Cinta dan Kopi: Ketidaksempurnaan dan Keberagamaan Rasa
"Lekatkanlah aku di hati dan lenganmu. Karena cinta sekuat maut; gairahnya dahsyat seperti dunia kematian; apinya terlalu membara, seperti dari surga! Air sebanyak apapun tak dapat memadamkan cinta, bahkan banjir pun tak bisa! Dan jika seseorang mengorbankan segala kepunyaannya hanya demi cinta, sungguh ia akan dihina."
Saya pikir ungkapan tidak di atas tidak berlebihan, jika saya (dan mungkin kita) melihat dunia percintaan anak muda masa kini. Sekalipun kalimat-kalimat tersebut merupakan sebuah interpretasi ulang dari sebuah Kitab Suci yang ditulis di zaman dahulu, namun relevansinya masih terasa hingga saat ini. Ngomong-ngomong soal cinta, saya yakin setiap insan sepakat dengan satu kata: sempurna, perfect! Kata ini tidak hanya keluar dari mulut seseorang, ketika ia melahap sesendok fettuccini carbonara yang dimasak oleh koki asli Italia, atau ketika seseorang menyeruput secangkir kopi Wamena yang hangat. Kata "sempurna" juga dirasakan oleh seseorang dan akan ia katakan, ketika ia bertemu dengan seseorang yang ia idam-idamkan selama hidupnya. Seseorang yang dapat melengkapi hidupnya, layaknya sebuah lirik lagu: "Kau adalah hidupku, lengkapi diriku. Oh sayangku, kau begitu . . . Sempurna."
Namun, adakah kesempurnaan cinta itu? Melalui tulisan ini, saya mencoba memberikan sebuah refleksi mengenai perjalanan dengan cinta selama hampir 29 tahun saya berada di dunia.
Sebelum kita terburu-buru untuk menambahkan kata sifat "sempurna" kepada kata benda "cinta," maka saya ingin membawa kita melihat realita yang (mungkin) selama ini terlewatkan. Pertama, kita hidup di dunia yang fana dan rusak. Dunia ini fana, karena kita hanya numpang. Kita tidak selama-lamanya berada di dunia ini. Dunia ini juga rusak, yang terbukti dari begitu banyaknya hal jahat yang kita temui bahkan kita lakukan--termasuk kejahatan cinta. Kedua, karena kita hidup di dunia yang fana dan rusak, maka setiap manusia yang ada di dalamnya adalah manusia yang fana dan rusak. Hidup kita hanya sementara, karena pada akhirnya kita akan meninggal. Hidup kita juga rusak. Sebaik apapun kita, setidaknya kita pernah melakukan satu dosa selama sekian tahun kita hidup. Ingatlah peribahasa yang menyatakan, "Nila setitik, rusak susu sebelanga." So, adakah yang sempurna di dunia yang fana dan rusak ini? Adakah manusia yang sempurna? Saya yakin tidak ada. Lalu, apa kaitan kedua hal ini dengan cinta? Hmmm . . . Bukankah cinta adalah sebuah perasaan (atau apapun itu namanya) yang timbul dari seorang manusia? Jika manusianya sendiri adalah makhluk fana dan rusak, bukankah demikian juga dengan cinta?
Cinta manusia tidak sempurna. Cinta manusia hanya sementara dan sangat mudah untuk rusak. Seberapa sering, seberapa jauhnya pun seseorang mencari kesempurnaan cinta, maka ia akan berakhir di bawah pohon kekecewaan. Segala usaha untuk mencari dan meraih cinta akan gugur satu persatu, layaknya daun berguguran. Hati pun akan berkali-kali patah, layaknya ranting tanpa nutrisi. Adakah cinta yang sempurna, atau kesempurnaan cinta di dunia ini? Kembali lagi, jawabannya: tidak ada. Lalu, how we should deal with this? Bukankah cinta adalah sebuah perasaan yang tidak dapat dihindarkan? Untuk menghadapi hal ini, saya akan memakai dua buah kata: pemulihan dan penebusan. Dua kata yang sebenarnya dapat dipakai secara bergantian dengan maksud yang sama.
