Pikiran yang rendah hati

Holla bloggers and blog-readers! Lama juga saya tidak nulis-menulis.. Tanpa basa-basi, saya ingin langsung menuangkan buah pemikiran saya selama 3 hari ini.. :)

Mungkin untuk sebagian orang, judul blog saya agak membingungkan.. Pikiran yang rendah hati.. Beberapa orang mungkin akan bertanya: "Bukannya kata hati yang seharusnya dikaitkan dengan sifat rendah hati? Kok malah pikiran kita?"
Ya, saya cukup kesal sekaligus sedih, ketika mendapati bahwa warga-warga dunia (khususnya yang sering berinteraksi dengan saya) sekarang ini mempunyai wawasan berpikir yang "terlalu luas", alias pikirannya terlalu tinggi, alias lagi mereka seringkali menyombongkan pemikiran-pemikiran mereka.. Yang lebih bahayanya lagi, tidak hanya menyombongkan pikiran, namun juga terlalu cepat bereaksi dengan pemikiran atau pendapat atau perkataan atau perbuatan orang lain.. Mungkin dunia sekarang ini kurang kenal dengan peribahasa "talk less, think more".. Orang-orang sekarang ini terlalu sering untuk lupa berpikir, dan akhirnya dengan seenaknya mereka berbicara dan berbuat, seakan-akan hanya mereka sendiri yang hidup di dunia ini, tanpa menyadari status mereka sebagai makhluk sosial..

Tidak bisa dipungkiri, saya pun masih belajar untuk merendahkan tidak hanya pikiran dan hati, tetapi keseluruhan dari diri saya, seutuhnya dari diri saya.. Buah pemikiran ini tercetus saat saya mengikuti sebuah acara selama 2 hari untuk para hamba Tuhan, yaitu Pastors' Conference.. Di salah satu sesinya, yang berbicara mengenai gairah untuk melayani, saya tertegur dengan satu bagian Firman Tuhan, yang terambil dari 2 Korintus 5. Awalnya sang pembicaranya hanya mengambil 1 ayat, yaitu ayat ke-21. Namun, ketika saya sedikit membaca-baca keseluruhan dari pasal 5 tersebut, ide untuk posting saya kali ini timbul.. Hal lain juga yang men-trigger saya untuk menulis topik ini adalah satu kejadian yang dialami oleh beberapa pemuda di komunitas pemuda saya di gereja.. Tanpa bermaksud menyinggung beberapa pihak atau pun pribadi, jujur saya sangat concern dengan peristiwa yang terjadi ini, dan peristiwa ini sangat berkaitan kuat dengan pikiran yang rendah hati, terutama di kalangan generasi muda..

Disadari atau pun tidak, generasi muda sekarang benar-benar "muda dan berbahaya".. Anak-anak SD saja sudah bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan tingkat dewasa, ditambah dengan keingintahuan mereka yang luar biasa hebatnya, plus daya imajinasi mereka yang "indahnya bukan main"!
Saya sebagai bagian dari generasi muda masa sekarang, saya sangat bangga sekaligus prihatin dengan apa yang terjadi, dan kabar buruknya adalah generasi muda Kristen mengalami hal yang sama dengan generasi muda dunia! Di manakah posisi Firman Tuhan bagi anak-anak muda Kristen? Sadarkah kita bahwa kita perlu anugrah dan kemurahan Tuhan? Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa saya memakai kata "kita". Ya, karena sekali lagi, saya pun adalah bagian dari generasi muda masa kini, yang dalam keadaan yang sangat rentan dan gawat. Jika Firman Tuhan tidak lagi menjadi landasan bagi anak-anak muda untuk berpikir dan berbuat serta berkata-kata, mau jadi apa masa depan dunia ini???

Jika kita coba merujuk ke Firman Tuhan dari 2 Korintus pasal ke-4 (akhir pasal ke-4) sampai awal dari pasal ke-6, kita bisa melihat bagaimana Paulus menjabarkan kehidupan anak-anak Tuhan yang sudah diubahkan, dari manusia yang lama menjadi manusia baru, khususnya pada bagian tersebut berbicara mengenai pelayanan hamba-hamba Tuhan.. Saya akan lebih memfokuskan topik ini ke 2 Korintus 5:11-21.

Ketika kita sudah ditebus oleh Salib Kristus, otomatis dan idealnya kita akan merasakan kasihNya yang luar biasa besar, tinggi, dan dalam, melebihi kasih apapun dan perasaan dan hal apapun di dunia ini.. Bahkan ketika kita jatuh lagi ke dalam dosa, kasihNya tak setitik pun berkurang terhadap kita. Ia adalah ALLAH YANG SETIA.. Dan ketika kita sudah mengalami akan kasih Kristus itu (ingat, jika kita sudah benar-benar mengalami kasih Kristus ya..), maka:

1. Kita akan hidup sesuai dengan standar anak-anak Tuhan, bukan anak-anak dunia. Kita sudah ditebus dengan darah Kristus, dan kasihNya itu tidak pernah berubah, dari kekekalan sampai kekekalan, dan ketika kita sudah benar-benar merasakan akan kasihNya yang indah dan mulia itu, sudah sepatutnya kita bersyukur dan mendedikasikan hidup ini untuk kemuliaanNya. Tantangan dosa pasti akan terus ada, selama kita hidup di dunia dan kita dilahirkan dengan natur manusia berdosa. Namun, yang menjadi perbedaan adalah kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus dan menjadi ciptaan yang baru. Kita akan merasa asing dengan yang namanya dosa, kita akan lebih mengasihi Tuhan dibandingkan dengan dunia ini.

