun di dalam rupa manusia, yang merangkulnya semalam-malaman sekalipun ia melawan, dan Allah yang menyembunyikan diri-Nya dengan tidak menyebutkan nama-Nya demi membuat Yakub takjub nan kagum, sehingga ia berkata, "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"; (2) Allah memperkenalkan diri sebagai El Shaddai, Allah Yang Mahakuasa, yang setia kepada janji-janji-Nya dan pasti akan menggenapinya. Janji-janji Allah yang menyatakan bahwa keturunan Yakub akan bertambah banyak. Dari keturunan-keturunan ini akan lahir bangsa-bangsa besar dan raja-raja. Last but not least, Allah juga akan memberikan negeri yang sudah dijanjikan-Nya kepada Abraham dan Ishak; (3) Yakub merespons kehadiran Allah tersebut dengan mengafirmasi kembali betapa khususnya Betel bagi dirinya. Betel betul-betul menjadi "tempat khusus," di mana Yakub mengalami Allah yang hadir dan berfirman secara pribadi kepadanya.
Sesungguhnya jika kita memperhatikan narasi-narasi lain di dalam Alkitab, maka bukan hanya Yakub yang mengalami Allah secara pribadi. Setidaknya satu nama lagi di dalam Perjanjian Lama yang mengalami hal ini adalah Ayub. Perjumpaan dengan Allah secara pribadi di tengah penderitaannya membuat ia berkata: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." Di dalam narasi Perjanjian Baru, satu nama yang sangat terkenal, sesuai dengan karakternya adalah Simon Petrus. Pengalaman pertamanya dengan Yesus membuatnya tersungkur dan berkata: "Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa." Dan ketika Yesus bangkit dari kubur dan menampakkan diri kepadanya serta meneguhkan panggilannya, Petrus pun kembali mengalami perjumpaan dengan Yesus, dan berkata: "Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Menurut tradisi gereja mula-mula yang berkembang, pengalaman Petrus bersama Yesus tidak berhenti di situ. Ketika kota Roma akan dihancurkan oleh Nero dan kekristenan saat itu berada dalam ancaman yang sangat besar, Petrus dilarikan ke luar kota Roma oleh murid-muridnya. Namun, di tengah jalan, ia berjumpa dengan Yesus. Dengan sedikit bingung ia bertanya: "Quo vadis, Domine? Lord, where are You going? Tuhan, mau ke manakah Engkau?" Dan Tuhan pun menjawab: "Aku hendak pergi ke Roma untuk disalibkan." Di saat itu, Petrus memutar arah perjalanannya dan kembali ke Roma, dan terjadilah seperti yang pernah dikatakan oleh Tuhannya: "'Sesungguhnya ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan (merentangkan) tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki.' Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah." Petrus tidak hanya mengalami perjumpaan dengan Tuhan ketika ia hidup. Ia juga mengalami Tuhan menjelang kematiannya, yang membawa ia menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu, yang diberikan oleh Sang Gembala Agung.
Di dalam peringatan Hari Reformasi Gereja ke-499 ini, saya rindu perenungan ini tidak hanya menjadi pengalaman rohani saya, tetapi juga menjadi pengalaman rohani setiap orang percaya. Sebuah pengalaman bersama Tuhan, yang akan membuat kita semakin mengenal siapa Dia, sehingga kita pun kenal siapa kita dan kita pun "tahu diri," bagaimana seharusnya kita hidup sebagai murid-murid Kristus, yang dipimpin oleh karya Roh Kudus di dalam dan melalui kita. Semper reformanda!
Malang, 31 Oktober 2016
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar