Sudah sampai mana?
Jawab Yakub kepada Firaun: "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing." - Kejadian 47:9 (TB)
Pagi ini saya kembali diingatkan akan perkataan Yakub kepada Firaun di akhir hidup Yakub. Saya pun merenungkan perjalanan hidup saya--khususnya perjalanan rohani saya--bersama Tuhan, dan sebuah pertanyaan menggema di hati dan pikiran saya: "Sudah sampai mana perjalananku bersama Tuhan?" Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa perjalanan saya bersama Tuhan adalah perjalanan yang timpang alias berat sebelah. Saya lebih banyak jatuh dan Tuhan lebih banyak menopang saya. Rasanya kalau perjalanan hidup saya diibaratkan sebagai sebuah perlombaan lari, saya masih terseok-seok di dekat garis start. Namun, perjalanan yang kelihatannya sulit itu pada akhirnya tidaklah sesulit yang saya kira, karena Tuhan selalu setia mendampingi saya, bagaikan seorang pelatih, seorang gembala.
Saat ini saya sedang menjalani masa praktik pelayanan dua bulan. Ketika saya merasa ada hal-hal yang akan dan sedang menyulitkan, saya selalu teringat akan Tuhan, yang selalu berada di samping saya. Sebagai seorang pelatih, Tuhan terus mengingatkan saya untuk tetap berjuang sampai garis finish dari praktik pelayanan saya. Sebagai seorang gembala, Tuhan dengan sabar terus memperbaiki arah perjalanan saya, yang tadinya belok sana dan sini, agar kembali ke jalan yang sudah Tuhan tentukan bagi saya. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman rohani bersama Tuhan, khususnya yang saya dapatkan saat ini, di dalam praktik pelayanan dua bulan saya. Sesungguhnya, ini hanyalah secuplik kecil dari perjalanan saya bersama Tuhan; sebuah perjalanan yang menakjubkan bersama Sang Pelatih dan Sang Gembala hidup saya.
Sampai di mana perjalanan kehidupan saya? Sampai di sini Tuhan sudah memimpin dan Ia akan terus memimpin, sampai saya bertemu dengan-Nya, muka dengan muka.
Ya Tuhan, mampukan aku untuk setia di dalam perjalanan hidupku bersama-Mu, karena aku menanti-nantikan sebuah kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Amin.
Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya - Kejadian 48:15b-16a (TB).
Bandung, 17 Juni 2015
Misael Prawira.
Komentar
Posting Komentar