Jika kita sedikit kembali kepada kefanaan dan kerusakan dunia dan manusia, maka akan menjadi sebuah hal bodoh ketika kita berhenti di sana. Sesuatu yang rusak dapat dipulihkan. Sesuatu yang fana dapat diberikan nilai lebih, agar ia menjadi berarti di tengah kefanaan. Untuk memulihkan cinta, memberi arti cinta, menebus cinta, maka membutuhkan Pribadi yang memiliki dan sudah mengalami cinta yang sejati. Pribadi yang memahami dan mengenal betul apa yang namanya cinta, dan Pribadi itu yang secara aktif akan memulihkan, memberi arti, dan menebus cinta yang ada di dunia, yang tersimpan di dalam relung hati setiap insan. Cinta bukanlah sesuatu yang pasif, tetapi aktif, dan Pribadi itu sudah membuktikannya. Love is a verb. Cinta adalah sebuah kata kerja, dan Pribadi itu sudah melakukannya. Ia meninggalkan segala yang baik, mulia, indah, dan dengan cinta yang rendah hati Ia memulihkan, memberi arti, dan menebus dunia--termasuk manusia dan cinta. Sebuah tindakan cinta yang aktif, yang membuat manusia dapat merasakan kembali arti cinta yang sejati, yang sesungguhnya hanya terdapat di dalam Sang Pribadi. Seorang Pribadi yang membuat saya ingin mengenal-Nya lebih dalam, karena Ia memiliki cinta yang tidak akan pernah mengecewakan. Dialah Yesus Kristus, Sang Kekasih yang Sejati, Sang Sumber cinta yang sejati, Sang Penebus, yang memulihkan dan memberi arti bagi cinta bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Cinta-Nya sempurna bagi dunia, bagi manusia. Ia membiarkan diri-Nya rapuh di hadapan manusia, dilukai, dipermalukan, dan mati demi membuktikan bahwa masih ada cinta yang sejati, cinta yang aktif memberikan yang terbaik bagi yang dikasihi-Nya. Sebuah kesempurnaan cinta.
Saya menuliskan ini bukan tanpa alasan. Namun, saya sudah mengalaminya sendiri. Mengalami Pribadi Yesus dan kesempurnaan cinta-Nya, yang mengajak saya untuk mengalami cinta yang sempurna di dalam Dia. Berbagai jalan cinta sudah saya lalui. Musim-musim cinta--dari cinta 3 minggu, 3 bulan, sampai 3 tahun--pun sudah saya lalui. Beberapa wanita silih berganti mewarnai perjalanan cinta saya. Namun, Yesus dan kesempurnaan cinta-Nya tidak pernah berganti dan tidak beranjak dari perjalanan hidup saya.
Namun, ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang tak jarang saya dengar: "Wah, ga capek tuh putus-sambung terus?" "Tuh mantan lo uda punya pacar baru!" "Wow, mantan lo ada yang uda married lho!" "Lo serius ga sih kalo pacaran???" Saya hanya bisa tersenyum kecil sambil merenungkan perjalanan cinta saya. Tak jarang sakit hati dan kecewa kembali mendatangi. Namun, ada beberapa hal yang sampai saat ini saya terus renungkan dan lakukan. Hal-hal yang membuat saya tidak larut di dalam kekecewaan, tetapi justru menikmati cinta, dan karena saya adalah seorang penikmat kopi, maka tak jarang saya menganalogikan menikmati cinta dengan bagaimana menikmati kopi.
Pertama, cinta adalah perihal mengalami, bukan semata-mata mencari. Layaknya ketika kita meminum secangkir kopi. Kita mulai dengan mencari jenis kopi apa yang cocok dengan selera kita. Namun, ketika kita meminum dan menikmatinya, itu semua menjadi sebuah pengalaman dan bukan lagi pencarian. Begitu juga dengan cinta. Ketika kita sudah mengalami cinta, kita tidak akan lagi mencari cinta.