2. Kita akan menilai seseorang / sesuatu menurut ukuran Kristus. Hal ini berkaitan dengan poin saya sebelumnya, yaitu standar anak-anak Tuhan berbeda dengan anak-anak dunia. Demikian halnya juga ketika kita menilai seseorang atau sesuatu. Sudah sepatutnya kita memakai kacamata Tuhan, bukan kacamata dunia. Mungkin untuk sebagian orang, bahkan untuk sebagian anak-anak Tuhan, hal ini terlihat terlaluuu idealis sekali dan sepertinya cukup sulit diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, pertanyaan berikutnya yang akan muncul adalah: "Apakah Anda sudah benar-benar mengasihi Allah?" :) Ketika kita sudah benar-benar mengasihi Allah, bukan berarti kita tidak mengasihi dunia, dalam artian kita benar-benar cuek dengan dunia. Kita mengasihi dunia dengan kasih Allah, bukan kasih manusia. Itu yang kita belajar untuk lakukan :)

Kembali ke concern saya terhadap generasi muda saat ini, fokus concern saya lebih kepada poin ke-2, yaitu mengenai masalah penilaian. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, generasi muda sekarang cenderung "think less, talk more", bahkan kalau bisa saya tambahkan: "think less, talk more, do whatever my heart and mind wants to do, and have fun!". Benar-benar mengerikan! Ketika mendengar akan perkataan seseorang, atau ketika melihat tingkah laku seseorang, kita akan cenderung LANGSUNG menilai. Kita akan cenderung menilai dengan polos, tanpa mengetahui latar belakang perkataan atau perbuatan dari orang tersebut. Seburuk apapun perkataan atau perilaku dari orang lain, ada baiknya kita mengetahui latar belakang daripada hal tersebut. Jika memang pada akhirnya kita tidak mendapatkan latar belakangnya, sudah sepatutnya kita bersikap netral. Kalaupun kita mau menilai, sekali lagi pakailah kacamata Kristus. Tuhan kita adalah Tuhan yang ADIL DAN KASIH, bukan adil tanpa kasih, atau kasih tanpa adil :)
Dan ketika kita mungkin mengalami kekecewaan dengan orang lain, sebagai anak Tuhan, ingatlah akan nasihat Paulus: "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." (2 Korintus 4:16). Begitu juga halnya ketika kita sebagai anak-anak Tuhan, terlibat dalam pelayanan.

Pelayanan sudah sepatutnya menjadi bentuk dari rasa syukur kita kepada Tuhan Yesus, karena kita sudah ditebus dan dibaharui. Pelayanan yang murni didasari oleh rasa syukur akan kontras dengan pelayanan yang didasari oleh motivasi pribadi. Ketika terjadi gesekan, baik sedikit maupun banyak, ada baiknya pelayanan kita tetaplah pelayanan yang ditujukan kepada Tuhan sebagai ungkapan rasa syukur kita. Ya, seringkali terasa sulit ketika kita melayani dengan hati yang terluka, atau dengan tetap harus berinteraksi dengan orang yang tidak kita suka atau yang telah mengecewakan kita, atau yang pernah kita kecewakan.
Saudara, ingatlah kembali akan inspirasi Paulus kepada jemaat Korintus, yang berkata:

"Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran., dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji' ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu." (2 Korintus 6:3-10)

Jika kita melihat dari dari akhir pasal ke-4 sampai awal pasal ke-6 dari 2 Korintus ini, akan terpampang bahwa kesulitan, gesekan, pertengkaran, atau apa pun yang terjadi dalam pelayanan, jangan sampai melepaskan kita dari kasih Kristus, yang memimpin kita menuju kepada pelayanan untuk kemuliaanNya :)
Akhir pasal ke-4 dan awal pasal ke-6 menjadi penguat bagi pasal ke-5, di mana kita semua sebagai pelayan Tuhan (tidak hanya hamba-hamba Tuhan dan pendeta-pendeta saja) untuk tidak tawar hati dan jangan menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan kita. Apa yang kita alami dalam kehidupan pribadi dan pelayanan kita, belum seberapa dibandingkan dengan pengorbanan Kristus.

Saya sangat berharap, Anda semua mau belajar bersama-sama dengan saya, untuk benar-benar mempunyai hati dan pikiran yang rendah hati, yang mau dibentuk oleh Sang Pencipta yang agung, yang sangat mengasihi kita, dari kekekalan sampai kepada kekekalan. Amin :)

With God we do our best!

- Misael Prawira
God's precious son and servant, mom and dad's fave

Komentar

Postingan Populer