Mendalami makna Kasih Karunia
Lembang, 14 April 2013,
Di tengah rintik hujan di sore menjelang malam hari.
Saya bersyukur Tuhan memberikan kesempatan 2 hari 1 malam untuk saya mempunyai waktu istirahat bersama Tuhan. Setelah mandi sore, saya langsung menyiapkan diri, memuji Tuhan, berdoa, kemudian langsung memulai waktu istirahat bersama Tuhan. Sangat terasa berbeda sekali jika saya melakukan AWG di rumah dengan di rumah doa. Baru kali ini saya bisa memulai saat-saat teduh bersama Tuhan dengan bahan, Alkitab, dan jurnal sekaligus, plus waktu yang super private bersama Tuhan.
Saya mengambil bahan dari buku Companions in Christ, dengan judul The Flow and the Means of Grace. Saya sangat berharap melalui bahan ini, saya lebih dibukakan lagi akan makna anugerah Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus bagi kehidupan saya.
Hidup seorang Kristen akan menjadi berarti hanya karena campur tangan anugerah Allah. Martin Luther pun berkata bahwa anugerah Allah tidak diberikan sebagian-sebagian. Namun, anugerah Allah membawa kita seutuhnya ke hadirat-Nya, melalui Tuhan Yesus Kristus sang perantara kita, sehingga Roh Kudus dapat bekerja di dalam diri kita. Dari sini kita bisa melihat bahwa anugerah Allah melibatkan semua Pribadi Allah. Suatu karya yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya! Efesus 1:4 bahkan menyatakan bahwa anugerah Allah sudah tercurah bagi semua anak-anak-Nya sejak kekekalan (sebelum alam semesta dijadikan). Anugerah itu adalah hadiah yang terus-menerus diberikan bagi kita secara utuh, sampai-sampai kita tidak bisa menghentikannya, mengubahnya, atau pun mengarahkannya ke orang lain atau hal lain. Di dalam kekekalan, kita dilingkupi oleh anugerah Allah yang tiada batasnya. Inisiatif akan anugerah ini datang langsung dari Allah, dan respon selanjutnya adalah bergantung pada diri kita masing-masing. Apakah kita akan menerima, atau menolak anugerah tersebut? Hal yang pasti adalah ketika kita memilih untuk membuka diri kita untuk menerima anugerah itu, sama artinya dengan kita menerima hadiah terbesar di dalam hidup kita dan kita masuk di dalam perjalanan rohani yang indah bersama Allah.
Natur dari anugerah Allah itu adalah: kasih dan pengampunan yang tiada bersyarat. Melalui salib Kristus, kita menerima anugerah secara penuh (grace in all its fullness). Anugerah Allah turun melingkupi kita tanpa kita sadari, dan ketika dengan sadar kita menerima anugerah tersebut, kita mengalami pembenaran oleh anugerah. Pada titik ini, Roh Kudus membantu kita untuk sadar bahwa hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, tetapi milik Kristus. Hidup yang dibenarkan itu bukan sesuatu yang kita dapat, tetapi semata-mata adalah pemberian Allah. Semakin kita memaknai akan hidup benar, maka hidup kita semakin hari semakin dikuduskan dan menghasilkan buah-buah Roh yang terlihat nyata dalam kehidupan kita di mata dunia. Secara ringkas, tahapan ini dapat disebutkan sebagai berikut: prevenient / preceeding grace --> justifying grace --> sanctifying grace. John Wesley menyatakan bahwa buah dari anugerah pembenaran adalah hidup kekal di dalam Yesus Kristus, dan buah dari anugerah pengudusan adalah pertumbuhan rohani dalam kekudusan dan kasih yang semakin disempurnakan.
Anugerah Allah dapat kita temui melalui berbagai cara, misalnya melalui ibadah, doa, perjamuan kudus, baptisan, ketika kita berpuasa, membaca Alkitab, di dalam KTB, dan lainnya. Hal yang terpenting adalah ketika momen anugerah itu hadir (di dalam situasi apapun, entah ketika kita beribadah, berdoa, saat teduh, dan lainnya), sadarilah dan segera respon anugerah itu.
