Bethel: God's Time Machine
"God said to Jacob: Arise, go up to Bethel and dwell there. Make an altar there to the God who appeared to you when you fled from your brother Esau... God appeared to Jacob again, when he came from Paddan-aram, and blessed him. And God said to him: Your name is Jacob; no longer shall your name be called Jacob, but Israel shall be your name. So he called his name Israel" - Genesis 35:1, 9-10 (ESV).
Ketika saya merenungkan akan "Betel kedua" yang terjadi pada hidup Yakub, maka saya semakin yakin bahwa di dunia ini tidak ada mesin waktu. Kita tidak dapat bermain dengan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak dapat diputar kembali, tidak dapat dihidupi kembali. Waktu yang akan datang tidak bisa dipercepat untuk dihidupi sekarang, karena waktu ada dalam kendali Tuhan yang kekal, sedangkan kita tidak kekal. Namun, Tuhan mempunyai "mesin waktu" khusus bagi setiap anak-anak-Nya. Sebuah mesin waktu untuk membawa kita kembali pada-Nya, ketika kita mulai menyimpang dari kehendak-Nya atas hidup kita. Hal inilah yang dialami Yakub, ketika ia kembali ke Betel, hadir untuk kedua kalinya di hadapan Tuhan.
Jika kita melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya, kita bisa melihat betapa sabarnya Tuhan membentuk Yakub, sampai menjadi Israel! Bahkan setelah peristiwa di Peniel, ketika Yakub dan keluarganya mulai menyimpang dari jalan Tuhan, Tuhan langsung bertindak, mengintervensi kehidupan Yakub dengan berkata: "Bangkitlah, pergilah ke Betel dan tinggalah di sana. Buatlah sebuah mezbah untuk TUHAN yang menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari saudaramu, Esau." Tuhan terus-menerus menuntun Yakub agar tetap on track dan seirama dengan jalan Tuhan.
Saya pikir "Betel kedua" juga terjadi pada diri Simon Petrus. Ketika ia menyangkal Tuhannya, di sekelilingnya ada sebuah setting tempat berupa perapian (Yoh. 18:18). Bukankah ini setting yang sama ketika Tuhan Yesus bertanya, "Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari semua ini (Yoh. 21:9, 15-19). Simon Petrus pun mengalami "Betel kedua", "mesin waktu" yang Tuhan sediakan untuk mengembalikan Petrus ke jalan Tuhan, ke dalam rencana dan kehendak Tuhan.
Oh Tuhan, bawalah aku ke Betel, ke sebuah momen di mana aku menyerahkan diriku sepenuhnya untuk menjadi hamba-Mu. Momen di mana aku dimampukan untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau. Tuhan, aku rindu untuk selalu berada di Betel-Mu setiap hari, agar aku ingat bahwa Engkau sudah memanggil dan mengubah hidupku. Amin.
Malang, 17 April 2015
Misael Prawira.
Komentar
Posting Komentar