Love is connected


Jakarta, 20 Mei 2013


Di pagi hari yang cerah, sehabis hujan semalam


Saya bersyukur pagi hari ini bisa bangun dengan tubuh yang sehat dan kekuatan yang baru dari Tuhan untuk menjalani hari Senin di minggu ke-3 di bulan Mei 2013 ini. Baru semalam, Jakarta (dan mungkin Bodetabek) kembali dilanda banjir, meskipun tidak separah banjir di awal tahun ini. Namun, peristiwa banjir cukup membuat saya was-was, dan terkadang tidak bisa tidur, karena serangannya tidak terduga dan mengingat sebagian besar tanah di Jakarta sudah berada di bawah permukaan laut, maka air banjir akan naik dengan sangat cepat, tidak seperti biasanya lagi. Tetapi, yang mau saya bagikan kali ini bukan soal banjir dan banjir lagi.

Di tahun 2002, Jakarta juga sempat mengalami banjir yang cukup hebat. Saya masih berstatus siswa SMP waktu itu, bersama dengan adik saya yang masih SD, daerah tempat tinggal kami sekeluarga terendam cukup parah, walaupun tidak sampai atap rumah dan menghanyutkan rumah. Saya lupa persisnya hari ke berapa, namun yang saya ingat benar, orang tua saya mengungsikan saya beserta adik saya terlebih dahulu, sebelum mereka akhirnya ikut mengungsi juga. Satu peristiwa yang cukup melekat di ingatan saya adalah ketika mengungsi, orang tua saya tidak segan-segan untuk menggendong kedua anaknya, yang notabene sudah berusia remaja (atau menjelang remaja), dengan bobot yang saya kira tidak ringan. Mungkin hanya sedikit di bawah berat ibu saya. Demi supaya anak-anaknya tidak tercemar air banjir yang kotor, yang bisa saja menyebabkan sakit-penyakit, ayah dan ibu saya merelakan diri mereka untuk memanggul kedua anaknya yang cukup berat.

Di saat banjir semalam, saya mengantarkan calon pasangan saya ke rumahnya, dan berhubung jalan menuju rumahnya ditutupi banjir yang cukup dalam, saya memutuskan untuk menggendong dia sampai ke tempat di mana ketinggian air tidak terlalu dalam. Setelah saya mengantarnya sampai rumah dan saya kembali menuju mobil (karena mobil saya diparkirkan di jalan raya yang tidak terkena banjir), mengejutkan sekali Tuhan Yesus mengajarkan saya tentang 1 hal yang tidak akan pernah musnah di dunia ini: KASIH. Ya, memang saya dan kita semua sudah terlalu sering mendengar tentang kasih, tapi malam kemarin saya tidak dapat melupakan bagaimana Tuhan sekali lagi mengingatkan saya tentang kasih yang sejati. Ketika saya, dengan tanpa alas kaki berjalan menggendong calon pasangan saya, memori mengenai orang tua saya menggendong saya saat banjir 11 tahun yang lalu itu terputar bagaikan video di pikiran saya. Betapa mereka mengasihi anak-anaknya, sampai rela menggendong melewati air banjir yang penuh kuman, bakteri, dan mungkin virus. Terlebih dari itu, saya kembali teringat betapa Tuhan kita Yesus Kristus rela untuk menempuh jalan salib, demi menggenapi akan rancangan keselamatan dari Allah Bapa. Kerikil, pasir, dan bebatuan yang terinjak kaki saya, tidak seberapa dibandingkan dengan kaki Kristus yang berdarah-darah menapaki Yerusalem, menuju ke Bukit Golgota. Saya hanya menggendong seorang wanita yang beratnya kurang lebih 60% berat badan saya. Sedangkan Tuhan Yesus? Secara fisik, Ia memanggul kayu salib yang beratnya berkali-kali lipat berat badan-Nya. Secara batiniah, Ia membopong semua dosa-dosa umat manusia, termasuk saya dan Anda. Bayangkan betapa beratnya penderitaan Kristus saat itu! Tetapi, Ia mau menanggung semuanya itu, karena kasih-Nya bagi kita semua, tanpa terkecuali. Ya, SEMUA UMAT MANUSIA ada di kedua bahu-Nya, beserta dengan segala dosa-dosa masing-masing pribadi manusia, baik yang dulu maupun yang sekarang dan yang akan datang.

Sedikit mengutip dari Bapak Philip Yancey (dan digabungkan dengan bahasa saya): Pengalaman rohani kita bersama Kristus tidak pernah terjadi karena kehendak kita, dalam artian percuma saja kita meminta-minta bahkan berdoa agar kita mengalami Kristus di dalam kehidupan kita. Tetapi, yang perlu kita ingat adalah: "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (Roma 11:33). Ya, pekerjaan Allah kita melalui Yesus Kristus, dengan bimbingan Roh Kudus tidak pernah terpikirkan oleh manusia. Di saat kita tidak meminta dan merendahkan diri di hadapan-Nya, di saat itulah kita akan menerima dan mengalami akan kehadiran-Nya dan bisikan-Nya yang indah dan lembut.


Semoga setiap kita boleh terus mengalami kehadiran dan karya Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Soli Deo Gloria!



Coram Deo.

Misael Prawira.



I Love You (by: UX Band)

I could never realized, how big Your love is for me
No matter how hard I try, Your love will always be greater

I love You, I love You, Jesus
'Cause You are the love of my life
I love You, I love You, Jesus
For making my heart, for making my life complete

Your love is so high, so wide, so deep
Your love is for me

Komentar

Postingan Populer