Momen anugerah pertama terjadi dalam kehidupan saya ketika masa SMA saya, di retreat Komisi Remaja 2 GKY Green Ville. Di saat itu, anugerah Allah menyentuh dan menyadarkan diri saya dengan lembut, di mana akhirnya saya merespon untuk memulai hidup baru bersama Kristus. Hidup yang mempunyai arti dan tujuan. Hidup yang mau diarahkan oleh Tuhan Yesus. Baik ketika saya sekolah, pelayanan, bergaul, semua yang saya lakukan mempunyai tujuan, yaitu untuk memuliakan nama Tuhan. Saat itu akhirnya saya merasakan tangan Tuhan yang tak pernah bosan terulur bagi saya. Tangan yang menyambut saya kembali ke pelukan-Nya. Sejak saat itu, beberapa kali saya sungguh merasa dekapan tangan Tuhan yang setia menemani saya, terutama di saat-saat ketika saya merasa saya benar-benar terpuruk dan sendirian, sampai-sampai tidak ada satu manusia pun yang sanggup untuk menolong dan menguatkan saya.
Menerima anugerah Allah di dalam kasih setia Tuhan Yesus Kristus tidak serta merta membuat hidup saya menjadi anugerah bagi orang lain. Saya seringkali menjadi orang yang pelit beranugerah. Misalnya saja, ketika orang lain bersalah kepada saya, anugerah Allah seakan-akan tidak ada sama sekali di dalam diri saya, sehingga saya cenderung untuk menghakimi orang tersebut. Jika saya meneruskan hidup seperti ini, apa bedanya saya dengan si anak sulung di dalam 'perumpamaan anak yang hilang' (Lukas 15:11-32)? Sampai saat ini, saya terus belajar untuk be hard on myself ans be gracious to others. Ungkapan yang sampai sekarang selalu melekat dalam benak pikiran saya dan menjadi bahan pembelajaran rohani saya.
Momen anugerah Allah tidak hanya terjadi 1 atau 2 kali saja, tetapi berkali-kali saya mengalami dan menerima akan anugerah Allah yang tiada habisnya mengalir di dalam kehidupan saya. Seringkali saya mengalami akan momen anugerah tersebut ketika saya melayani sebagai pemusik. Banyak waktu ketika saya bermain musik, saat saya memainkan pujian atau pun setelah saya melayani, saya tersadar bahwa saya tidak sendiri ketika saya bermain piano, bass, keyboard, atau pun drum. Awalnya memang anugerah Allah di dalam kehadiran Yesus Kristus di dalam pelayanan saya itu hadir dalam ketidaktahuan saya (seperti yang sudah disebutkan sebelumnya). Namun, ketika akhirnya saya sadar akan momen anugerah itu, saya sangat terharu dan bersyukur, dan momen anugerah ini juga yang membawa saya untuk menjawab panggilan Tuhan untuk melayani-Nya sepenuh waktu. Saat menjawab panggilan Tuhan tersebut, saya sungguh merasa diri saya tidak ada apa-apanya. Semua keberhasilan dan talenta yang saya punya, semuanya itu hanya karena anugerah Tuhan, dan saat itu Tuhan berkata:"Mari anak-Ku, layanilah Aku sepenuh waktu dengan semua talentamu. Seluruh keberadaan dirimu adalah milik-Ku, dan sudah sepatutnya kau kembalikan hanya untuk memuliakan nama-Ku sampai akhir hidupmu".
Saya selalu bersyukur akan momen demi momen perjumpaan saya dengan anugerah dan hadirat Tuhan. Saya rindu untuk terus mengalaminya dan semoga kita semua juga mempunyai kerinduan yang sama.
Soli Deo gloria!
Almost 25 years of my life spent with knowing that "I am something!", yet right after that Jesus have turned my life, becoming "nothing". All that I have, all things that I am proud of and I hold most dear, He took it all, not because He wanted to put me down. He has done it all, just because He loves me, and so that I can declare to all the universe, that "Jesus is my everything". - Misael Prawira.
Di tengah rintik hujan di sore menjelang malam hari.

Komentar
Posting Komentar