Tuning heart into God's wisdom: Hearing from a Wise (Woman)

Di dalam perjalanan kehidupan sebagai seorang Kristen, seringkali saya diperhadapkan pada sebuah situasi yang sangat memungkinkan saya untuk "main hakim sendiri," tanpa meminta hikmat dari Tuhan. Sejalan dengan situasi seperti ini, minggu lalu saya mendengarkan sebuah khotbah yang terambil dari kisah Daud yang bertemu Nabal dan Abigail. Dari kisah ini, yang dibawakan di dalam khotbah, saya disegarkan kembali oleh Tuhan mengenai bagaimana menghadapi lika-liku kehidupan dengan bersandarkan hikmat Tuhan.

Kisah ini mempunyai sebuah prolog yang menarik: "Dan matilah Samuel... (1Sam 25:1a)." Saya pikir kalimat ini lebih dari sekadar sebuah kalimat informatif. Kalimat ini menyatakan bahwa tidak ada lagi nabi di Israel, yang menjadi penyambung lidah Tuhan. Sangat mungkin di masa-masa seperti ini pemimpin bangsa (yaitu Daud) dan rakyatnya mengalami kegamangan di dalam menghadapi kehidupan mereka--seperti anak-anak ayam kehilangan induknya--dan hal ini terjadi di dalam kisah "segitiga" di antara Daud, Nabal, dan Abigail. Sebelum masuk ke dalam kisah ini, adalah hal yang menarik jika kita sedikit mengenal Nabal dan Abigail, setidaknya dari arti nama mereka.

Nama Nabal dan Abigail kemungkinan besar berasal dari bahasa Ibrani. Kata "Nabal" (baik sebagai kata sifat maupun kata benda) dapat berarti kebodohan, atau lebih jelasnya adalah kurangnya kemampuan untuk mengerti sesuatu, sehingga berakibat timbulnya sifat lancang dan ketidaktaatan terhadap perintah Tuhan. Sedangkan kata "Abigail" dapat berarti: Ayahku (adalah) berbahagia. Dua nama, dua kata yang memiliki arti yang sangat kontras. Fakta-fakta ini dapat ditemukan di dalam 1 Samuel 25:3, yang menyatakan bahwa Abigail adalah seorang perempuan yang bijak dan cantik, sedangkan Nabal adalah seorang laki-laki yang kasar dan jahat. Selanjutnya, mari kita sedikit masuk ke dalam peristiwa yang dialami Daud.

Singkat cerita, ketika Daud berdiam di Padang Gurun Paran, ia mendengar bahwa ada seorang kaya bernama Nabal, ia menyuruh beberapa orang untuk pergi menyampaikan salam kepada Nabal, dengan sebuah maksud baik. Mungkin juga saat itu Daud dan rombongannya memerlukan stok makanan dan minuman untuk melanjutkan perjalanan mereka. Perlu diingat bahwa saat itu Daud sedang dalam pelarian, karena ia dikejar-kejar oleh Saul. Namun, respon yang diberikan oleh Nabal tidak sebaik yang diperkirakan oleh Daud. Karakter Nabal yang kasar dan jahat tercermin dari responnya kepada orang suruhan Daud. Sontak Daud pun merasa terhina dan diliputi oleh nafsu untuk membunuh Nabal--bahkan seluruh isi rumahnya, karena ia merasa dilecehkan. Tetapi, di situasi seperti inilah justru menyeruak masuk seorang Abigail. Ketika ia mengetahui bahwa suaminya, Nabal telah bertindak bodoh kepada Daud, maka ia pun segera menemui Daud dan memohon ampun atas perbuatan suaminya. Tindakan yang sangat bijaksana dari Abigail dipaparkan dengan sangat indah di dalam 1 Samuel 25:24-31, sampai-sampai Daud berkata, "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan (ay. 32-33)." Perlu diperhatikan dengan seksama bahwa Daud adalah seorang raja dan Abigail adalah seorang perempuan. Budaya orang-orang saat itu kemungkinan besar tidak memandang kedudukan seorang perempuan. Namun, apa yang Daud lakukan adalah sebuah hal yang sangat luar biasa bagi seorang laki-laki di masa itu, yaitu mendengarkan dan menerima nasihat dari seorang perempuan!

Dari kisah ini, sesungguhnya Abigail hanyalah alat Tuhan untuk menyampaikan hikmat-Nya kepada Daud dalam menghadapi Nabal. Daud pun sebenarnya sangat mungkin menjadi seperti Nabal--bisa dilihat dari responnya setelah mendengar hinaan dari Nabal. Namun, di tengah ketiadaan sosok nabi bagi Daud, Tuhan memakai seorang perempuan bernama Abigail, yang dianugerahkan tidak hanya kecantikan lahiriah, tetapi juga batiniah; seorang perempuan yang bijaksana, yang berhikmat, seperti apa yang dikatakan di dalam kitab Amsal," Isteri yang cakap siapakah yang mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata... Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji (31:10, 30)."


Di dalam menjalani kehidupan sebagai anak-anak Tuhan, adakah kita mau dengar-dengaran dengan-Nya? Mengandalkan hikmat-Nya di dalam menghadapi pergumulan kehidupan? Atau, kita malah mengeraskan hati dan menjadi bebal terhadap-Nya? Kisah di atas dengan jelas mengajarkan kita untuk mencari hikmat Tuhan di dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan, bukan berlari kepada hikmat dunia. Ingatlah, "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)." Winning life's battle with God's wisdom.



Jakarta, 9 Agustus 2015

Misael Prawira.

NB: Big thanks to Pdt. Tommy Elim untuk khotbahnya yang menginspirasi tulisan ini :)


Komentar

Postingan Populer