Kedua, tidak ada cinta yang sempurna, tetapi pengalaman yang diberikan cinta memiliki banyak cita rasa. Seperti kopi, saya rasa tidak ada kopi yang sempurna. Namun, setiap kali kita menikmati pengalaman meminum kopi, maka akan ada cita rasa yang ditimbulkan, dirasakan, dinikmati. Ada yang asamnya lebih banyak, atau pahitnya lebih banyak. Ada yang kental dengan wangi rempah, atau sedikit rasa coklat. Begitu juga dengan cinta. Manusia tidak bisa memberikan cinta yang sempurna, namun di setiap pengalaman mengenal cinta, maka ada "cita rasa" yang dapat kita pelajari. Ketidaksempurnaan cinta memberikan keragaman rasa di dalam perjalanan hidup kita, yang membuat hidup ini tidak flat, namun seperti salah satu quote dari sebuah film: "Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya (bagi para penikmat kopi pasti tahu betul film ini)." Walaupun tidak ada cinta yang sempurna (dari manusia), namun hidup ini tetap indah, karena Sang Cinta yang Sejati itu selalu ada untuk kita. Nikmatilah perjalanan bersama-Nya.
Ketiga, cinta adalah bagaimana menjadi rapuh, bukan (sok) kuat. Cinta itu bagaikan sebuah proses pembentukan, seperti ketika memproses biji-biji kopi sampai menjadi secangkir kopi yang dapat dinikmati. Ketika kita berhadapan dengan cinta, kita harus mau dibentuk. Sakit dong? Jelas. Namun, itulah cinta. Toh Sang Cinta yang Sejati pun mengalaminya. Oleh karena itu, semakin kita sok kuat, maka yang kita rasakan justru adalah semakin sakit. Namun, semakin kita merasa rapuh--dan menyerahkan cinta kita kepada Yesus--maka kita akan semakin dikuatkan, sehingga sekalipun akhirnya cinta itu mengecewakan, kita tidak akan larut di dalam lumpur kekecewaan. Inilah paradoks cinta yang sejati. Semakin rapuh, semakin kuat. Semakin rapuh, semakin membuat kita merasa cukup, bahkan lebih dari cukup. Sebuah cinta yang tidak terburu-buru mengatakan, "Aku cinta kamu! Aku rela melakukan apapun dan memberikan segalanya demi kamu, demi cinta!" tetapi sebuah cinta yang berani mengatakan, "Aku punya kekurangan . . . Aku tidak sesempurna yang kamu kira . . . Tapi aku mau kita belajar sama-sama . . . Kita jalani kerapuhan dan ketidaksempurnaan kita, karena yang menaungi kita, yang menemani kita, dan yang akan meneguhkan kita adalah Pribadi yang sempurna, yang memiliki cinta yang sempurna. Di dalam Dia bernaung kesempurnaan cinta."
Apakah refleksi saya sudah berhenti saat ini? Jelas sekali belum, karena saya rindu menikmati perjalanan cinta ini bersama dengan Yesus, Sang Pribadi pemilik kesempurnaan cinta. Saya tahu bahwa saya tidak sempurna, demikian juga dengan cinta yang saya berikan. Saya kenal betul siapa saya, yaitu manusia yang rusak karena dosa, namun mendapat anugerah penebusan, pemulihan di dalam Yesus Kristus. Maka, respons saya adalah sebuah confession, bahwa saya rapuh, lemah, terbatas, tidak sempurna; namun saya memiliki Sang Cinta yang Sempurna. Dia yang akan memulihkan saya ketika saya patah hati. Dia yang akan menjaga hati saya ketika saya berelasi dengan wanita yang Ia berikan. Dia yang menebus dan memberi arti dari cinta yang saya berikan kepada pasangan saya.
Belum bertemu dengan Sang Pribadi, yaitu Yesus? Jangan hanya mencari Dia, tetapi kenali dan alami Dia. Dengan demikian, kita menemukan Sang Cinta yang Sempurna. Alamilah cinta. Nikmatilah cinta.
Embrace love in all its imperfection and bitterness, because The One who gives love is The Perfect One and The Sweetest Person in our life.
Jakarta, 5 Agustus 2016
Di tengah ketidaksempurnaan cinta, di dalam naungan Sang Cinta yang Sempurna,
Misael Prawira.

Komentar
Posting Komentar