A Little Book For New Theologians

Kemarin saya baru membuat sebuah book review untuk tugas salah satu mata kuliah saya, dan saya kira buku ini sangat baik untuk dibaca oleh orang-orang percaya yang rindu untuk berteologi. Berikut adalah resensi buku tersebut. Semoga dapat membantu pembaca untuk semakin ingin mengenal Allah yang benar lebih lagi. Soli Deo gloria!


Setiap orang percaya diciptakan dengan tujuan yang sangat mulia dan indah, yaitu untuk memuliakan nama Tuhan dan menikmati kehadiran-Nya untuk selama-lamanya (to glorify God and to enjoy Him forever). Namun, saat ini rasanya sangat sulit untuk membedakan antara orang percaya yang mengejar kekudusan dan yang mengejar keduniawian. Fenomena seperti ini membenarkan pendapat para ateis, yang mengatakan bahwa hal keagamaan hanya akan membawa manusia untuk kembali kepada dirinya atau fokus kepada dirinya sendiri. Di saat inilah, bagi orang Kristen maupun non-Kristen, keberadaan Allah menjadi suatu pertanyaan besar. Teologi pun menjadi suatu ilmu yang dipertanyakan. Suatu ironi ketika manusia berpaling kepada ilah lain atau malahan tidak percaya akan adanya Allah, padahal mereka diciptakan untuk berelasi dengan Allah, Sang Penciptanya, yang kehadiran-Nya selalu ada di dalam kehidupan setiap orang yang percaya.

Percaya atau tidak, setiap manusia diciptakan dengan suatu “ruang kosong” di dalam hidupnya, yang hanya bisa dipenuhi oleh pribadi Allah yang sejati. Ilah lain, apapun itu bentuknya, tidak akan mampu untuk memuaskan kekosongan hidup manusia. Manusia sendiri pada naturnya adalah makhluk-makhluk penyembah, dan pastilah mereka menjunjung tinggi satu pribadi yang mereka percaya mempunyai kuasa ilahi. Penyembahan yang benar, kepada Allah yang benar, tidak menuntut kita yang percaya untuk benar-benar menemukan pengertian yang benar akan pribadi Allah tersebut; yang kita butuhkan hanyalah memberikan respon yang natural, tidak palsu, kepada Allah yang benar itu.

Di dalam teologi, pengetahuan akan Allah bukanlah sekedar pengetahuan secara kognitif, tetapi juga pengetahuan secara personal. Pengetahuan akan Allah dan kenikmatan akan hadirat-Nya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bagaimana kita bisa dengan sungguh menikmati Tuhan ketika kita tidak mengenal-Nya? Namun, dalam keterbatasannya, manusia seringkali merasa bahwa mereka benar-benar sudah mengerti siapakah pribadi Allah yang benar itu. Dengan pengetahuan setinggi apapun, manusia tidak akan bisa mengenal Allah yang tidak terbatas itu dengan sempurna. Allah menyatakan diri-Nya melalui diri-Nya sendiri; tidak ada keterlibatan manusia di dalamnya.

Berjalan bersama Allah adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal pribadi-Nya. Perjalanan spiritual yang sejati sudah seharusnya menjadi bagian orang percaya di dalam pengenalannya akan Allah. Pengenalan akan Allah hanya datang dari Allah sendiri, bukan dari usaha manusia. Hanya karena anugerah Allah, manusia dapat mengenal pribadi Allah.

Teologi pun tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari. Teologi yang sejati adalah teologi yang dihidupi di dalam kehidupan setiap orang percaya. Memisahkan teologi dan kehidupan sama saja dengan melewatkan sebuah keindahan dan kebenaran yang sejati dari keduanya. Berhati-hatilah ketika kita mulai terobsesi mempelajari teologi seperti menyelesaikan teka-teki! Teologi bukanlah suatu kesombongan yang timbul ketika kita berhasil mengerti akan Allah. Lebih daripada itu, teologi yang sejati adalah ketika kita mampu merespon akan pernyataan kehadiran Allah dengan peka dan rendah hati.

Akhir kata, dari buku A Little Book For New Theologians ini, satu kalimat yang dapat menyimpulkan isi buku ini, dan juga yang menjadi refleksi pribadi saya adalah: Teologi dan kehidupan adalah dua hal yang sangat tidak dapat dipisahkan. Saya akan sangat merekomendasikan buku ini kepada gereja asal saya, khususnya bagi hamba Tuhan, majelis, aktivis komisi maupun jemaat yang mau berteologi. Selamat berteologi.

Komentar

Postingan Populer